KOMPAS.com - Sebuah studi baru menemukan pembakaran sisa tanaman tidak hanya mengakibatkan polusi udara tetapi juga memiliki konsekuensi serius bagi keanekaragaman hayati agroekologis, yang menyebabkan munculnya wabah hama di lahan pertanian.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment juga melaporkan bahwa pembakaran sisa tanaman dapat mengurangi nutrisi tanah, sehingga merusak produktivitas jangka panjang.
Studi mencatat pula bahwa polusi udara yang dilepaskan selama proses tersebut mengganggu fungsi ekologis artropoda dan burung.
Temuan ini didasarkan pada tinjauan sistematis kualitatif terhadap 250 studi yang telah melalui peninjauan sejawat (peer-review).
Studi-studi tersebut berfokus pada dampak langsung dari pembakaran sisa tanaman, efeknya terhadap polusi udara, serta konsekuensinya bagi artropoda dan burung.
Jurnal-jurnal yang ditinjau mencakup studi dari Asia, Amerika Utara dan Selatan, serta Afrika, meliputi negara-negara seperti Brazil, Cina, India, Meksiko, dan Pakistan.
Baca juga: Pertamina Lestarikan Hutan di Besakih Bali dengan Tanaman Energi
Melansir Down to Earth, Jumat (22/8/2025) Artropoda, yang menjadi bagian dominan dari ekosistem pertanian, menyediakan layanan ekosistem yang krusial, seperti daur ulang nutrisi, pengendalian hama, dan aerasi tanah.
Akan tetapi, studi menemukan bahwa pembakaran sisa tanaman secara langsung memusnahkan populasi artropoda dengan membunuh mereka. Hal ini juga mengakibatkan hilangnya habitat dan mengubah kondisi iklim mikro karena kenaikan suhu yang tiba-tiba.
Sebagai contoh, predator alami seperti laba-laba (Hippasa greenalliae), kumbang koksi, kaki seribu, tungau predator, kumbang, dan katak menurun selama proses pembakaran. Hal ini mengurangi keanekaragaman dan kekayaan spesies di perkebunan.
Selain itu, dekomposer lain, seperti kutu babi, semut api merah, mesofauna air, lipan, dan cacing tanah, juga mengalami penurunan, yang berdampak pada keanekaragaman hayati tanah.
"Organisme-organisme ini memainkan peran krusial dalam menjaga struktur tanah, mengendalikan hama, dan meningkatkan siklus nutrisi," catat para peneliti.
Penurunan jumlah mereka meningkatkan penyebaran hama dan parasit seperti nematoda, tikus, dan organisme lain.
Hal ini mengganggu mekanisme pengendalian hama alami, membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan hama dan mendorong ketergantungan yang lebih besar pada pertanian intensif bahan kimia.
Para peneliti mencatat bahwa pembakaran sisa tanaman juga menaikkan suhu tanah hingga antara 33,8 derajat C hingga 42,2 derajat C.
Hal ini menyebabkan hilangnya nitrogen, menurunnya bahan organik tanah, dan berkurangnya populasi mikroba hingga kedalaman 2,5 sentimeter.
Pembakaran sisa tanaman melepaskan pula berbagai polutan udara termasuk karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, logam berat, senyawa beracun, dan materi partikulat (PM) seperti PM 2.5 dan PM 10.
Hal ini tidak hanya menurunkan kualitas udara, tetapi juga mengganggu aktivitas, reproduksi, dan kelangsungan hidup artropoda yang bermanfaat, termasuk para penyerbuk.
Baca juga: Hemat Pestisida dan Lahan, Tanaman Bioteknologi Dukung Keberlanjutan
Dengan menggunakan pendekatan Secondary Evidence for Residue Burning, para peneliti juga menemukan bahwa burung baik spesies generalis maupun spesialis yang bergantung pada serangga untuk bertahan hidup terkena dampak buruk dari polusi udara.
"Polusi udara berdampak buruk pada burung melalui masalah pernapasan, yang memengaruhi keberhasilan reproduksi, penipisan cangkang telur, kontaminasi logam berat pada bulu dan bagian tubuh lainnya, serta mengurangi ketersediaan serangga sebagai makanan," kata para penulis.
Mereka menambahkan bahwa keberhasilan penetasan dan perkembangan anakan burung juga terdampak negatif.
Selain itu, pembakaran sisa tanaman mengurangi ketersediaan sumber daya untuk artropoda, terutama serangga, yang pada gilirannya secara tidak langsung memengaruhi burung.
Tanpa tempat yang aman untuk bersembunyi, artropoda menjadi terpapar di tanah terbuka, menjadikannya mangsa yang mudah bagi predator. Hal ini menyebabkan perburuan yang tidak berkelanjutan.
"Proses-proses semacam itu merusak keberlanjutan rantai makanan, merugikan organisme di berbagai tingkat trofik, dan mengikis fungsi-fungsi ekosistem yang vital," demikian kesimpulan dari studi tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya