Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?

Kompas.com, 21 Oktober 2026, 18:31 WIB
Monika Novena,
Andika Aditia

Tim Redaksi

Sumber Phys

KOMPAS.com - Para ilmuwan semakin sepakat bahwa berbagai jenis hewan berukuran besar seperti gajah, bison, harimau, dan paus dapat mengubah cara karbon disimpan dan didaur ulang di dalam ekosistem secara mendasar.

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan penting: apakah memulihkan populasi hewan besar dapat membantu kita mengatasi krisis iklim?

Namun melansir Phys, Selasa (20/10/2026) menurut penelitian yang dipimpin bersama oleh Andrew Abraham, seorang peneliti di Northern Arizona University, mengungkapkan jawabannya jauh dari kata sederhana.

Para peneliti menemukan, meskipun hewan besar memegang peran penting dalam keseimbangan karbon ekosistem, dampaknya sangat beragam di setiap jenis hewan dan lingkungan.

Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia

Selain itu, dampak karbon dan jangka waktu pemulihan mereka umumnya berjalan terlalu lambat untuk membantu mencapai target iklim mendesak pada pertengahan abad ini, seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Tim peneliti, yang mencakup para ahli mengenai peran hewan terhadap karbon di ekosistem darat maupun laut, merangkum data selama puluhan tahun tentang gajah dan paus besar.

Mereka menemukan, meskipun hewan memengaruhi penyimpanan karbon di ekosistem melalui berbagai jalur yang rumit seperti gajah yang merobohkan pohon atau paus yang mendaur ulang nutrisi efek bersihnya bergantung pada situasi tertentu dan sulit disamaratakan.

Dalam beberapa kasus, hewan dapat meningkatkan penyimpanan karbon, sementara pada kasus lain, keberadaan mereka justru memicu pelepasan karbon.

Namun, bahkan dalam skenario paling optimis sekalipun, potensi penyerapan karbon oleh hewan-hewan ini sangat kecil jika dibandingkan dengan skala emisi bahan bakar fosil global saat ini.

"Pemulihan satwa liar harus tetap dimulai sekarang," ujar Abraham.

"Populasi hewan besar butuh waktu untuk pulih, dan ada banyak manfaat tambahan bagi ekosistem dan manusia di luar masalah karbon. Meskipun memprediksi hasil akhir karbon dari hewan saat ini masih sulit, program pemantauan yang cermat dapat membantu mengungkapkan apakah hewan dapat memainkan peran penting dalam pemulihan iklim jangka panjang, asalkan emisi karbon manusia dikurangi secara drastis," katanya lagi.

Para penulis menekankan, melindungi populasi satwa liar yang ada tetap sangat penting, sekaligus menyoroti sebuah perbedaan utama bahwa membangun kembali populasi hewan dan menimbun karbon dalam ekosistem dapat memakan waktu berabad-abad atau lebih, sementara kepunahan satwa liar beserta hilangnya karbon yang menyertainya dapat terjadi jauh lebih cepat.

Akibatnya, meskipun mekanisme pasti antara hewan dan karbon belum sepenuhnya dipahami untuk semua jenis hewan dan ekosistem, adalah bijaksana untuk mencegah terjadinya pelepasan karbon tambahan dengan cara melestarikan populasi satwa liar yang sudah ada.

Baca juga: Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda

"Dana karbon dan iklim sedang mencari proyek-proyek menarik untuk diinvestasikan, dan sedikit hal yang lebih menarik daripada konservasi atau pemulihan alam (rewilding) dengan satwa liar besar sekaligus 'menyelamatkan' iklim," ujar Yadvinder Malhi, seorang profesor ilmu ekosistem di University of Oxford.

"Bukti ilmiah mengenai manfaat iklim dari satwa liar ini, jika pun ada, masih sangat lemah. Hal ini memicu bahaya nyata terjadinya penolakan balik jika proyek-proyek ini gagal memberikan manfaat iklim yang dijanjikan melalui pembiayaan karbon, meskipun proyek tersebut mendatangkan manfaat bagi keanekaragaman hayati dan sosial," terangnya lagi.

Perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi, dan kita harus realistis tentang apa yang dapat memberikan solusi nyata.

"Memulihkan hewan-hewan ini adalah investasi untuk ekosistem yang lebih sehat dan planet yang lebih tangguh. Upaya ini harus melengkapi, bukan mengalihkan perhatian dari, kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca saat ini," ujar pakar ekologi Ethan Duvall, direktur Amazon Research & Conservation Collaborative sekaligus pemimpin bersama dalam penelitian tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau