DENPASAR, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyelesaikan uji lab terhadap tiga campuran B50 atau bakar bahan hasil dari pencampuran solar dan biodiesel dari minyak sawit sebesar 50 persen.
Adapun formulasinya 50 persen biodiesel berbentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME); sebesar 35 persen FAME dan 15 persen biodiesel berbentuk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO); serta 40 persen FAME dan 10 persen HVO.
Baca juga: Uji Coba Biodiesel B50 Dimulai, Apa Manfaatnya untuk Energi Nasional?
Ketiga campuran tersebut diuji lab terhadap solar eksisting yang diproduksi PT Pertamina dan solar dengan kandungan sulfur rendah atau 50 parts per million (PPM).
Hasilnya, pencampuran 35 persen FAME, 15 persen HVO, dan solar dengan kandungan sulfur rendah menjadi B50 berkualitas terbaik.
Namun, percampuran tersebut akan berdampak pada harga B50 di pasar karena biaya produksi HVO bisa dua kali lipat lebih tinggi ketimbang FAME. Padahal, kalau persentase campuran HVO lebih banyak, kandungan sulfurnya semakin rendah.
"Kami pakai Solar dan kandungan sulfurnya masih sekitar 2.000 PPM per liter. Kami memang ingin sulfurnya lebih rendah," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi dalam acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Bali, Kamis (13/11/2025).
Kandungan sulfur pada sebesar 2.000 PPM termasuk tinggi, terutama jika dibandingkan dengan standar emisi modern seperti Euro 4.
Dalam uji jalan pada 3 Desember 2025 nanti, ESDM memutuskan menggunakan campuran solar yang diproduksi Pertamina saat ini yang kandungannya sulfur 2.000 PPM dengan 50 persen FAME.
ESDM menghitung proses penyesuaian mesin selama masa uji jalan B50 dengan campuran tersebut, yang akan digelar secara serentak terhadap enam jenis kendaraan.
Kendaraan yang dimaksud meliputi kapal, truk di kawasan tambang, kereta api, genset, serta alat dan mesin pertanian. Namun, estimasi selesainya masa uji jalan berbeda-beda untuk enam jenis kendaraan dari berbagai sektor itu.
"Ada yang (selesai) dua bulan, ada yang empat bulan, ada yang enam bulan, (dan) yang paling lama delapan bulan," tutur Eniya.
Di sisi lain, B50 dengan campuran tersebut memiliki daya rusak terhadap mesin lebih besar 30 persen dari B40, meski dari segi harga memang terjangkau. Berdasarkan lasil lab, B50 dengan campuran tersebut juga berpotensi menurunkan daya torsi kendaraan hingga 20 persen.
ESDM belum memutuskan untuk mewajibkan program B50 untuk semua produsen BBM solar. Keputusan mandatori program B50 masih menunggu hasil kajian tekno-ekonomi, harga indeks pasar, serta teknis implementasinya.
"Kami diskusikan memang, yang bagus arah mandatorinya tuh seperti apa," ucapnya.
Produksi solar di Indonesia diproyeksikan surplus hingga 9 juta ton pada 2026 akibat pengoperasian Refinery Development Master Plan Balikpapan. Itu mengisyaratkan tahun depan akan adanya penghentian impor solar untuk program B40.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya