Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040

Kompas.com, 16 Desember 2025, 17:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekitar 1.000 gletser hilang setiap tahunnya dan jumlahnya diprediksi meningkat jadi 3.000 per tahun pada 2040. Hal tersebut diprediksi terjadi meskipun negara-negara memenuhi target emisi karbon mereka. 

Sementara itu, sedikitnya 4.000 gletser telah mencair dalam dua dekade terakhir. Temuan ini bagian dari studi oleh Lander Van Tricht dari ETH Zurich, Swiss, bersama rekan-rekannya yang dipublikasikan di Nature Climate Change.

Baca juga: 

"Kita akan kehilangan banyak gletser, tapi kita juga memiliki kemampuan untuk mencegah banyak di antaranya,” kata David Rounce dari Universitas Carnegie Mellon di Pittsburgh, Pennsylvania, yang juga terlibat dalam studi, dilansir dari New Scientist, Selasa (16/12/2025).

Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan model iklim untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada 211.000 gletser di dunia pada masa mendatang di bawah berbagai skenario pemanasan global.

Target iklim saat ini menempatkan dunia pada jalur pemanasan sebesar 2,7 derajat celsius di atas suhu masa pra-industri. Hal tersebut berarti 79 persen gletser di dunia akan lenyap pada tahun 2100.

Namun, jika umat manusia berhasil membatasi pemanasan global hingga dua derajat celsius, 63 persen gletser akan lenyap.

Jika negara-negara tidak mematuhi target dan dunia memanas hingga empat derajat celsius maka 91 persen gletser akan hilang.

Baca juga:

Apa dampak mencairnya gletser?

Ilustrasi gletser Antartika. Studi terbaru mengungkap sekitar 1.000 gletser hilang setiap tahun dan jumlahnya bisa melonjak jadi 3.000 pada 2040.SHUTTERSTOCK/Katiekk Ilustrasi gletser Antartika. Studi terbaru mengungkap sekitar 1.000 gletser hilang setiap tahun dan jumlahnya bisa melonjak jadi 3.000 pada 2040.

Dilansir dari World Meteorological Organization (WMO), gletser yang mencair berisiko memicu serangkaian dampak berantai yang luas pada ekonomi, ekosistem, dan masyarakat, tidak hanya di daerah pegunungan tetapi juga pada tingkat global. 

Pencairan gletser diprediksi akan menaikkan permukaan air laut sebesar 25 sentimeter pada abad ini. Hal tersebut juga akan mengurangi limpasan air musim panas yang menjadi tumpuan banyak wilayah untuk irigasi.

Ada sekitar dua miliar orang tinggal di daerah aliran sungai yang bersumber dari salju dan es pegunungan. Banyak di antaranya berada di dekat sungai-sungai yang berhulu dari gletser Pegunungan Himalaya.

Pencairan es juga berarti bahwa banjir yang disebabkan oleh pelepasan air secara tiba-tiba dari danau glasial menjadi lebih sering terjadi, seperti peristiwa yang menewaskan 55 orang di India pada tahun 2023.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Pemerintah
Fenomena 'Sticky Floor', Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Swasta
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Pemerintah
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Pemerintah
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau