KOMPAS.com - Lonjakan emisi dari AI yang didorong oleh Big Tech telah membuat pasar untuk kredit penghilangan karbon berkualitas tinggi menjadi sangat ketat dan langka.
Para eksekutif, pihak pendaftar, dan pembeli di COP30 mengatakan kelangkaan tersebut berfungsi sebagai strategi pasar untuk mendorong inovasi dan investasi agar proyek-proyek penghilangan karbon yang mahal namun efektif dapat dikembangkan lebih cepat.
Microsoft dan Google telah menjadi pembeli paling agresif, dengan pengeluaran kolektif yang mencapai ratusan juta dolar sejak 2019. Sebagian besar modal tersebut mengalir dalam dua tahun terakhir karena kebutuhan energi AI mereka yang meningkat.
Analis di CDR.fyi memperkirakan bahwa mereka telah berkomitmen lebih dari 10 miliar dolar AS untuk pembelian langsung dan perjanjian pembelian jangka panjang di pasar penghilangan karbon.
Melansir ESG News, Selasa (18/11/2025) kredit penghilangan karbon yang tahan lama (durable carbon-removal credits), mulai dari biochar hingga penangkapan karbon langsung dari udara dihargai jauh lebih tinggi daripada proyek kehutanan atau pelestarian lahan.
Baca juga: Pertamina NRE Terbitkan Kredit Karbon Baru, Diklaim 90 Persen Terjual
Para pelaku pasar mengatakan bahwa perbedaan harga yang lebar ini mencerminkan sifatnya yang lebih permanen dan nilai iklim yang lebih jelas.
Dengan perusahaan teknologi yang meningkatkan skala model AI yang sebagian besar masih berjalan menggunakan tenaga fosil, permintaan untuk kredit tahan lama ini pun telah melonjak.
Brennan Spellacy, CEO Patch, mengatakan hubungan antara pertumbuhan AI dan investasi dalam penghapusan karbon kini terlihat jelas.
"Perusahaan-perusahaan yang berkinerja baik berinvestasi besar-besaran, dan alasan perusahaan-perusahaan ini berkinerja baik adalah AI. Jadi, AI mendorong laba dan laba mendorong investasi," ujarnya.
Kendati demikian, pasokan kredit berkualitas tinggi belum mencukupi.
Data Patch menunjukkan bahwa meskipun sepertiga dari permintaan pembeli adalah untuk kredit biochar, kategori tersebut mewakili kurang dari 20 persen dari penjualan aktual karena ketersediaannya yang masih terbatas.
Kredit penanaman kembali hutan mengalami kesenjangan serupa di mana permintaan (25 persen) jauh melebihi pasokan yang benar-benar tersedia (12 persen).
“Keinginan akan kualitas tinggi kredit karbon sangat nyata, dan Anda dapat melihatnya dalam angka-angka. Pada tahun 2024, terdapat 8 juta ton penghilangan karbon yang tahan lama yang dibeli, dan sejauh tahun ini, jumlahnya 25 juta,” kata Lukas May, kepala petugas komersial di pihak pendaftar (registry) Isometric.
Baca juga: Pakar Peringatkan, Kredit Karbon Justru Hambat Target Iklim Global
Para pelaku pasar mengatakan bahwa kenaikan permintaan kredit yang tahan lama ini tidak hanya tentang strategi iklim perusahaan, tetapi juga tentang ekspektasi investor.
Emisi AI telah menciptakan risiko tata kelola yang nyata yang diawasi oleh investor.
Sehingga pembelian kredit berkualitas tinggi adalah taktik mitigasi risiko cepat bagi perusahaan Tech saat ini, sementara mereka menunggu infrastruktur energi bersih skala besar siap di masa depan.
Lebih lanjut, lonjakan emisi yang didorong oleh AI memaksa adanya pergeseran cara perusahaan, investor, dan pembuat kebijakan berpikir tentang pasar karbon.
Bagi negara-negara yang masih bergantung pada jaringan listrik berbahan bakar fosil, pertumbuhan infrastruktur AI yang padat energi membuat kapasitas penghilangan karbon menjadi lebih penting.
Sementara pendanaan dari Big Tech membuka peluang investasi baru untuk teknologi iklim di pasar negara berkembang.
Baca juga: Fokus Perdagangan Karbon, Misi RI di COP 30 Dinilai Terlalu Jualan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya