Pembakaran sisa tanaman melepaskan pula berbagai polutan udara termasuk karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, logam berat, senyawa beracun, dan materi partikulat (PM) seperti PM 2.5 dan PM 10.
Hal ini tidak hanya menurunkan kualitas udara, tetapi juga mengganggu aktivitas, reproduksi, dan kelangsungan hidup artropoda yang bermanfaat, termasuk para penyerbuk.
Baca juga: Hemat Pestisida dan Lahan, Tanaman Bioteknologi Dukung Keberlanjutan
Dengan menggunakan pendekatan Secondary Evidence for Residue Burning, para peneliti juga menemukan bahwa burung baik spesies generalis maupun spesialis yang bergantung pada serangga untuk bertahan hidup terkena dampak buruk dari polusi udara.
"Polusi udara berdampak buruk pada burung melalui masalah pernapasan, yang memengaruhi keberhasilan reproduksi, penipisan cangkang telur, kontaminasi logam berat pada bulu dan bagian tubuh lainnya, serta mengurangi ketersediaan serangga sebagai makanan," kata para penulis.
Mereka menambahkan bahwa keberhasilan penetasan dan perkembangan anakan burung juga terdampak negatif.
Selain itu, pembakaran sisa tanaman mengurangi ketersediaan sumber daya untuk artropoda, terutama serangga, yang pada gilirannya secara tidak langsung memengaruhi burung.
Tanpa tempat yang aman untuk bersembunyi, artropoda menjadi terpapar di tanah terbuka, menjadikannya mangsa yang mudah bagi predator. Hal ini menyebabkan perburuan yang tidak berkelanjutan.
"Proses-proses semacam itu merusak keberlanjutan rantai makanan, merugikan organisme di berbagai tingkat trofik, dan mengikis fungsi-fungsi ekosistem yang vital," demikian kesimpulan dari studi tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya