Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lautan Dunia Pecahkan Rekor Panas pada 2025, Pakar Jelaskan Penyebabnya

Kompas.com, 13 Januari 2026, 11:57 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AFP

KOMPAS.com - Lautan dunia mencatat rekor baru karena menyerap panas tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025. Panas yang terakumulasi di lautan sepanjang 2025 dinilai meningkat sekitar 23 zetta Joule, setara dengan hampir empat dekade konsumsi energi primer global.

Para peneliti lantas memperingatkan dampak pemanasan global yang kian intens, sekaligus memperbesar risiko kenaikan permukaan laut, badai ekstrem, hingga kematian terumbu karang.

Baca juga: 

“Hasil penelitian 2025 menegaskan bahwa lautan terus menghangat,” kata Oseanografer Mercator Ocean International, Karina von Schuckmann, dilansir dari AFP, Selasa (13/1/2026).

Laut menyerap panas tertinggi sepanjang 2025

Perairan yang lebih panas berpotensi membahayakan terumbu karang

Studi mengungkap laut menghangat drastis sepanjang 2025. Kondisi ini meningkatkan risiko kenaikan muka laut.UNSPLASH/QUI NGUYEN Studi mengungkap laut menghangat drastis sepanjang 2025. Kondisi ini meningkatkan risiko kenaikan muka laut.

Schuckmann menjelaskan, para peneliti yang mencakup lebih dari 50 ilmuwan di 31 lembaga riset menggunakan berbagai sumber data, termasuk armada ribuan robot terapung pelacak perubahan laut hingga kedalaman 2.000 meter.

Menurut dia, pengamatan di kedalaman laut memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan hanya melihat fluktuasi suhu di permukaan.

Hal tersebut menjadi indikator yang lebih baik tentang bagaimana lautan merespons tekanan terus-menerus dari emisi yang dihasilkan manusia.

Lautan, kata Schuckmann, merupakan pengatur utama iklim bumi lantaran menyerap 90 persen panas berlebih di atmosfer akibat pelepasan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dari aktivitas manusia.

Baca juga: 

Namun, dalam studi yang terbit di jurnal Advances in Atmospheric Sciences ini, kelebihan energi tersebut justru berdampak pada lebih hangatnya lautan, peningkatan kandungan uap air di atmosfer, memperkuat siklon tropis, serta meningkatkan hujan ekstrem yang merusak.

Di samping itu, peneliti menegaskan bahwa perairan yang lebih panas menaikkan permukaan laut. Hal itu berpotensi menyebabkan kematian terumbu karang.

“Selama bumi terus mengakumulasi panas, kandungan panas laut akan terus meningkat, permukaan laut akan naik, dan rekor-rekor baru akan tercipta,” tutur Schuckmann.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau