Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terkendala Harga, ESDM Pilih Solar dengan Kandungan Sulfur Tinggi untuk Campuran B50

Kompas.com, 14 November 2025, 10:00 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

DENPASAR, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyelesaikan uji lab terhadap tiga campuran B50 atau bakar bahan hasil dari pencampuran solar dan biodiesel dari minyak sawit sebesar 50 persen.

Adapun formulasinya 50 persen biodiesel berbentuk Fatty Acid Methyl Ester (FAME); sebesar 35 persen FAME dan 15 persen biodiesel berbentuk Hydrotreated Vegetable Oil (HVO); serta 40 persen FAME dan 10 persen HVO.

Baca juga: Uji Coba Biodiesel B50 Dimulai, Apa Manfaatnya untuk Energi Nasional?

Ketiga campuran tersebut diuji lab terhadap solar eksisting yang diproduksi PT Pertamina dan solar dengan kandungan sulfur rendah atau 50 parts per million (PPM).

Hasilnya, pencampuran 35 persen FAME, 15 persen HVO, dan solar dengan kandungan sulfur rendah menjadi B50 berkualitas terbaik.

Namun, percampuran tersebut akan berdampak pada harga B50 di pasar karena biaya produksi HVO bisa dua kali lipat lebih tinggi ketimbang FAME. Padahal, kalau persentase campuran HVO lebih banyak, kandungan sulfurnya semakin rendah.

"Kami pakai Solar dan kandungan sulfurnya masih sekitar 2.000 PPM per liter. Kami memang ingin sulfurnya lebih rendah," ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi dalam acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Bali, Kamis (13/11/2025).

Kandungan sulfur pada sebesar 2.000 PPM termasuk tinggi, terutama jika dibandingkan dengan standar emisi modern seperti Euro 4.

Dalam uji jalan pada 3 Desember 2025 nanti, ESDM memutuskan menggunakan campuran solar yang diproduksi Pertamina saat ini yang kandungannya sulfur 2.000 PPM dengan 50 persen FAME.

Uji Coba

ESDM menghitung proses penyesuaian mesin selama masa uji jalan B50 dengan campuran tersebut, yang akan digelar secara serentak terhadap enam jenis kendaraan.

Kendaraan yang dimaksud meliputi kapal, truk di kawasan tambang, kereta api, genset, serta alat dan mesin pertanian. Namun, estimasi selesainya masa uji jalan berbeda-beda untuk enam jenis kendaraan dari berbagai sektor itu.

"Ada yang (selesai) dua bulan, ada yang empat bulan, ada yang enam bulan, (dan) yang paling lama delapan bulan," tutur Eniya.

Di sisi lain, B50 dengan campuran tersebut memiliki daya rusak terhadap mesin lebih besar 30 persen dari B40, meski dari segi harga memang terjangkau. Berdasarkan lasil lab, B50 dengan campuran tersebut juga berpotensi menurunkan daya torsi kendaraan hingga 20 persen.

ESDM belum memutuskan untuk mewajibkan program B50 untuk semua produsen BBM solar. Keputusan mandatori program B50 masih menunggu hasil kajian tekno-ekonomi, harga indeks pasar, serta teknis implementasinya.

"Kami diskusikan memang, yang bagus arah mandatorinya tuh seperti apa," ucapnya.

Produksi solar di Indonesia diproyeksikan surplus hingga 9 juta ton pada 2026 akibat pengoperasian Refinery Development Master Plan Balikpapan. Itu mengisyaratkan tahun depan akan adanya penghentian impor solar untuk program B40.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau