Penulis
KOMPAS.com - NASA kembali merilis laporan tahunan tentang suhu permukaan bumi. Laporan ini mencatat bahwa suhu global pada tahun 2025 tetap berada di level sangat tinggi.
Namun, NASA tidak menyebut istilah perubahan iklim dalam pernyataan resminya, dilansir dari AFP, Kamis (15/1/2026).
Baca juga:
Dalam laporan yang dirilis Rabu (14/1/2026) lalu, NASA menyebutkan bahwa suhu permukaan global bumi pada tahun 2025 sedikit lebih hangat dibanding tahun 2023. Selisihnya masih berada dalam batas kesalahan pengukuran.
Dengan hasil ini, 2025 secara efektif berada di posisi tahun terpanas kedua setelah tahun 2024.
Meski demikian, NASA tidak mengaitkan pemanasan tersebut dengan aktivitas manusia. Tidak ada penjelasan tentang emisi karbon, serta tidak ada pula rujukan pada pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil.
NASA melaporkan suhu Bumi 2025 cukup panas, tanpa menyebut perubahan iklim. Simak penjelasannya.Sikap ini berbeda dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2024, saat pemerintahan Presiden Joe Biden, NASA dinilai menyampaikan pernyataan yang tegas. Laporan saat itu menyebut pemanasan global disebabkan oleh aktivitas manusia.
"Pemanasan global ini telah disebabkan oleh aktivitas manusia," ucap Biden kala itu.
Dampak pemanasan global pun dijelaskan, seperti gelombang panas, kebakaran hutan, hujan ekstrem, dan banjir pesisir.
Perbedaan pendekatan ini muncul setelah Presiden Donald Trump kembali mendorong kebijakan yang menolak realitas pemanasan global akibat ulah manusia.
Dalam konteks ini, rilis NASA tahun 2025 menjadi sangat singkat. Dokumen tersebut hanya terdiri dari enam paragraf dan berisi poin-poin dasar serta angka kunci.
"Pernyataan resmi dan data yang tersedia secara publik menyediakan analisis resmi dari badan tersebut," tulis pernyataan dari NASA.
Baca juga:
NASA melaporkan suhu Bumi 2025 cukup panas, tanpa menyebut perubahan iklim. Simak penjelasannya.Berdasarkan analisis NASA, suhu rata-rata global pada 2025 berada 2,14 derajat fahrenheit atau sekitar 1,19 derajat celsius di atas rata-rata periode 1951–1980. Data ini dikumpulkan dari lebih dari 25.000 stasiun meteorologi di seluruh dunia.
NASA juga menggunakan data dari kapal laut dan pelampung pengukur suhu permukaan laut. Selain itu, data berasal dari stasiun penelitian di Antartika.
Semua data kemudian dianalisis dan dikoreksi untuk menghindari bias akibat perubahan sebaran stasiun dan efek pemanasan perkotaan.
Sementara itu, lembaga lain memberikan penilaian yang sedikit berbeda. Laporan Copernicus Climate Change Service dan Berkeley Earth menempatkan tahun 2025 sebagai tahun terpanas ketiga di dunia, setelah tahun 2024 dan 2023.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya