Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik

Kompas.com, 24 Oktober 2026, 14:46 WIB
Manda Firmansyah,
Andika Aditia

Tim Redaksi

‎KALIMANTAN TIMUR, KOMPAS.com - Anjat atau tas tradisional berbentuk tabung yang terbuat dari anyaman gulungan plastik biru tampak mencolok di rumah kayu Masrah (65 tahun) di Kampung Long Pahangai I, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu.

Anjat plastik biru yang hampir rampung itu membaur di antara tampah dari bambu, serta lanjung dan tikar berbahan rotan.

‎"Sebetulnya enggak boleh yang namanya budaya kita. Ya, tetep budaya kan mentok-mentok atas permintaan orang yang ingin cepat memakai itu (anjat), dia yang membeli bahannya. Kalau saya sih (sebenarnya) sedikit keberatan. Karena kita mengubah yang budaya kita kan, mengambil yang lain gitu," ujar Masrah membahas kompromi yang tak pernah dibayangkan saat pertama kali belajar menganyam dari ibunya puluhan tahun silam, Minggu (18/10/2026).

‎Sang pemesan anjat membeli satu gulungan plastik biru di Kota Samarinda dengan harga Rp100.000, yang mana bisa untuk membuat empat kerajinan anyaman. Sebagai perbandingan, harga rotan untuk bahan baku tikar minimal Rp700.000.

‎Di balik keputusan menggarap anyaman dari gulungan plastik, Masrah mengaku sering merasa bersalah.

Apalagi, bahan baku utama berbagai anyaman tradisional yang menghidupi tradisi masyarakat adat Dayak sekarang semakin langka dan sulit dijangkau. Dulu, mencari rotan semudah melangkah ke belakang rumah atau menjelajahi hutan di sekitar kampung.

Baca juga: Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan

‎Kini, untuk memperoleh seikat rotan, Kampung Long Pahangai I harus menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan bisa berhari-hari menggunakan perahu menyusuri sungai.

‎Di usianya yang senja, tak mungkin bagi Masrah dan teman-temannya untuk menempuh perjalanan seberat itu.

Mereka terpaksa bergantung pada pesanan dari luar, yang tak hanya memakan waktu tetapi juga biaya yang tak sedikit, memaksa mereka untuk beradaptasi demi menjaga tradisi menganyam ini tetap hidup.

‎"Bukan (hendak beralih ke plastik), kami variasi saja. Kami pakai karena orang butuh cepat. Jadi, pakai yang ada anyaman. Karena kita terus terang semakin hari semakin susah dapat bahan alam. Mana jauh mencarinya," tutur Masrah.

‎Kelompok pengrajin 'PEJIIQ KENAP', yang berarti 'Bersatu Hati', menjadi bukti nyata dedikasi dan kegigihan para lansia dalam menjaga tradisi anyaman rotan, meski dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak gampang.

‎"Tujuan kami itu tetap mempertahankan budaya. Jadi, mengupayakan yang namanya rotan ini tetap terjaga, tetap terpelihara. Dengan tujuan tuh supaya kami sebagai ini yang kerjakan ini, kan lansia nih. Jadi, kami bermaksud lansia ini tetap punya penghasilan, tetap mandiri. Jadi, tidak menunggu yang hasil dari anak-anak," ucapnya.

‎Kelompok pengrajin 'PEJIIQ KENAP' menerapkan jam kerja seperti kantor, yaitu dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 17.00 sore, dengan waktu istirahat pada siang hari.

Kehadiran anggota dicatat dengan rapi dalam buku absensi, yang kemudian menjadi dasar pembagian hasil penjualan.

‎Proses pembuatan kerajinan rotan membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa. Dari proses pembersihan rotan, membelah secara manual menggunakan pisau, meraut hingga menghasilkan helaian yang siap dianyam, semuanya dikerjakan dengan tangan-tangan terampil para lansia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau