JAKARTA, KOMPAS.com - Maybank Indonesia menggandeng Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk memberdayakan kelompok petani kakao perempuan di Kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur. Head of Sustainability Maybank Indonesia, Maria Trifanny Fransiska, menjelaskan pihaknya menyasar perempuan lantaran dinilai kelompok ini lebih minim risiko ketika mengelola keuangan.
Selain itu, perusahaan ingin mengasah potensi petani perempuan yang berdampak pada peningkatan ekonomi di keluarga maupun negara.
"Melalui Yayasan Maybank Indonesia, kami mempunyai tiga pilar dari sisi kegiatan ataupun aksi sosial salah satunya adalah community empowerment, di mana fokus kami saat ini memang adalah untuk ke pemberdayaan perempuan," ujar Maria dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025).
Baca juga: Bukan dari Aspirasi Petani, Kebijakan Pertanian Sulit Kontribusi Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Di samping pemberdayaan perempuan, perusahaan turut mendukung konservasi alam terutama pada perkebunan kakao di Merasa. Maria menyebut, program ini menargetkan 100 petani perempuan dengan luasan 100 hektare kebun kakao.
Pendanaan hingga Rp 1 miliar diberikan kepada kelompok petani. Mereka juga akan mendapatkan pendampingan minimum satu tahun lamanya.
"Bentuknya bisa macam-macam pendampingan ini, pertama terkait dengan penguatan dari literasi keuangan dan juga kewirausahaan. Kemudian bagaimana cara pertani yang berkelanjutan, juga agaimana kami meningkatkan dari sisi ekonomi dengan pelatihan digital, marketing, promosi," kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Community Develompment Manager YKAN, Dina Riska, menyampaikan pihaknya menyoroti tutupan lahan di Merasa yang terancam sehingga memilih kampung ini untuk diberdayakan. Lainnya, mengembangkan potensi komoditas kakao yang menghubungkan antara hutan lestari dengan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Baca juga: Dulu Krisis, Petani Sumba Timur Kini Panen Enam Ton Bibit Rumput Laut
"Kami membantu akurat kelompok internal control system-nya, mengimbangkan dengan pembelinya yang selama ini berkolaborasi dengan Maybank Team, dan mendukung bagaimana mengembangkan praktik pertanian berkelanjutan. Kemudian nanti seimbang antara manusianya, antara hutannya, dan ekonominya," papar Dina.
Kendati demikian, perkebunan kakao menghadapi ancaman alih fungsi lahan akibat perizinan dan aktivitas pertambangan. Kedua, ancaman ekologis seperti banjir yang kerap terjadi.
Meski banjir secara alami bisa membawa unsur hara dan bermanfaat bagi sistem pertanian organik, perubahan intensitasnya menyebabkan produktivitas kebun menurun.
Terakhir, kelompok perempuan menghadapi keterbatasan akses terhadap pendanaan, pelatihan, dan pengembangan usaha. Oleh sebab itu, perempuan tak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan kerja sama untuk membuka pasar.
“Kami tidak hanya melihat mau memperbaiki kebun kakao, tetapi ketika kami memperbaiki kebun kakaonya kami juga meningkatkan ekonomi masyarakat, kami juga menjaga hutan. Itu yang menjadi core kami di proyek ini,” jelas dia.
Pada aspek komunitas, YKAN membantu penerapan praktik pertanian berkelanjutan yang dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kualitas lahan. Program ini dirancang agar praktik pertanian yang lebih baik dapat berkontribusi pada perlindungan hutan di Kampung Merasa.
Baca juga: Perubahan Iklim di Pegunungan Melesat Cepat, Ancam Miliaran Orang
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya