Jumlah ini, menurut laporan, sesuai dengan kebutuhan yang telah dihitung oleh negara-negara pulau sendiri dalam dokumen penting mereka.
Analisis ekonomi yang dilakukan pada enam negara SIDS yaitu Komoro, Maladewa, Mauritius, Fiji, Kepulauan Marshall, dan Barbados membuktikan bahwa setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan untuk adaptasi dapat mencegah kerugian dan menghasilkan pertumbuhan baru senilai hingga 6,50 dolar AS.
Baca juga: Krisis Iklim, Pulau Kecil Tenggelam dan Perlu Mitigasi Berbasis Lokal
Hasil temuan laporan menunjukkan pula bahwa melalui pelaksanaan program yang terencana matang di sektor pengelolaan air, transportasi, energi bersih, dan pertanian tanggap iklim, negara-negara tersebut berpotensi mengurangi kerugian akibat iklim hingga lebih dari 50 persen pada tahun 2050.
Lebih lanjut, laporan tersebut merekomendasikan penutupan defisit hibah dalam pendanaan adaptasi, mengintegrasikan langkah-langkah adaptasi ke dalam anggaran nasional, dan memperluas mekanisme de-risiko dan blended finance untuk menarik investasi swasta
Analisis tersebut juga menyoroti perlunya menghubungkan bantuan atau keringanan keuangan yang diberikan dengan pencapaian upaya ketahanan melalui mekanisme baru seperti skema penukaran utang dengan investasi perlindungan alam dan penukaran utang dengan investasi aksi iklim.
"Adaptasi merupakan investasi paling menguntungkan dalam upaya mengatasi perubahan iklim saat ini. Berinvestasi di bidang adaptasi sekarang akan menghasilkan manfaat ketahanan di seluruh sektor, mulai dari sistem energi yang tetap menyala pasca badai siklon, pelabuhan dan jalan yang terus melayani kegiatan perdagangan, jaringan air yang lebih efisien dan melayani populasi lebih besar, hingga sistem pangan yang tangguh terhadap gelombang panas dan kekeringan," tambah Patrick Verkooijen, Kepala Eksekutif GCA.
Baca juga: Potensi Green Zakat Capai Rp 327 T per Tahun, Bisa untuk Dana Iklim
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya