Studi ini menemukan hubungan yang kuat antara frekuensi banjir bandang dengan suhu yang memicu peningkatan frekuensi banjir bandang antara lima hingga 20 tahun kemudian.
Penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 70 persen dari kejadian tersebut dipicu oleh longsoran es dan jatuhan batu yang mendarat di cekungan dan menyebabkan gelombang air meluap melewatinya.
"Hal yang mengkhawatirkan yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah bahwa jumlah kejadian ini tetap relatif stabil antara tahun 1900-an hingga sekitar tahun 1970," ucap Cook.
Namun, dari tahun 1970-an, ketika pemanasan iklim telah meningkat pesat, kejadian banjir bandang meningkat, sebelum terjadi peningkatan tiga kali lipat antara tahun 2011-2020.
Baca juga:
“Ada jeda waktu sekitar lima hingga 20 tahun antara terjadinya pemanasan dan terjadinya banjir. Hal itu berarti kita tahu akan ada lebih banyak banjir glasial masa mendatang," tutur Cook.
Lebih lanjut, seiring pemanasan iklim, selain melihat penyusutan gletser dan genangan air lelehan yang membentuk danau glasial tersebut, manusia juga melihat stabilitas lereng gunung terancam.
"Gletser yang mencair menghasilkan longsoran es, batuan, serta sedimen di dinding gunung sehingga lebih banyak tanah longsor ke di danau-danau tersebut," terang Cook.
Faktor-faktor itulah yang membuat banjir bandang lebih mungkin terjadi di dunia yang memanas, sekaligus menjadi ancaman bagi manusia dan infrastruktur di wilayah pegunungan tinggi di dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya