Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi

Kompas.com, 9 Januari 2026, 21:09 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Rencana uji coba B50, atau bahan bakar hasil pencampuran solar dan biodiesel dari minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, dijadwalkan selesai pada semester pertama tahun 2026. Sementara itu, implementasi B50 direncanakan pada semester kedua 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengatakan, implementasi B40 atau biodiesel sebesar 40 persen saja dapat mengurangi impor solar hingga lima juta ton pada tahun 2025. Jika persentase biodiesel dinaikkan menjadi 50 persen atau B50, kemungkinan Indonesia bebas dari impor solar.

Baca juga: 

Bahlil mengatakan, penghematan devisa sebesar Rp 130,21 triliun dan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) mencapai 38,88 juta ton CO2e (karbon dioksida ekuivalen) akibat implementasi B40 pada 2025.

"Jika berhasil maka akan bisa ke B50. Dengan demikian, kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026," ujar Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2025 yang disiarkan secara virtual, Kamis (8/1/2026).

Adakah risiko B50?

Implementasi B50 disebut bersifat trade off

Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa menilai target iklim Indonesia dalam SNDC belum mencerminkan visi energi terbarukan Presiden Prabowo.DOK. IESR Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa menilai target iklim Indonesia dalam SNDC belum mencerminkan visi energi terbarukan Presiden Prabowo.

Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, implementasi B50 memiliki trade off atau situasi yang mengharuskan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hal lain yang lebih berharga.

Trade off dari implementasi B50 adalah jika tidak bisa meningkatkan produktivitas minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), semua yang terkait industri ini akan menjadi korban.

"Kemarin saya mendengar penjelasan Menteri ESDM, saat ada yang tanya (trade off), dia bilang, 'Ya biar negara yang urus deh'. Faktanya, (memproduksi) Fatty Acid Methyl Ester (FAME sebagai produk turunan CPO) itu lebih mahal dari BBM. Apalagi, sekarang harga BBM (bahan bakar minyak) rendah, turun ya. Sementara jika dilihat harga CPO tetap tinggi," jelas Fabby.

Fabby menjelaskannya dalam podcast Outlook Energi Indonesia 2026: Kemandirian, Keterjangkauan, dan Keberlanjutan yang diadakan oleh IESR, Jumat (9/1/2026).

Semakin tinggi campuran biodiesel (FAME) atau naik menjadi 50 persen, akan meningkatkan biayanya. Di sisi lain, selama ini, campuran biodiesel disubsidi Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang bersumber dari pungutan ekspor CPO.

Besaran pungutan BPDPKS tergantung harga CPO. Dana dari pungutan tersebut digunakan untuk membayar selisih harga produksi biodiesel dan riil-nya.

"Sehingga, semua orang bahagia, enggak ada yang dirugikan. Nah, pertanyaannya, apakah dana BPDPKS akan cukup untuk mensubsidi B50, apalagi kandungan FAME-nya lebih tinggi dan harga BBM malah turun?" ucapnya.

Baca juga:

IESR menilai biodiesel B50 memiliki trade off. Jika harga CPO tetap tinggi saat harga minyak global turun, beban subsidi BPDPKS akan meningkat. canva.com IESR menilai biodiesel B50 memiliki trade off. Jika harga CPO tetap tinggi saat harga minyak global turun, beban subsidi BPDPKS akan meningkat.

Selain itu, Amerika Serikat (AS) ingin menurunkan harga minyak dengan meningkatkan produksinya di tingkat global. Kendati terjadi berbagai insidien geopolitik, seperti perang, harga minyak dinilai tidak terlalu terdampak.

"Kita bisa membayangkan beberapa tahun ke depan, itu harga minyak bisa jadi lebih rendah dari sekarang ya. Nah, kita bisa membayangkan kalau sudah ditetapkan B50 ya, terus 2027, harga minyak hanya 50 dollar AS per barel ya," ujar Fabby.

Jika harga CPO tetap tinggi saat harga minyak global justru terus menurun, beban subsidi BPDPKS akan meningkat.

Imbasnya, pemerintah akan terpaksa turun tangan dengan mengucurkan subsidi tambahan, seperti yang terjadi pada tahun 2022.

Hal itu akan berdampak terhadap defisit anggaran negara dan ditambal dengan utang, yang pada gilirannya ditanggung oleh masyarakat melalui pajak. Khususnya, masyarakat kelas menengah dan generasi yang akan datang.

Fabby menilai, secara ekonomi, B50 tidak bermanfaat karena sebenarnya anggarannya bisa dialihkan untuk memberi stimulus untuk pengembangan energi baru terbarukankan (EBT).

"Ini belum program-program lain, seperti rekonstruksi pasca bencana di Sumatera yang biayanya sangat besar. Ini yang perlu menjadi pertimbangan presiden agar tidak atas nama ketahanan energi, tapi ujung-ujungnya membebani APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara)," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau