Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Orangutan Dilepasliar ke TN Bukit Baka Bukit Raya Kalimantan Barat

Kompas.com, 22 Desember 2025, 14:10 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tiga orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) bernama Badul, Korwas, dan Asoka dilepasliar ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR), Resort Mentatai, Menukung, Melawi, Kalimantan Barat.

Pelepasliaran dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Balai TNBBBR, serta Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Baca juga: 

“Setiap orangutan yang kami lepasliarkan telah melewati rangkaian pemeriksaan kesehatan yang ketat dan rutin selama masa rehabilitasi," kata Manager Animal Management YIARI, Andini Nurillah dalam keterangannya, Minggu (21/12/2025).

"Badul, Korwas, dan Asoka menunjukkan kondisi fisik yang baik, kesehatan yang stabil, serta perilaku yang mendukung keberhasilan hidup di alam liar,” imbuh dia.

Adapun lokasi itu dipilih lantaran masih memiliki tutupan hutan, banyaknya sumber makanan, serta tekanan manusia yang relatif rendah.

Pihaknya menilai, kawasan ini juga aman bagi orangutan karena berstatus kawasan konservasi yang mendapat pengawasan rutin melalui patroli Balai TNBBBR.

3 Orangutan dilepasliar ke hutan Kalimantan

Diharapkan bisa menambah populasi orangutan di Kalimantan

Kegiatan ekspedisi keanekaragaman hayati pada Juni 2024 yang difasilitasi oleh Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) yang berhasil menemukan dua spesies tumbuhan baru dari marga Begonia yang dinamai Begonia bukitrayaensis dan Begonia kalimantana. ANTARA/HO-Kemenhut Kegiatan ekspedisi keanekaragaman hayati pada Juni 2024 yang difasilitasi oleh Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) yang berhasil menemukan dua spesies tumbuhan baru dari marga Begonia yang dinamai Begonia bukitrayaensis dan Begonia kalimantana.

Ketiga orangutan tersebut sudah menjalani pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, penimbangan bobot badan rutin, dan verifikasi identitas satwa melalui microchip.

Setelah pelepasliaran, tim gabungan YIARI dan BTNBBBR bakal memantau kondisi ketiganya guna memastikan proses adaptasi berjalan baik.

Pemantauan mencakup kemampuan individu menemukan pakan, membuat sarang, dan mempertahankan perilaku liar di lingkungan barunya.

Orangutan dikenal sebagai penyebar biji dan pembuka ruang bagi tumbuhan hutan. Dengan demikian, penambahan individu orangutan di kawasan tersebut diharapkan dapat memperkuat populasi satwa dilindungi dalam jangka panjang, sekaligus menjaga kelestarian hutan di TNBBBR.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane menyatakan, pelepasliaran orangutan hasil rehabilitasi YIARI di Ketapang ke TN Bukit Baka Bukit Raya, tidak hanya sekedar memindahkannya dari pusat rehabilitasi ke habitat asli, tapi juga komitmen semua pihak terhadap konservasi keanekaragaman hayati khususnya orangutan yang dilindungi.

"Pelepasliaran ini memberikan kesempatan untuk Badul, Korwas, dan Asoka untuk hidup dan beraktivitas di alam bebas. Semoga mereka hidup sejahtera dan berkembangbiak sehingga menambah populasi orangutan kalimantan," tutur Murlan.

Baca juga: 

Jalan panjang melepasliar 3 orangutan di Kalimantan

Tiga individu orangutan hasil rehabilitasi dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), wilayah kerja Resort Mentatai, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat (Kalbar). DOK YIARI Tiga individu orangutan hasil rehabilitasi dilepasliarkan ke kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), wilayah kerja Resort Mentatai, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat (Kalbar).

YIARI menjelaskan, untuk mencapai titik pelepasliaran di TNBBBR, tim harus menempuh perjalanan darat, sungai, dan hutan dengan waktu tempuh tiga hari dari pusat rehabilitasi.

Selain petugas, warga setempat ikut membantu melepaskan tiga orangutan ke alam liar.

Adapun Badul, Korwas, dan Asoka adalah orangutan yang dititipkan BKSDA Kalbar di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Desa Sungai Awan Kiri, Ketapang.

Tujuannya, mengembalikan perilaku alami agar mereka mampu mencari pakan, menjelajah, membuat sarang, membangun kembali perilaku liar, dan menjaga jarak dari manusia.

Di alam bebas, bayi orangutan semestinya belajar keterampilan hidup dari induknya hingga usia enam hingga delapan tahun.

Namun. ketika terpisah dari induknya akibat pemeliharaan ilegal, perdagangan satwa liar, atau tekanan pada habitat, mereka kehilangan kesempatan belajar dan membutuhkan proses rehabilitasi yang panjang sebelum kembali ke habitatnya.

Baca juga: Bayi Orangutan Lahir di Taman Nasional Kalimantan Barat, Dinamai Julia

Cerita orangutan bernama Badu

Sebelum dipindahkan ke YIARI pada pertengahan November 2017 lalu, Badul lebih dulu dititipkan di Sinka Island Park, Singkawang.

Kandangnya berdampingan dengan satwa lain seperti landak dan burung. Alhasil, Badul dipindahkan ke Pusat Rehabilitasi YIARI.

Kemampuannya mencari pakan sendiri meningkat seiring berat badannya yang naik selama dirawat delapan tahun lamanya.

Cerita orangutan bernama Korwas

Sementara itu, Korwas adalah orangutan betina yang kisahnya bermula dari perdagangan ilegal satwa liar melalui media sosial.

Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) membawa Korwas ke Pusat Rehabilitasi YIARI pada pertengahan Agustus 2017 silam.

Orangutan ini mengalami infeksi jamur kulit berbentuk cincin di tubuhnya.

Usai menjalani terapi antijamur, kondisinya membaik dan Korwas mulai bergabung dengan orangutan lain di sekolah hutan.

Baca juga: Momen Haru, Orangutan Artemis dan Gieke Kembali ke Hutan Setelah Rehabilitasi

Cerita orangutan bernama Asoka

Terakhir, Asoka, orangutan jantan yang diselamatkan dari warga di Sungai Besar. Saat ditemukan, ia masih bayi dan diperkirakan berusia sekitar lima bulan ketika dipelihara.

Menurut keterangan warga, Asoka ditemukan saat mereka memancing di sungai, lalu dibawa pulang dan diberi pakan kental manis setiap hari. 

Selanjutnya Asoka dirawat di YIARI pada pertengahan Juli 2015 dengan kondisi yang rentan dan membutuhkan perhatian intensif.

“Setiap individu orangutan yang berhasil kembali ke hutan adalah buah dari proses panjang, penyelamatan, rehabilitasi, dan perawatan rutin dari tim. Pelepasliaran tiga orangutan ini bukan hanya kabar baik bagi YIARI, tetapi juga bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia," jelas Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul.

Pelepasliaran menjadi momentum penting dalam penguatan transparansi dan komunikasi konservasi kepada publik.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Pemerintah
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pemerintah
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
LSM/Figur
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau