Namun, kondisi persampahan di Indonesia yang masih tercampur membuat limbah popok sering berada dalam kondisi basah. Kandungan air ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengolahan.
Pandji mengungkapkan, ITB telah mengembangkan teknologi termo-mekanis yang mampu mengekstraksi plastik dan serat dari limbah popok. Plastik hasil pemilahan diarahkan untuk didaur ulang, sementara seratnya dimanfaatkan sebagai bahan penyerap air untuk produk baru atau sebagai material pengisi bangunan.
“Serat ini bisa memperkuat struktur batako tanpa menambah beratnya. Bahkan, sudah kami coba juga untuk bahan baku kertas,” kata dia.
Menurut Pandji, serat dari limbah popok memiliki potensi besar karena jenis serat tersebut tidak banyak ditemukan pada sumber serat alami di Indonesia.
“Secara umum, serat ini tidak terkandung dalam pohon-pohon di Indonesia, sehingga sangat menarik untuk dimanfaatkan dalam berbagai produk,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, mengatakan terdapat sejumlah jenis sampah yang selama ini dikategorikan sebagai residu karena nilai ekonominya sangat rendah.
Sampah residu adalah jenis sampah yang biaya pengumpulannya lebih mahal dibandingkan harga jualnya, sehingga tidak diminati oleh offtaker. Namun, Agus menyebutkan popok kini mulai keluar dari kategori tersebut di sejumlah daerah.
“Popok tadinya kita kategorikan sebagai residu. Tapi beberapa bulan terakhir saya bertemu dengan perusahaan yang justru memanfaatkan popok, pembalut, termasuk popok dewasa. Itu dicari dan bukan lagi masuk kategori residu,” kata Agus dalam sebuah webinar, Jumat (26/9/2025).
Agus menambahkan, jenis sampah lain seperti styrofoam juga pernah dianggap sulit diolah, tetapi kini mulai banyak dicari. Sebaliknya, sampah multilayer dari kemasan permen, kopi, mie instan, serta kemasan sabun yang mengandung aluminium foil masih sulit didaur ulang, terutama di daerah di luar Jakarta.
Karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup mendorong produsen untuk mendesain kemasan yang lebih mudah didaur ulang atau mengambil kembali kemasan produk pascakonsumsi.
“Sampah plastik bernilai rendah masih menjadi tantangan berat. Misalnya kantong plastik, harganya hanya sekitar Rp 250 sampai Rp 500 per kilogram, padahal satu kilogram setara dengan sekitar 100 lembar plastik,” ujar Agus.
Menurut dia, kondisi serupa juga terjadi pada kemasan mie instan yang harganya sekitar Rp 500 per kilogram atau setara dengan 500 lembar plastik, sehingga secara ekonomi tidak menarik bagi pelaku pengelolaan sampah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya