Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...

Kompas.com, 22 Oktober 2026, 17:00 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

MAHAKAM ULU, KOMPAS.com — Dahulu, pagi hari di kampung Long Pahangai I,  Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, senantiasa disambut pekikan uwa-uwa dan kepakan sayap burung enggang.

Namun, riuh suara alam perlahan surut sejak tahun 2020. Disinyalir, hilangnya suara fauna-fauna tersebut dipicu aktivitas perburuan liar.

‎"Yang tidak bisa kami bendung di sini, melarang membabat habis hewan-hewan ini. Saya sudah putar otak, saya sudah ngomong berkali-kali dengan kepolisian, gimana caranya. Bisa jadi kan ketika mereka diburu di sana, bukan di hutan sini, kan jalannya mereka tuh," ujar Kepala Adat di Kampung Long Pahangai I, Kecamatan Long Pahangai, Alauwing Lejeu, pada Minggu (18/10/2026).‎

Baca juga: Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...

‎Demi menjaga keberlangsungan fungsi hutan sekaligus memutar roda perekonomian lokal, Alauwing sebenarnya sudah mengajak masyarakat menanam pohon-pohon hutan berkayu keras (ulin dan meranti) yang berdampingan dengan tanaman komoditas (karet, rotan, kakao, gaharu, gamal).‎

‎Ia ingin memakai insentif dana karbon untuk menanam buah-buahan endemik di kawasan Lopou'un, yaitu hutan dari bekas pemukiman dan kebun tua peninggalan leluhur.

Tak sekedar mengundang berbagai satwa liar, penanaman tersebut juga dapat menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak cucu mereka. 

‎"Nah, pengelolaan ke depan itu sudah rencana kami sudah ada. Jadi, justru sebelum itu ada dana karbon, kan kami sudah menanam kayu tadi. Ini mau lanjut, tetapi mungkin dalam bentuk buah-buahan hutan. Itu, supaya jangan punah," tutur Alauwing.

‎Sebagai kawasan yang berhasil mempertahankan tutupan hutan, wilayah Long Pahangai masuk ke dalam skema insentif pengurangan emisi (dana karbon) dari Bank Dunia melalui program Forest Carbon Partnership Facility - Carbon Fund (FCPF-CF).

Dana karbon dari pengurangan emisi selama periode 1 Juli 2019 - 31 Desember 2020 disalurkan dua tahap.

Pada pembayaran tahap awal pada November 2022 lalu, dana karbon mulai disalurkan masyarakat, termasuk ke Kecamatan Long Pahangai, dengan angka sekitar Rp378 juta. Untuk pembayaran tahap terakhir pada 22 Desember 2025 lalu, yang mana akan disalurkan lagi ke masyarakat.

‎Namun, pencairan tahap awal masih menyisakan kebingungan bagi masyarakat adat di Kampung Long Pahangai I. Alauwing mengaku belum mengetahui pemanfaatan insentif sebesar Rp378 juta per kampung tersebut. 

Baca juga: Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon

‎"Nah, jadi dana karbon itu kami enggak tau apa-apa. Ya, pokoknya enggak diomongi. Rencananya, kalau dana karbon datang, ya kami rapat bersama. Sudah itu ya rencana kita untuk apa. Ya, setelah uangnya datang ya sudah, diam semua. Enggak ada lagi. Padahal, saya ini sudah duluan dapat juklaknya itu yang agak susah," ucapnya.

‎Pengelolaan dana karbon tahap awal 

‎

‎Pengelolaan dana karbon tahap awal di Kampung Long Pahangai I menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, mulai dari alotnya proses perencanaan, ketatnya regulasi penggunaan dana, sampai jadwal pencairan yang terdesak di penghujung tahun anggaran.

‎Dalam proses penyusunan Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP), pemerintah kampung dan masyarakat sempat menghadapi kendala terkait batasan aturan alokasi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau