Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menuju Net-Zero: KLH Tekankan Pentingnya Integritas Data Karbon

Kompas.com, 16 September 2025, 11:02 WIB
Nugraha Perdana,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

MALANG, KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan bahwa integritas data karbon merupakan kunci utama dalam pencapaian target kontribusi yang ditetapkan secara Nasional atau Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

Untuk itu, pemerintah secara aktif mendorong penguatan kapasitas aksi mitigasi, khususnya yang berasal dari usaha skala kecil dan berbasis masyarakat, agar dapat berkontribusi secara akurat dan terverifikasi.

Hal tersebut menjadi benang merah dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas MRV Aksi Mitigasi yang diselenggarakan di Kota Malang, Jawa Timur, pada Senin (15/9/2025).

Direktur Inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) dan Monitoring, Pelaporan, Verifikasi (MPV) Kementerian Lingkungan Hidup, Mitta Ratna Djuwita, mengatakan seluruh upaya mitigasi perubahan iklim di Indonesia diarahkan untuk memenuhi komitmen iklim yang baru.

"Kita punya komitmen baru dalam SNDC (Second Nationally Determined Contribution) yaitu target penurunan emisi GRK sebesar 31,89 persen dengan upaya sendiri, dan 43,20 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030," ujar Mitta pada Senin (15/9/2025).

Menurutnya, landasan hukum utama dari upaya ini adalah Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

Regulasi ini mengamanatkan bahwa setiap aksi mitigasi wajib melalui proses Measurement, Reporting, and Verification (MRV) yang transparan, akurat, konsisten, komprehensif, dan dapat diperbandingkan (prinsip TACCC).

"Proses MRV ini mutlak diperlukan agar emisi karbon yang kita laporkan menjadi akurat. Karbon yang akan dimasukkan ke dalam Sertifikat Pengurangan Emisi (SPEI) harus memiliki integritas tinggi atau high integrity. Ini adalah arahan tegas dari Bapak Menteri," jelasnya.

Mitta menekankan bahwa kontribusi pengurangan emisi tidak hanya datang dari industri skala besar, tetapi juga dari inisiatif skala kecil yang seringkali berbasis masyarakat. Namun, kelompok ini kerap menghadapi kendala, seperti keterbatasan informasi dalam menyusun Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) dan Laporan Capaian Aksi Mitigasi (LCAM).

Baca juga: KLH Proyeksikan 4,8 Juta Ton CO2 Bisa Dijual di Pasar Karbon

"Bapak Menteri sangat peduli terhadap usaha skala kecil ini. Melalui acara ini, kami ingin membantu mereka dengan informasi, pendampingan, bahkan pembinaan langsung agar aksi mereka tercatat dengan baik," tegasnya.

Seluruh aksi mitigasi dan adaptasi, baik skala besar maupun kecil, dihimpun dalam satu wadah terintegrasi, yaitu Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN PPI). Pemerintah memastikan sistem ini dapat diakses oleh semua pihak, sehingga usaha skala kecil pun berpeluang mengajukan SPEI dan berpartisipasi dalam mekanisme perdagangan karbon.

"Tujuannya jelas, agar mereka bisa mendapatkan insentif dari upaya yang telah dilakukan, dengan syarat utama karbon yang dihasilkan terjamin integritasnya," tambah Mitta.

Meskipun membuka peluang perdagangan karbon, pemerintah menegaskan bahwa prioritas utama adalah pemenuhan target NDC nasional. Puncak emisi nasional ditargetkan terjadi pada tahun 2030, sebagai langkah penting menuju visi Net-Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.

"Seluruh sektor, mulai dari kehutanan (FOLU), energi, pertanian, limbah, hingga industri (IPPU), sedang menyusun peta jalan untuk mencapai target tersebut. Komitmen internasional harus kita penuhi terlebih dahulu. Baru kemudian jika ada kelebihan atau offset, itu bisa masuk ke skema perdagangan karbon," pungkasnya.

Kegiatan di Malang ini dirancang sebagai forum diskusi dan berbagi praktik terbaik untuk menyelaraskan upaya mitigasi di tingkat tapak, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas aktor demi mendukung pencapaian target iklim Indonesia yang ambisius.

Baca juga: CarbonEthics Hitung Jejak Karbon AIGIS 2025, Capai 98,58 Ton CO2e

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau