Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Lebih Banyak Ruang Hijau Belum Tentu Mampu Redam Panas

Kompas.com, 14 Januari 2026, 17:38 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Kota-kota di seluruh dunia menanam lebih banyak pohon dan menciptakan taman baru untuk memerangi kenaikan suhu. Tetapi sebuah studi selama satu dekade di kota-kota Taiwan Utara mengungkapkan paradoks yang mengkhawatirkan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal jurnal Sustainable Cities and Society mencatat lebih banyak ruang hijau tidak selalu berarti risiko panas yang lebih rendah. Selain itu, manfaat adaptasi panas dari penghijauan perkotaan tidak menjangkau semua orang secara merata.

Melansir Phys, Rabu (14/1/2026) studi yang menganalisis data suhu bersamaan dengan ruang hijau dan pola sosial ekonomi di enam wilayah perkotaan dari tahun 2009–2012 dan 2019–2022, menemukan bahwa beberapa wilayah mengalami pemanasan yang lebih besar meskipun ruang hijau meningkat.

Baca juga: Ruang Terbuka Hijau untuk Lindungi Kesehatan Mental Seluruh Dunia

Ini menunjukkan bahwa upaya penghijauan tidak dapat mengimbangi intensitas pemanasan perkotaan, terutama ketika area alami menjadi terfragmentasi oleh pembangunan di sekitarnya.

Penelitian ini juga menemukan bahwa taman dan ruang hijau yang terdistribusi lebih merata di seluruh wilayah perkotaan, justru menyediakan ruang bagi populasi rentan untuk berinteraksi sosial.

Dalam hal ini, perencanaan kota Taiwan tampaknya telah membantu. Namun, di sisi lain manfaat pendinginan dari ruang hijau tersebut sering berkurang karena adanya pertukaran antara fungsi pendinginan dan sosial.

Tantangan di Pinggiran Kota

Studi juga mengkhawatirkan area pinggiran kota, di mana pembangunan yang pesat memecah-belah ruang hijau dan meningkatkan paparan panas. Area tersebut seringkali terlihat lebih hijau daripada pusat kota, sehingga menutupi risiko panas yang berdampak pada masyarakat.

Baca juga: Ruang Hijau Tidak Cukup, Kota-kota Kita Perlu Diliarkan Kembali

Temuan ini pun menyoroti bahwa begitu area alami diubah menjadi bangunan, fungsi pengatur suhunya tidak mungkin kembali, dengan konsekuensi pemanasan yang meluas ke area sekitarnya. Perlindungan dini terhadap ruang hijau dari ekspansi kota sangatlah penting.

"Ketimpangan risiko panas tidaklah statis tapi berkembang seiring dengan urbanisasi dan bagaimana keputusan pembangunan membentuk ulang ruang hijau serta komposisi sosio-ekonomi lingkungan," kata Prof. Wan-Yu Shih, penulis pertama dan penulis korespondensi dari studi.

"Mengatasi hal ini memerlukan pemikiran jangka panjang tentang konsekuensi perencanaan, bukan sekadar menambahkan lebih banyak tanaman hijau setelah pembangunan selesai," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gubernur Bali Wayan Koster Minta KLH Tunda Penutupan TPA Suwung
Gubernur Bali Wayan Koster Minta KLH Tunda Penutupan TPA Suwung
Pemerintah
Microsoft Pastikan Pusat Data Baru Tak Pengaruhi Listrik dan Ketersediaan Air
Microsoft Pastikan Pusat Data Baru Tak Pengaruhi Listrik dan Ketersediaan Air
Swasta
Studi: Lebih Banyak Ruang Hijau Belum Tentu Mampu Redam Panas
Studi: Lebih Banyak Ruang Hijau Belum Tentu Mampu Redam Panas
Pemerintah
Kerugian Bencana Alam Global 2025 Turun 40 Persen, tapi..
Kerugian Bencana Alam Global 2025 Turun 40 Persen, tapi..
Pemerintah
Startup Ekonomi Sirkular Ciptakan Peluang di Pasar yang Sulit Ditembus
Startup Ekonomi Sirkular Ciptakan Peluang di Pasar yang Sulit Ditembus
Pemerintah
93 Persen Habitat Paus dan Lumba-lumba di Barat Sumatera di Luar Area Lindung
93 Persen Habitat Paus dan Lumba-lumba di Barat Sumatera di Luar Area Lindung
LSM/Figur
Pemakaian Obat Kutu Hewan Bisa Berdampak pada Lingkungan
Pemakaian Obat Kutu Hewan Bisa Berdampak pada Lingkungan
Swasta
Cuaca Makin Ekstrem, Emisi Gas Rumah Kaca Perancis Melambat pada 2025
Cuaca Makin Ekstrem, Emisi Gas Rumah Kaca Perancis Melambat pada 2025
Pemerintah
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
El Nino dan La Nina Picu Kekeringan dan Banjir Ekstrem Bersamaan
LSM/Figur
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
Ilmuwan Usulkan Tenggelamkan Pohon di Samudera Arktik untuk Serap Karbon
LSM/Figur
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
KKP Perketat Pengawasan 25 Spesies Ikan dan Penyu, Cegah Penyelundupan
Pemerintah
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
CDP Umumkan 877 Perusahaan Raih Skor A Tahun 2025, Kinerja Lingkungan Meningkat
Swasta
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Preferensi Investor Bergeser ke Skrining ESG Positif, Ini Penjelasannya
Pemerintah
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Survei Ungkap Pasar Karbon Sukarela Diprediksi Tumbuh Pesat
Swasta
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau