Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sumatera Darurat Biodiversitas, Habitat Gajah Diprediksi Menyusut 66 Persen

Kompas.com, 25 Desember 2025, 10:01 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Guru Besar Manajemen Lanskap IPB University, Syartinilia mengungkapkan Sumatera menjadi wilayah dengan angka penurunan biodiversitas tertinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia selama beberapa tahun terakhir.

Menggunakan analisis Biodiversity Intactness Index (BII), peneliti menyebut Sumatera mencatat tingkat kehilangan biodiversitas tertinggi selama 2017 hingga 2020.

"Pada skenario bisnis seperti biasa, kehilangan biodiversitas hingga tahun 2050 diperkirakan mencapai sekitar 15 persen. Sementara pada skenario keberlanjutan dapat ditekan hingga sekitar 11 persen," ungkap Syartinilia dalam keterangannya, Rabu (24/12/2025).

Analisis lebih lanjut dilakukan terhadap habitat spesies kunci yakni gajah, orangutan, dan harimau sumatera. Syartinilia menjelaskan, pada skenario bisnis habitat gajah diproyeksikan menurun hingga 66 persen.

Baca juga: Cegah Kematian Gajah akibat Virus, Kemenhut Datangkan Dokter dari India

Sedangkan pada skenario keberlanjutan berpotensi meningkatkan luasan habitat satwa dilindingi itu hingga 5 persen.

"Pendekatan berkelanjutan terbukti mampu menekan kehilangan habitat secara signifikan,” tutur dia.

Mengacu pada analisi tersebut, Syartinilia merekomendasikan aksi adaptasi berupa restorasi terfokus, konservasi berbasis masyarakat, pengelolaan lanskap terpadu, mitigasi ancaman langsung, hingga investasi konservasi berskala besar dengan Pulau Sumatera sebagai wilayah prioritas.

Rentannya Ekosistem

Di samping itu, akademisi IPB University turut mengkaji proyeksi ekosistem Indonesia dalam perspektif antropogenik dan perubahan iklim. Kajiannya menyoroti dinamika kerentanan ekosistem nasional hingga 2050 mendatang sebagai dasar perumusan prioritas aksi adaptasi perubahan iklim.

Syartinilia menyebut, risetnya menggunakan pendekatan multiskala dari tingkat nasional hingga pulau. Pada skala nasional, tim peneliti melakukan analisis antara keterpaparan iklim dengan kualitas ekosistem terestrial yang diukur melalui indeks vegetasi.

Dari dua variabel ini, disusun tingkat kerentanan lanskap dalam sembilan level.

Baca juga: Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah

“Hasilnya menunjukkan bahwa secara nasional Indonesia masih didominasi oleh kerentanan rendah hingga sedang, meskipun terdapat wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi,” ucap Syartinilia.

Menurut dia, berdasarkan tipe ekosistem lahan basah dan ekosistem pegunungan merupakan dua tipe yang paling rentan secara nsional.

“Secara spasial, Pulau Sumatera tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tertinggi, diikuti Papua, Kalimantan, dan Maluku,” imbuh dia.

Dalam risetnya, peneliti menekankan bahwa perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia.

Adanya kenaikan suhu, pergeseran pola curah hujan, meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, kenaikan muka air laut, serta perubahan biodiversitas dinilia sebagai proses yang berkaitan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau