Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Bumi Tetap Ekstrem Selama 11 Tahun Meski Ada La Nina

Kompas.com, 15 Januari 2026, 13:53 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber PBB

KOMPAS.com - World Meteorological Organization (Badan Meteorologi Dunia atau WMO) mengingatkan dunia soal rekor pemanasan global yang terus berlanjut, termasuk suhu bumi yang ekstrem selama 11 tahun. 

"11 tahun terakhir merupakan periode terpanas dalam era modern, sdangkan lautan juga terus memanas," tulis WMO, dilansir dari laman resmi PBB, Kamis (15/1/2026).

Baca juga:

Lembaga PBB ini menegaskan bahwa suhu bumi masih berada di level sangat tinggi meski La Nina sempat terjadi.

Adapun La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, dilaporkan Kompas.com, Sabtu (12/4/2025).

Tren suhu ekstrem di bumi selama 11 tahun

Tahun 2025 jadi tahun terpanas ketiga di dunia, meski lebih "dingin" dari 2023

Badan PBB WMO mengingatkan pemanasan global berlanjut selama 11 tahun meski La Nina terjadi tahun 2025.Pexels/Pixabay Badan PBB WMO mengingatkan pemanasan global berlanjut selama 11 tahun meski La Nina terjadi tahun 2025.

WMO mengonfirmasi bahwa tahun 2025 tercatat tahun terpanas ketiga di dunia sepanjang sejarah pengukuran suhu global. Temuan ini memperpanjang tren suhu ekstrem yang sudah berlangsung selama 11 tahun terakhir.

Lembaga tersebut menyusun kesimpulan setelah menganalisis delapan kumpulan data internasional.

Hasilnya menunjukkan bahwa suhu rata-rata permukaan global pada tahun 2025 mencapai 1,44 derajat celsius di atas rata-rata periode pra-industri periode 1850 hingga 1900.

Dari delapan dataset tersebut, dua di antaranya menempatkan tahun 2025 sebagai tahun terpanas kedua dalam catatan suhu selama 176 tahun.

Enam dataset lainnya menempatkan tahun 2025 di posisi ketiga terpanas. Data ini memperkuat peringatan bahwa pemanasan global masih berlangsung tanpa jeda berarti.

Bumi tetap panas meski ada La Nina

Badan PBB WMO mengingatkan pemanasan global berlanjut selama 11 tahun meski La Nina terjadi tahun 2025.KOMPAS.com/Lalu Muammar Q Badan PBB WMO mengingatkan pemanasan global berlanjut selama 11 tahun meski La Nina terjadi tahun 2025.

WMO menjelaskan bahwa suhu pada tahun 2025 sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya sejak tahun 2023.

Kondisi ini sebagian dipengaruhi oleh fenomena La Nina yang identik dengan suhu lebih dingin.

Kendati demikian, WMO menegaskan bahwa efek pendinginan dari La Nina tidak mengubah tren jangka panjang. Pemanasan global tetap berlanjut dan bahkan semakin menguat dari waktu ke waktu.

Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, menyampaikan bahwa kondisi ini menjadi bukti nyata dampak akumulasi gas rumah kaca di atmosfer.

"Tahun 2025 dimulai dan diakhiri dengan fenomena La Nina yang mendinginkan, tapi tetap menjadi salah satu tahun terpanas dalam catatan secara global akibat penumpukan gas rumah kaca yang menangkap panas di atmosfer kita," ucap Saulo.

Baca juga:

WMO juga mencatat bahwa suhu tinggi di daratan dan lautan sepanjang tahun 2025 memicu berbagai peristiwa cuaca ekstrem. Dampaknya terasa di banyak wilayah dunia.

Gelombang panas terjadi lebih sering, curah hujan ekstrem meningkat di sejumlah wilayah, dan siklon tropis mematikan juga tercatat selama periode tersebut. 

WMO menilai kondisi ini semakin menekankan pentingnya sistem peringatan dini. Sistem ini dinilai krusial untuk melindungi masyarakat dari dampak cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.

Panas lautan kian mengkhawatirkan

Badan PBB WMO mengingatkan pemanasan global berlanjut selama 11 tahun meski La Nina terjadi tahun 2025.pexels Badan PBB WMO mengingatkan pemanasan global berlanjut selama 11 tahun meski La Nina terjadi tahun 2025.

Selain daratan, WMO juga menyoroti kondisi lautan yang terus mengalami peningkatan suhu.

Mengutip studi terpisah, WMO menyebut suhu laut pada tahun 2025 termasuk yang tertinggi dalam sejarah pencatatan.

Kondisi ini mencerminkan akumulasi panas jangka panjang di dalam sistem iklim Bumi. Sekitar 33 persen wilayah laut global tercatat berada dalam tiga kondisi terpanas sepanjang periode 1958 hingga 2025.

Sementara itu, sekitar 57 persen wilayah laut dunia masuk dalam lima kondisi terpanas. Wilayah yang terdampak mencakup Samudera Atlantik tropis dan selatan, Laut Mediterania, Samudera Hindia bagian utara, serta Samudra Selatan (Samudera Antartika).

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau