KOMPAS.com - Vitamin C dosis tinggi disebut membantu melindungi paru-paru dari dampak polusi udara yang berbahaya, menurut penelitian terbaru yang dipimpin oleh tim dari University of Technology Sydney, Australia.
Polutan yang disebut sebagai PM2.5 sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti asma dan kanker paru-paru.
Baca juga:
"Suplementasi vitamin C antioksidan terbukti efektif dalam mengurangi dampak negatif paparan PM2.5 tingkat rendah, yang mungkin direkomendasikan untuk individu berisiko tinggi," tulis mahasiswa pascasarjana Univerist of Technology Sydney, Xu Bai dan rekan-rekannya dalam studi tersebut, dilansir dari Science Alert, Rabu (24/12/2025).
Vitamin C dosis tinggi disebut membantu melindungi paru-paru dari dampak polusi udara yang berbahaya.Dalam studi yang terbit di jurnal Environmental International ini, para peneliti melakukan serangkaian eksperimen pada tikus jantan dan jaringan manusia yang ditumbuhkan di laboratorium untuk menguji efek vitamin C pada jaringan yang terpapar partikel halus.
Peneliti menemukan bahwa vitamin C melindungi paru-paru dari beberapa kerusakan inti pada sel yang biasanya disebabkan oleh polusi udara.
Secara khusus, vitamin C mengurangi hilangnya "pembangkit tenaga" mitokondria pada sel, meredakan peradangan yang berbahaya, dan mencegah sel agar tidak rusak akibat efek stres oksidatif.
Stres oksidatif dikenal sebagai serangan yang disebabkan oleh molekul tidak stabil dan reaktif yang kemudian memicu berbagai gangguan fungsi tubuh.
Baca juga:
Vitamin C dosis tinggi disebut membantu melindungi paru-paru dari dampak polusi udara yang berbahaya.Kendati demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah dosis vitamin yang dapat dicapai mampu melindungi manusia secara langsung, bukan hanya pada jaringan yang ditumbuhkan di laboratorium atau model tikus.
Sebagai catatan, tingkat polusi dan dosis vitamin C dalam penelitian ini telah dikalibrasi secara cermat di laboratorium sehingga belum tentu mencerminkan paparan di dunia nyata bagi kebanyakan orang.
Ahli biologi molekuler dari University of Technology Sydney, Brian Oliver menuturkan bahwa masyarakat tetap harus berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi vitamin C dosis tinggi. Apalagi bila mereka memiliki kondisi tertentu.
"Anda perlu berbicara dengan dokter untuk memastikan Anda mengonsumsi jenis suplemen yang tepat pada tingkat yang tepat dan tidak secara tidak sengaja overdosis dengan sesuatu yang lain yang termasuk dalam suplemen yang dijual bebas," ucap Oliver.
Tidak hanya itu, idealnya, konsumsi suplemen vitamin C sebaiknya harus dibarengi dengan memperbaiki kualitas udara yang dihirup setiap hari.
Sementara itu, vitamin C dipakai sebagai salah satu cara untuk melindungi diri dari efek partikel halus.
Sebagai informasi, polutan PM2.5 umumnya dihasilkan oleh kemacetan lalu lintas, kebakaran hutan, dan badai debu. Dampak partikel-partikel kecil yang merusak kesehatan ini terpantau dalam beberapa tahun terakhir.
"Kita tahu bahwa tidak ada tingkat polusi udara yang aman. Namun, untuk pertama kalinya, kami memberikan harapan untuk pengobatan pencegahan berbiaya rendah terhadap masalah global yang memengaruhi ratusan juta orang," kata Oliver.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya