KOMPAS.com - Para ilmuwan semakin sepakat bahwa berbagai jenis hewan berukuran besar seperti gajah, bison, harimau, dan paus dapat mengubah cara karbon disimpan dan didaur ulang di dalam ekosistem secara mendasar.
Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan penting: apakah memulihkan populasi hewan besar dapat membantu kita mengatasi krisis iklim?
Namun melansir Phys, Selasa (20/10/2026) menurut penelitian yang dipimpin bersama oleh Andrew Abraham, seorang peneliti di Northern Arizona University, mengungkapkan jawabannya jauh dari kata sederhana.
Para peneliti menemukan, meskipun hewan besar memegang peran penting dalam keseimbangan karbon ekosistem, dampaknya sangat beragam di setiap jenis hewan dan lingkungan.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
Selain itu, dampak karbon dan jangka waktu pemulihan mereka umumnya berjalan terlalu lambat untuk membantu mencapai target iklim mendesak pada pertengahan abad ini, seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Tim peneliti, yang mencakup para ahli mengenai peran hewan terhadap karbon di ekosistem darat maupun laut, merangkum data selama puluhan tahun tentang gajah dan paus besar.
Mereka menemukan, meskipun hewan memengaruhi penyimpanan karbon di ekosistem melalui berbagai jalur yang rumit seperti gajah yang merobohkan pohon atau paus yang mendaur ulang nutrisi efek bersihnya bergantung pada situasi tertentu dan sulit disamaratakan.
Dalam beberapa kasus, hewan dapat meningkatkan penyimpanan karbon, sementara pada kasus lain, keberadaan mereka justru memicu pelepasan karbon.
Namun, bahkan dalam skenario paling optimis sekalipun, potensi penyerapan karbon oleh hewan-hewan ini sangat kecil jika dibandingkan dengan skala emisi bahan bakar fosil global saat ini.
"Pemulihan satwa liar harus tetap dimulai sekarang," ujar Abraham.
"Populasi hewan besar butuh waktu untuk pulih, dan ada banyak manfaat tambahan bagi ekosistem dan manusia di luar masalah karbon. Meskipun memprediksi hasil akhir karbon dari hewan saat ini masih sulit, program pemantauan yang cermat dapat membantu mengungkapkan apakah hewan dapat memainkan peran penting dalam pemulihan iklim jangka panjang, asalkan emisi karbon manusia dikurangi secara drastis," katanya lagi.
Para penulis menekankan, melindungi populasi satwa liar yang ada tetap sangat penting, sekaligus menyoroti sebuah perbedaan utama bahwa membangun kembali populasi hewan dan menimbun karbon dalam ekosistem dapat memakan waktu berabad-abad atau lebih, sementara kepunahan satwa liar beserta hilangnya karbon yang menyertainya dapat terjadi jauh lebih cepat.
Akibatnya, meskipun mekanisme pasti antara hewan dan karbon belum sepenuhnya dipahami untuk semua jenis hewan dan ekosistem, adalah bijaksana untuk mencegah terjadinya pelepasan karbon tambahan dengan cara melestarikan populasi satwa liar yang sudah ada.
Baca juga: Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
"Dana karbon dan iklim sedang mencari proyek-proyek menarik untuk diinvestasikan, dan sedikit hal yang lebih menarik daripada konservasi atau pemulihan alam (rewilding) dengan satwa liar besar sekaligus 'menyelamatkan' iklim," ujar Yadvinder Malhi, seorang profesor ilmu ekosistem di University of Oxford.
"Bukti ilmiah mengenai manfaat iklim dari satwa liar ini, jika pun ada, masih sangat lemah. Hal ini memicu bahaya nyata terjadinya penolakan balik jika proyek-proyek ini gagal memberikan manfaat iklim yang dijanjikan melalui pembiayaan karbon, meskipun proyek tersebut mendatangkan manfaat bagi keanekaragaman hayati dan sosial," terangnya lagi.
Perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi, dan kita harus realistis tentang apa yang dapat memberikan solusi nyata.
"Memulihkan hewan-hewan ini adalah investasi untuk ekosistem yang lebih sehat dan planet yang lebih tangguh. Upaya ini harus melengkapi, bukan mengalihkan perhatian dari, kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca saat ini," ujar pakar ekologi Ethan Duvall, direktur Amazon Research & Conservation Collaborative sekaligus pemimpin bersama dalam penelitian tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya