Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Maybank Gandeng YKAN Berdayakan Petani Kakao Perempuan di Berau

Kompas.com, 26 November 2025, 15:46 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Maybank Indonesia menggandeng Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk memberdayakan kelompok petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur. Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska, menjelaskan pihaknya menyasar perempuan lantaran dinilai kelompok ini lebih minim risiko ketika mengelola keuangan.

Selain itu, perusahaan ingin mengasah potensi petani perempuan yang berdampak pada peningkatan ekonomi di keluarga maupun negara.

"Melalui Yayasan Maybank Indonesia, kami mempunyai tiga pilar dari sisi kegiatan ataupun aksi sosial salah satunya adalah community empowerment, di mana fokus kami saat ini memang adalah untuk ke pemberdayaan perempuan," ujar Maria dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).

Baca juga: Bukan dari Aspirasi Petani, Kebijakan Pertanian Sulit Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Di samping pemberdayaan perempuan, perusahaan turut mendukung konservasi alam terutama pada perkebunan kakao di Merasa. Maria menyebut, program ini menargetkan 100 petani perempuan dengan luasan 100 hektare kebun kakao.

Pendanaan hingga Rp 1 miliar diberikan kepada kelompok petani. Mereka juga akan mendapatkan pendampingan minimum satu tahun lamanya.

"Bentuknya bisa macam-macam pendampingan ini, pertama terkait dengan penguatan dari literasi keuangan dan juga kewirausahaan. Kemudian bagaimana cara pertani yang berkelanjutan, juga agaimana kami meningkatkan dari sisi ekonomi dengan pelatihan digital, marketing, promosi," kata dia. 

Dalam kesempatan yang sama, Community Develompment Manager YKAN, Dina Riska, menyampaikan pihaknya menyoroti tutupan lahan di Merasa yang terancam sehingga memilih kampung ini untuk diberdayakan. Lainnya, mengembangkan potensi komoditas kakao yang menghubungkan antara hutan lestari dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Baca juga: Dulu Krisis, Petani Sumba Timur Kini Panen Enam Ton Bibit Rumput Laut

"Kami membantu akurat kelompok internal control system-nya, mengimbangkan dengan pembelinya yang selama ini berkolaborasi dengan Maybank Team, dan mendukung bagaimana mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan. Kemudian nanti seimbang antara manusianya, antara hutannya, dan ekonominya," papar Dina.

Tiga Ancaman Besar

Kendati demikian, perkebunan kakao menghadapi ancaman alih fungsi lahan akibat perizinan dan aktivitas pertambangan. Kedua, ancaman ekologis seperti banjir yang kerap terjadi. 

Meski banjir secara alami bisa membawa unsur hara dan bermanfaat bagi sistem pertanian organik, perubahan intensitasnya menyebabkan produktivitas kebun menurun.

Terakhir, kelompok perempuan menghadapi keterbatasan akses terhadap pendanaan, pelatihan, dan pengembangan usaha. Oleh sebab itu, perempuan tak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan kerja sama untuk membuka pasar.

“Kami tidak hanya melihat mau memperbaiki kebun kakao, tetapi ketika kami memperbaiki kebun kakaonya kami juga meningkatkan ekonomi masyarakat, kami juga menjaga hutan. Itu yang menjadi core kami di proyek ini,” jelas dia.

Pada aspek komunitas, YKAN membantu penerapan praktik pertanian berkelanjutan yang dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kualitas lahan. Program ini dirancang agar praktik pertanian yang lebih baik dapat berkontribusi pada perlindungan hutan di Kampung Merasa.

Baca juga: Perubahan Iklim di Pegunungan Melesat Cepat, Ancam Miliaran Orang

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pekerja Lebih Prioritaskan Remote Working Dibanding Gaji dan Tunjangan
Pekerja Lebih Prioritaskan Remote Working Dibanding Gaji dan Tunjangan
Swasta
Dompet Dhuafa Berangkatkan 750 Peserta Mudik Gratis ke Jawa dan Sumatera
Dompet Dhuafa Berangkatkan 750 Peserta Mudik Gratis ke Jawa dan Sumatera
Swasta
Tisu Basah Lepaskan Mikroplastik ke Sungai, Bahaya untuk Lingkungan
Tisu Basah Lepaskan Mikroplastik ke Sungai, Bahaya untuk Lingkungan
LSM/Figur
Sektor Energi Sumbang 75 Persen Emisi Global, Ini Pentingnya Transparansi Data di Indonesia
Sektor Energi Sumbang 75 Persen Emisi Global, Ini Pentingnya Transparansi Data di Indonesia
LSM/Figur
Polusi Udara di 19 Kota Besar Turun Drastis, Ini Sebabnya
Polusi Udara di 19 Kota Besar Turun Drastis, Ini Sebabnya
LSM/Figur
Kadar Hidrogen di Atmosfer Bumi Naik 60 Persen
Kadar Hidrogen di Atmosfer Bumi Naik 60 Persen
LSM/Figur
Harita Nickel Targetkan Pasang PLTS Atap 38 MWp Rampung April 2026
Harita Nickel Targetkan Pasang PLTS Atap 38 MWp Rampung April 2026
Swasta
Kinerja Karbon Shell 2025, Catat 1,1 Miliar Ton Emisi Gas Rumah Kaca
Kinerja Karbon Shell 2025, Catat 1,1 Miliar Ton Emisi Gas Rumah Kaca
Swasta
Sarihusada Sabet Penghargaan Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2026
Sarihusada Sabet Penghargaan Indonesia Best Companies in HSE Implementation 2026
Swasta
Lebih 50 Persen Balok Lego Gunakan Bahan Ramah Lingkungan
Lebih 50 Persen Balok Lego Gunakan Bahan Ramah Lingkungan
Swasta
Potensi Karbon Biru Indonesia Capai Rp 33 Triliun per Tahun, Apa Tantangannya?
Potensi Karbon Biru Indonesia Capai Rp 33 Triliun per Tahun, Apa Tantangannya?
Pemerintah
Tantangan Proyek Waste to Energy di Indonesia, Sampah hingga Emisi
Tantangan Proyek Waste to Energy di Indonesia, Sampah hingga Emisi
LSM/Figur
Targetkan Bauran EBT 2026 Capai 21 Persen, Pemerintah Kebut PLTS 100 GW hingga BBN
Targetkan Bauran EBT 2026 Capai 21 Persen, Pemerintah Kebut PLTS 100 GW hingga BBN
Pemerintah
Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Jadi Sorotan
Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Jadi Sorotan
Pemerintah
Tekan impor BBM, Pemerintah Fokus Kembangkan Bioetanol Tebu-Singkong
Tekan impor BBM, Pemerintah Fokus Kembangkan Bioetanol Tebu-Singkong
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau