Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tempat Penyimpanan Karbon Dioksida Pertama di Dunia Bakal Beroperasi di Denmark

Kompas.com, 23 Desember 2025, 20:36 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AFP

KOMPAS.com - Fasilitas pengumpulan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage atau CCS) pertama di dunia akan segera beroperasi. Lokasinya di Laut Utara di Denmark yang dulunya tempat pengeboran minyak. 

Nantinya, bila sudah beroperasi, karbon dioksida (CO2) dari negara-negara Eropa akan "dikubur" di bawah laut di lokasi tersebut. Proyek bernama Greensand ini dipimpin perusahaan kimia berbasis di Inggris, Ineos. 

Baca juga: 

"Alih-alih mengekstraksi minyak, kita sekarang dapat menyuntikkan CO2 ke dalam tanah," kata kepala operasi Eropa Ineos, Mads Gade, dilansir dari AFP, Selasa (23/12/2025).

Teknologi CCS termasuk yang disetujui oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB dan International Energy Agency (IEA) untuk mengurangi pemanasan global, terutama mengurangi jejak karbon CO2 dari industri seperti semen dan baja yang sulit untuk didekarbonisasi.

Penyimpanan karbon dioksida di laut Denmark

Direncanakan menyimpan 400.000 ton karbon dioksida per tahun

Greensand ini terletak 170 kilometer di lepas pantai Denmark yang terdiri dari sebuah reservoir kosong yang dalam dan berada di bawah anjungan minyak kecil.

Proyek ini akan memulai fase pertamanya dalam beberapa bulan mendatang, serta digadang-gadang akan menyimpan 400.000 ton karbon dioksida per tahun.

Adapun karbon dioksida cair yang sebagian besar berasal dari pembangkit listrik biomassa akan dikirim dari Eropa melalui terminal Esbjerg di barat daya Denmark ke platform Nini di atas reservoir minyak yang kosong. Di situlah tempat karbon dioksida tersebut akan disuntikkan.

"Alasan mengapa Laut Utara dipandang sebagai gudang penyimpanan CO2 adalah karena banyaknya data yang telah kami kumpulkan selama lebih dari 50 tahun produksi minyak bumi," kata koordinator CCS, Ann Helen Hansen di Direktorat Lepas Pantai Norwegia (Sodir).

Wilayah Laut Utara ini dipenuhi dengan ladang minyak dan gas yang telah habis, seperti Nini, serta cekungan batuan dalam.

Menurut Sodir, bagian Laut Utara Norwegia saja secara teoritis memiliki kapasitas penyimpanan geologis sekitar 70 miliar ton (70 Gt) karbon dioksida.

Sebagai perbandingan, emisi gas rumah kaca Uni Eropa mencapai sekitar 3,2 Gt tahun lalu.

Baca juga:

Kapasitas penyimpanan karbon dioksida ditingkatkan

Berdasarkan Undang-Undang Industri Net-Zero (NZIA), Uni Eropa telah menetapkan target yang mengikat secara hukum untuk memiliki kapasitas penyimpanan setidaknya 50 juta ton per tahun pada tahun 2030.

Greensand berencana untuk meningkatkan kapasitas injeksi karbon dioksidanya hingga delapan juta ton per tahun pada tahun 2030.

Akan tetapi, bagi pelaku industri, biaya penangkapan, pengangkutan, dan penyimpanan emisi mereka tetap jauh lebih tinggi daripada harga pembelian izin karbon di pasar. Apalagi bila ditambah dengan penyimpanan di laut lepas. 

"Offshore (penyimpanan di laut lepas) mungkin lebih mahal daripada onshore (penyimpanan di daratan), tapi dengan offshore sering kali ada penerimaan publik yang lebih besar," ucap Hansen.

Lebih lanjut, meski menjadi salah satu solusi untuk mengatasi jejak karbon dioksida dan membantu mengatasi pemanasan global, teknologi ini tetap tak lepas dari kritikan.

Pasalnya, jumlah karbon yang berhasil dikubur melalui teknologi CCS sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah karbon yang dilepaskan atmosfer dari hasil pembakaran minyak dan gas.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Susi Pudjiastuti: Pariwisata Pangandaran Tumbuh, tetapi Ekonomi Perikanan Justru Merosot
Susi Pudjiastuti: Pariwisata Pangandaran Tumbuh, tetapi Ekonomi Perikanan Justru Merosot
LSM/Figur
Mari Elka: Indonesia Hadapi 'Perfect Storm', Keberlanjutan Kini Jadi Syarat Bertahan
Mari Elka: Indonesia Hadapi "Perfect Storm", Keberlanjutan Kini Jadi Syarat Bertahan
Pemerintah
AEI: Lebih dari 800 Emiten Sampaikan Laporan Keberlanjutan, Hasil Evaluasi Terbit Juli 2026
AEI: Lebih dari 800 Emiten Sampaikan Laporan Keberlanjutan, Hasil Evaluasi Terbit Juli 2026
Pemerintah
OJK Targetkan Aturan Baru Laporan Keberlanjutan Berstandar Global Terbit pada 2026
OJK Targetkan Aturan Baru Laporan Keberlanjutan Berstandar Global Terbit pada 2026
Pemerintah
Marine-Based Water Security: Saatnya Laut Jadi Sumber Air Bersih Masa Depan
Marine-Based Water Security: Saatnya Laut Jadi Sumber Air Bersih Masa Depan
Pemerintah
IPB University Kirim 125 Peserta Ekspedisi Patriot untuk Dampingi Transmigran
IPB University Kirim 125 Peserta Ekspedisi Patriot untuk Dampingi Transmigran
Pemerintah
Lestari Summit 2026: KG Media Serukan Kolaborasi Lintas Sektor lewat 'The Regenerative Pulse'
Lestari Summit 2026: KG Media Serukan Kolaborasi Lintas Sektor lewat "The Regenerative Pulse"
Swasta
WVI: Penanganan Stunting Tak Cukup dengan Gizi, Akses Air Bersih dan Sanitasi Jadi Kunci
WVI: Penanganan Stunting Tak Cukup dengan Gizi, Akses Air Bersih dan Sanitasi Jadi Kunci
LSM/Figur
Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Swasta
IBCSD: Minimnya Transparansi Risiko Lingkungan Hambat Investasi Berkelanjutan di Indonesia
IBCSD: Minimnya Transparansi Risiko Lingkungan Hambat Investasi Berkelanjutan di Indonesia
Swasta
PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
Pemerintah
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau