“Faktor antropogenik (aktivitas manusia) memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia,” jelas dia.
Dia menyatakan riset tersebut merupakan bagian dari analisis yang disusun IPB University untuk dokumen National Communication, khususnya pada sektor adaptasi perubahan iklim di bidang ekosistem. Analisisnya berbasis data historis sekaligus memproyeksikan kondisi ekosistem di masa depan.
“Kajian ini tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga mencoba memproyeksikan ke depan berdasarkan dinamika perubahan yang ada,” ujarnya.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, sebelumnya menyatakan pihaknya bakal merehabilitasi habitat sekaligus menghitung ulang populasi gajah di Sumatera. Dia mencatat, ada sekitar 1.100 ekor gajah yang hidup di 22 lanskap.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama organisasi non pemerintah melakukan konservasi gajah, termasuk di lahan milik Presiden Prabowo Subianto di Aceh melalui program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI).
“Jadi paling tidak sekarang yang sedang dikerjakan mendata ulang atau menghitung ulang jumlah individu Gajah yang ada di dua blok," ujar Raja Juli dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (7/8/2025).
"Pak Presiden Prabowo itu, dari sekitar 9.000 HTI milik beliau ada dua blok. Blok pertama seluas 21.000, blok kedu 14.000," imbuh dia.
Saat ini, pihaknya tengah berfokus pada blok kedua dengan jumlah gajah sekitar 40-50 ekor. Sementara di blok satu terdapat sekitar 27 ekor gajah.
"Sekarang dengan menggunakan teknologi geotermal, Insya Allah nanti di September kami akan tahu lebih persis jumlah gajah di blok satu maupun blok dua," kata dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya