KOMPAS.com - Persentase pemilik aset yang memasukkan unsur keberlanjutan ke dalam strategi investasi mereka telah meningkat dari 73 persen pada tahun 2025 menjadi 84 persen pada tahun 2026.
Menurut edisi terbaru survei pemilik aset dari London Stock Exchange Group (LSEG) yang dirilis bulan lalu, 15 persen sisanya saat ini sedang mempertimbangkan untuk menerapkannya.
Melansir ESG Dive, Selasa (20/10/2026) lebih dari separuh (51 persen) pemilik aset yang disurvei kini memperhitungkan faktor keberlanjutan pada lebih dari 50 persen aset mereka, naik dari 26 persen pada tahun lalu.
Sebanyak 11 persen pemilik aset bahkan menyatakan bahwa mereka mengelola 100 persen portofolio mereka dengan cara ini, meningkat dari 0 persen dalam survei tahun lalu.
Sementara itu sebanyak 85 persen pemilik aset yang disurvei memperkirakan akan meningkatkan pertimbangan faktor keberlanjutan dalam investasi mereka, atau memperluas penggunaan produk investasi berkelanjutan, dalam satu hingga tiga tahun ke depan. Tidak ada satupun responden yang menyatakan berencana mengurangi porsi pertimbangan faktor keberlanjutan.
Baca juga: AI dan Transisi Energi Buka Peluang Investasi, Indonesia Perlu Siapkan Talenta
Investasi berkelanjutan sempat diminati pada tahun 2021 dan 2022, namun keterlibatannya kemudian menurun dari 86 persen pada tahun 2022 menjadi 74 persen di tahun 2023, dan turun lagi menjadi 71 persen pada tahun 2024, menurut laporan LSEG.
Lee Clements, Kepala Riset Investasi Berkelanjutan Terapan di FTSE Russell yang merupakan penyedia indeks global milik LSEG, mengatakan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh gejolak geopolitik serta revisi pada regulasi investasi dan pengungkapan keberlanjutan.
Namun, dari hasil survei tahun ini, investasi berkelanjutan tampaknya telah bangkit kembali. Keberlanjutan kini menjadi bagian yang lebih luas dari proses investasi arus utama, seperti pengaruhnya terhadap risiko dan keuntungan.
Sebanyak 47 persen responden tahun ini mengatakan bahwa mereka mengejar investasi berkelanjutan untuk meningkatkan imbal hasil portofolio, naik dari 41 persen pada tahun 2025. Sementara itu, kekhawatiran terhadap kinerja keuangan turun dari 27 persen tahun lalu menjadi 19 persen pada tahun ini.
LSEG menyurvei 402 pemilik aset di 24 negara, yang tersebar di Amerika Utara (30 persen), kawasan Asia Pasifik (30 persen), serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (40 persen).
Responden merupakan para pejabat senior di bidang keberlanjutan, investasi, atau tim manajemen dari dana pensiun, perusahaan asuransi, dana kekayaan negara atau pemerintah, serta yayasan atau dana abadi. Mereka mengelola aset senilai 100 miliar dolar AS atau lebih (22 persen), 1 miliar dolar AS hingga 100 miliar dolar AS (48 persen), atau kurang dari 1 miliar dolar AS (30 persen).
Baca juga: 82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Para investor juga melihat lebih banyak contoh nyata dari pertimbangan keberlanjutan seperti peristiwa gelombang panas ekstrem selama musim panas atau dampak krisis energi saat ini dalam mendorong transisi energi.
Berdasarkan survei tersebut, lebih dari separuh (52 persen) pemilik aset yang disurvei telah mempertimbangkan risiko iklim dalam cara mereka menyebarkan investasi di berbagai kelas aset, naik dari 36 persen pada tahun 2025.
Sebanyak 30 persen sedang berupaya melakukan divestasi dari aset-aset tinggi karbon, naik dari 21 persen pada tahun 2025, sementara 60 persen masih melanjutkan keterlibatan, turun dari 67 persen pada tahun sebelumnya.
Namun survei tersebut juga menemukan bahwa para pemilik aset sedang bergulat dengan risiko-risiko baru. Sebanyak 25 persen responden survei mengaku khawatir terhadap masalah kesehatan dan risiko yang berkaitan dengan layanan kesehatan, 24 persen mengkhawatirkan isu teknologi dan kecerdasan buatan (AI), dan 19 persen menyebutkan kekhawatiran terkait ketahanan pangan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya