Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bencana Iklim 2025, Perempuan dan Masyarakat Miskin Paling Terdampak

Kompas.com, 2 Januari 2026, 18:59 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025, menurut laporan World Weather Attribution (WWA).

Kesimpulan tersebut didapat setelah peneliti menganalisis 22 bencana yang dipicu oleh iklim dalam 12 bulan terakhir.

Baca juga: 

“Pendidikan sangat terdampak oleh panas ekstrem. Penutupan sekolah yang berkepanjangan meningkatkan risiko kehilangan pembelajaran, memperkuat ekspektasi rumah tangga yang berdasar pada gender, dan meningkatkan risiko pernikahan dini sehingga membuat kembalinya siswa ke sekolah menjadi lebih sulit bagi perempuan," tulis laporan tersebut, dilansir dari Euronews, Jumat (2/1/2026).

WWA menemukan, perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah membuat panas ekstrem yang dulunya peristiwa sangat langka menjadi sesuatu yang umum, yang mana saat ini diperkirakan terjadi setiap dua tahun sekali.

Studi ini pun menjadi bukti bahwa emisi yang memerangkap panas mendorong kenaikan suhu global dan memicu peristiwa cuaca yang merusak di setiap benua.

Perempuan dan masyarakat miskin terdampak krisis iklim

Berkaca dari kehidupan masyarakat di Sudan selatan

Perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025.Dok. Wikimedia Commons/Amoko Joseph Perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin jadi kelompok paling terdampak bencana iklim yang melanda dunia sepanjang 2025.

WWA membahas kehidupan masyarakat, termasuk perempuan dan anak-anak, di Sudan selatan di Afrika timur dan kaitannya dengan krisis iklim.

Di wilayah tersebut, suhu yang cukup tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 40 derajat celsius, memengaruhi perempuan yang mayoritas bekerja di sektor informal, seperti pertanian atau pekerjaan perawatan tanpa bayaran, yang terpapar panas tinggi.

Para perempuan menghabiskan sekitar 60 persen waktu mereka untuk pekerjaan perawatan tanpa bayaran, seperti mengambil air dan memasak di lingkungan yang sangat panas.

Hal tersebut berisiko menimbulkan berbagai efek kesehatan jangka panjang, seperti tekanan kardiovaskular dan kerusakan ginjal, sekaligus semakin rentan terhadap kelelahan akibat panas.

Tidak hanya itu, pendidikan juga dipengaruhi panas ekstrem. Pada Februari 2025 lalu, gelombang panas melanda Sudan yang membuat puluhan anak pingsan karena serangan panas. Sekolah pun ditutup selama dua minggu.

Masyarakat diimbau untuk berada di dalam rumah dan tetap terhidrasi. Namun, rumah-rumah mereka beratapkan besi tanpa dilengkapi sistem pendingin. Hal itu diperparah dengan akses ke air bersih dan listrik yang tidak memadai. 

Baca juga:

Transisi ke energi bersih

WWA mendesak transisi dari bahan bakar fosil

WWA pun menyerukan transisi mendesak dari bahan bakar fosil ke energi bersih.

Selain itu, WWA juga mendorong adanya investasi dalam langkah adaptasi untuk membantu memerangi peningkatan frekuensi cuaca ekstrem. Pasalnya, WWA menyebut adaptasi terhadap bencana iklim terkadang terbatas.

"Hal ini menggarisbawahi bahwa adaptasi saja tidak cukup. Pengurangan emisi yang cepat tetap penting untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim," tulis laporan WWA. 

Sebagai informasi, bahan bakar fosil selama ini disebut sebagai pendorong utama pemanasan global yang menyumbang sekitar 68 persen emisi gas rumah kaca global, serta hampir 90 persen dari seluruh emisi karbon dioksida.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau