Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Kredit Karbon Melesat Tinggi Akibat Laju Emisi Teknologi

Kompas.com, 24 November 2025, 19:04 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Lonjakan emisi dari AI yang didorong oleh Big Tech telah membuat pasar untuk kredit penghilangan karbon berkualitas tinggi menjadi sangat ketat dan langka.

Para eksekutif, pihak pendaftar, dan pembeli di COP30 mengatakan kelangkaan tersebut berfungsi sebagai strategi pasar untuk mendorong inovasi dan investasi agar proyek-proyek penghilangan karbon yang mahal namun efektif dapat dikembangkan lebih cepat.

Microsoft dan Google telah menjadi pembeli paling agresif, dengan pengeluaran kolektif yang mencapai ratusan juta dolar sejak 2019. Sebagian besar modal tersebut mengalir dalam dua tahun terakhir karena kebutuhan energi AI mereka yang meningkat.

Analis di CDR.fyi memperkirakan bahwa mereka telah berkomitmen lebih dari 10 miliar dolar AS untuk pembelian langsung dan perjanjian pembelian jangka panjang di pasar penghilangan karbon.

Melansir ESG News, Selasa (18/11/2025) kredit penghilangan karbon yang tahan lama (durable carbon-removal credits), mulai dari biochar hingga penangkapan karbon langsung dari udara dihargai jauh lebih tinggi daripada proyek kehutanan atau pelestarian lahan.

Baca juga: Pertamina NRE Terbitkan Kredit Karbon Baru, Diklaim 90 Persen Terjual

Para pelaku pasar mengatakan bahwa perbedaan harga yang lebar ini mencerminkan sifatnya yang lebih permanen dan nilai iklim yang lebih jelas.

Dengan perusahaan teknologi yang meningkatkan skala model AI yang sebagian besar masih berjalan menggunakan tenaga fosil, permintaan untuk kredit tahan lama ini pun telah melonjak.

Brennan Spellacy, CEO Patch, mengatakan hubungan antara pertumbuhan AI dan investasi dalam penghapusan karbon kini terlihat jelas.

"Perusahaan-perusahaan yang berkinerja baik berinvestasi besar-besaran, dan alasan perusahaan-perusahaan ini berkinerja baik adalah AI. Jadi, AI mendorong laba dan laba mendorong investasi," ujarnya.

Kendati demikian, pasokan kredit berkualitas tinggi belum mencukupi.

Data Patch menunjukkan bahwa meskipun sepertiga dari permintaan pembeli adalah untuk kredit biochar, kategori tersebut mewakili kurang dari 20 persen dari penjualan aktual karena ketersediaannya yang masih terbatas.

Kredit penanaman kembali hutan mengalami kesenjangan serupa di mana permintaan (25 persen) jauh melebihi pasokan yang benar-benar tersedia (12 persen).

“Keinginan akan kualitas tinggi kredit karbon sangat nyata, dan Anda dapat melihatnya dalam angka-angka. Pada tahun 2024, terdapat 8 juta ton penghilangan karbon yang tahan lama yang dibeli, dan sejauh tahun ini, jumlahnya 25 juta,” kata Lukas May, kepala petugas komersial di pihak pendaftar (registry) Isometric.

Baca juga: Pakar Peringatkan, Kredit Karbon Justru Hambat Target Iklim Global

Para pelaku pasar mengatakan bahwa kenaikan permintaan kredit yang tahan lama ini tidak hanya tentang strategi iklim perusahaan, tetapi juga tentang ekspektasi investor.

Emisi AI telah menciptakan risiko tata kelola yang nyata yang diawasi oleh investor.

Sehingga pembelian kredit berkualitas tinggi adalah taktik mitigasi risiko cepat bagi perusahaan Tech saat ini, sementara mereka menunggu infrastruktur energi bersih skala besar siap di masa depan.

Lebih lanjut, lonjakan emisi yang didorong oleh AI memaksa adanya pergeseran cara perusahaan, investor, dan pembuat kebijakan berpikir tentang pasar karbon.

Bagi negara-negara yang masih bergantung pada jaringan listrik berbahan bakar fosil, pertumbuhan infrastruktur AI yang padat energi membuat kapasitas penghilangan karbon menjadi lebih penting.

Sementara pendanaan dari Big Tech membuka peluang investasi baru untuk teknologi iklim di pasar negara berkembang.

Baca juga: Fokus Perdagangan Karbon, Misi RI di COP 30 Dinilai Terlalu Jualan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau