KOMPAS.com - Para pemimpin kesehatan dan medis yang mewakili jutaan dokter, perawat, dan mahasiswa di seluruh dunia menggunakan ajang COP30 untuk mendesak penghentian penggunaan bahan bakar fosil.
Ini dilakukan demi menyelamatkan jutaan nyawa dari polusi dan dampak iklim yang terkait.
Menurut mereka bahan bakar fosil bukan hanya ancaman iklim. Bahan bakar fosil secara langsung membahayakan kesehatan manusia di setiap tahap kehidupan.
Buktinya, sangat meyakinkan. Polusi udara dari bahan bakar fosil berkontribusi terhadap lebih dari tujuh juta kematian dini setiap tahunnya. Gelombang panas yang semakin intensif merenggut nyawa dan mata pencaharian.
Bencana yang disebabkan oleh iklim seperti kebakaran hutan, banjir, dan badai mendorong sistem kesehatan hingga ke titik kritis.
Komunitas medis ini juga menyoroti penelitian baru dari Cradle to Grave: The Health Toll of Fossil Fuels and the Imperative for a Just Transition, yang mendokumentasikan kerusakan kesehatan yang luas yang terjadi di seluruh siklus hidup bahan bakar fosil.
Baca juga: Polusi Udara dari Bahan Bakar Fosil Sebabkan 2,52 Juta Kematian
Ibu hamil yang terpapar polusi bahan bakar fosil menghadapi risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan kelainan bawaan yang lebih tinggi. Anak-anak lebih rentan terhadap asma, infeksi pernapasan, dan dampak perkembangan.
Sementara itu, orang dewasa menghadapi risiko penyakit jantung, kanker, gangguan paru-paru, kerusakan ginjal, dan kondisi neurologis yang lebih tinggi. Bahkan setelah lokasi ekstraksi dan kilang ditutup, polutan beracun terus meracuni tanah, air, dan udara selama beberapa dekade.
Melansir Down to Earth, Rabu (19/11/2025) dampak dari bahan bakar fosil juga tidak terbagi secara proporsional. Dampak bahan bakar fosil menimpa masyarakat adat, masyarakat berpenghasilan rendah, pekerja garda terdepan termasuk tenaga kesehatan di sekitar lokasi industri.
Seiring meningkatnya dampak iklim, masyarakat yang kurang beruntung, dengan sumber daya yang lebih sedikit dan layanan kesehatan yang sudah kewalahan, menghadapi dampak kesehatan yang paling parah.
Komunitas medis global ini berpendapat bahwa transisi dari bahan bakar fosil sangat penting untuk mempertahankan sistem kesehatan yang berfungsi dan mencegah jutaan penyakit dan kematian yang sebenarnya dapat dihindari.
Baca juga: Studi: Pembakaran Bahan Bakar Fosil Ancam Kesehatan 1,6 Miliar Orang
“Setiap tahun penundaan berarti lebih banyak serangan asma, lebih banyak keadaan darurat kardiovaskular, lebih banyak kanker, dan lebih banyak kematian dini, yang semuanya dapat dicegah,” kata Joe Vipond, mantan presiden CAPE.
“Transisi dari bahan bakar fosil bukan hanya kebijakan iklim yang baik. Ini adalah kebijakan kesehatan yang menyelamatkan jiwa,” tambahnya.
Lebih lanjut, komunitas medis pun mendesak pemerintah untuk mewujudkan empat hasil di COP30: peta jalan berbasis sains untuk menghapuskan bahan bakar fosil, transisi yang cepat dan adil bagi pekerja dan masyarakat yang terdampak, integrasi bukti kesehatan ke dalam semua keputusan terkait iklim, dan sistem kesehatan yang diperkuat dan tangguh iklim.
Pesannya jelas dan tegas, penghapusan bahan bakar fosil bukan lagi sekadar prioritas lingkungan melainkan fondasi untuk melindungi kesehatan masyarakat global.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya