KOMPAS.com - Banjir ekstrem yang disebabkan air lelehan gletser diprediksi akan menyebabkan lebih banyak kematian secara global, menurut penelitian dari University of Dundee di Skotlandia.
Air lelehan gletser mengendap di cekungan alami di bentang alam yang ditinggalkan oleh gletser saat mencair. Air tersebut tertahan oleh endapan lumpur, pasir, dan kerikil yang ditinggalkan oleh gletser.
Baca juga:
Sayangnya, air yang terbendung dan membentuk danau glasial tersebut tidak stabil dan dapat mengakibatkan banjir di hilir ketika melemah atau jebol. Hal ini bisa membahayakan masyarakat dan infrastruktur di hilir.
"Kita masih punya waktu untuk bertindak mencegah hal ini, tapi kita harus bertindak cepat," ucap pakar glasiologi dan bahaya geologi dari University of Dundee, Dr. Simon Cook, dilansir dari Independent.co.uk, Senin (29/12/2025).
Diterbitkan di jurnal Nature Communications, studi ini mendokumentasikan peningkatan tajam dalam frekuensi peristiwa-peristiwa tersebut sejak tahun 1980-an.
Banjir akibat lelehan gletser diprediksi akan makin sering dan memicu lebih banyak kematian global seiring pemanasan iklim.Terjadi peningkatan 5,2 banjir bandang danau gletser (Glofs atau glacial lake outburst floods) per tahun dari tahun 1981 sampai 1990, menjadi 15,2 Glofs per tahun dari tahun 2011 sampai 2020.
Glofs adalah istilah teknis untuk banjir bandang yang terjadi ketika bendungan alami danau gletser jebol.
Tim peneliti lainnya yang dipimpin oleh pakar dari Chinese Academy of Sciences juga melakukan penelitian serupa dengan mempelajari citra satelit dan catatan dokumenter selama 120 tahun untuk mengidentifikasi 609 insiden jebolnya danau glasial dan menyebabkan banjir.
Selama periode 1900-2020, 400 kejadian telah diidentifikasi dan dicatat yang kemudian meningkat menjadi 609.
Lebih dari 100 kejadian Glof yang tercatat menyebabkan kerusakan di hilir, dan telah terjadi lebih dari 13.000 kematian secara global, dengan jumlah banjir yang merusak tertinggi terjadi di wilayah pegunungan dan dataran tinggi di Asia, serta wilayah Andes tropis.
Baca juga:
Banjir akibat lelehan gletser diprediksi akan makin sering dan memicu lebih banyak kematian global seiring pemanasan iklim.Studi ini menemukan hubungan yang kuat antara frekuensi banjir bandang dengan suhu yang memicu peningkatan frekuensi banjir bandang antara lima hingga 20 tahun kemudian.
Penelitian juga menunjukkan bahwa sekitar 70 persen dari kejadian tersebut dipicu oleh longsoran es dan jatuhan batu yang mendarat di cekungan dan menyebabkan gelombang air meluap melewatinya.
"Hal yang mengkhawatirkan yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah bahwa jumlah kejadian ini tetap relatif stabil antara tahun 1900-an hingga sekitar tahun 1970," ucap Cook.
Namun, dari tahun 1970-an, ketika pemanasan iklim telah meningkat pesat, kejadian banjir bandang meningkat, sebelum terjadi peningkatan tiga kali lipat antara tahun 2011-2020.
Baca juga:
“Ada jeda waktu sekitar lima hingga 20 tahun antara terjadinya pemanasan dan terjadinya banjir. Hal itu berarti kita tahu akan ada lebih banyak banjir glasial masa mendatang," tutur Cook.
Lebih lanjut, seiring pemanasan iklim, selain melihat penyusutan gletser dan genangan air lelehan yang membentuk danau glasial tersebut, manusia juga melihat stabilitas lereng gunung terancam.
"Gletser yang mencair menghasilkan longsoran es, batuan, serta sedimen di dinding gunung sehingga lebih banyak tanah longsor ke di danau-danau tersebut," terang Cook.
Faktor-faktor itulah yang membuat banjir bandang lebih mungkin terjadi di dunia yang memanas, sekaligus menjadi ancaman bagi manusia dan infrastruktur di wilayah pegunungan tinggi di dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya