KALIMANTAN TIMUR, KOMPAS.com - Anjat atau tas tradisional berbentuk tabung yang terbuat dari anyaman gulungan plastik biru tampak mencolok di rumah kayu Masrah (65 tahun) di Kampung Long Pahangai I, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu.
Anjat plastik biru yang hampir rampung itu membaur di antara tampah dari bambu, serta lanjung dan tikar berbahan rotan.
"Sebetulnya enggak boleh yang namanya budaya kita. Ya, tetep budaya kan mentok-mentok atas permintaan orang yang ingin cepat memakai itu (anjat), dia yang membeli bahannya. Kalau saya sih (sebenarnya) sedikit keberatan. Karena kita mengubah yang budaya kita kan, mengambil yang lain gitu," ujar Masrah membahas kompromi yang tak pernah dibayangkan saat pertama kali belajar menganyam dari ibunya puluhan tahun silam, Minggu (18/10/2026).
Sang pemesan anjat membeli satu gulungan plastik biru di Kota Samarinda dengan harga Rp100.000, yang mana bisa untuk membuat empat kerajinan anyaman. Sebagai perbandingan, harga rotan untuk bahan baku tikar minimal Rp700.000.
Di balik keputusan menggarap anyaman dari gulungan plastik, Masrah mengaku sering merasa bersalah.
Apalagi, bahan baku utama berbagai anyaman tradisional yang menghidupi tradisi masyarakat adat Dayak sekarang semakin langka dan sulit dijangkau. Dulu, mencari rotan semudah melangkah ke belakang rumah atau menjelajahi hutan di sekitar kampung.
Baca juga: Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Kini, untuk memperoleh seikat rotan, Kampung Long Pahangai I harus menempuh perjalanan berjam-jam, bahkan bisa berhari-hari menggunakan perahu menyusuri sungai.
Di usianya yang senja, tak mungkin bagi Masrah dan teman-temannya untuk menempuh perjalanan seberat itu.
Mereka terpaksa bergantung pada pesanan dari luar, yang tak hanya memakan waktu tetapi juga biaya yang tak sedikit, memaksa mereka untuk beradaptasi demi menjaga tradisi menganyam ini tetap hidup.
"Bukan (hendak beralih ke plastik), kami variasi saja. Kami pakai karena orang butuh cepat. Jadi, pakai yang ada anyaman. Karena kita terus terang semakin hari semakin susah dapat bahan alam. Mana jauh mencarinya," tutur Masrah.
Kelompok pengrajin 'PEJIIQ KENAP', yang berarti 'Bersatu Hati', menjadi bukti nyata dedikasi dan kegigihan para lansia dalam menjaga tradisi anyaman rotan, meski dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak gampang.
"Tujuan kami itu tetap mempertahankan budaya. Jadi, mengupayakan yang namanya rotan ini tetap terjaga, tetap terpelihara. Dengan tujuan tuh supaya kami sebagai ini yang kerjakan ini, kan lansia nih. Jadi, kami bermaksud lansia ini tetap punya penghasilan, tetap mandiri. Jadi, tidak menunggu yang hasil dari anak-anak," ucapnya.
Kelompok pengrajin 'PEJIIQ KENAP' menerapkan jam kerja seperti kantor, yaitu dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 17.00 sore, dengan waktu istirahat pada siang hari.
Kehadiran anggota dicatat dengan rapi dalam buku absensi, yang kemudian menjadi dasar pembagian hasil penjualan.
Proses pembuatan kerajinan rotan membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa. Dari proses pembersihan rotan, membelah secara manual menggunakan pisau, meraut hingga menghasilkan helaian yang siap dianyam, semuanya dikerjakan dengan tangan-tangan terampil para lansia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya