Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Marine Darkwave, Fenomena Dasar Laut Gelap Total yang Ancam Ekosistem

Kompas.com, 17 Januari 2026, 22:33 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Terdapat fenomena yang membuat dasar laut gelap total sehingga bisa mengancam ekosistem laut. Fenomena ini dikenal sebagai marine darkwave (gelombang laut gelap). 

Ada beberapa faktor yang bisa menghalangi sinar matahari menembus perairan, antara lain sedimen dari daratan, ledakan alga, dan material organik. Dalam kondisi tertentu, cahaya yang sampai ke dasar laut bisa turun drastis hingga hampir nol.

Baca juga:

"Penurunan cahaya bawah air secara berulang dapat menjadi faktor utama dalam degradasi ekosistem laut," tulis penelitian yang diterbitkan di Communications Earth & Environment, dilansir dari Nature, Sabtu (17/1/2026).

"Namun, kerangka kerja berbasis peristiwa yang konsisten yang menggambarkan frekuensi, durasi, dan intensitas penurunan cahaya bawah air yang signifikan tapi bersifat jangka pendek belum ada," tambah studi tersebut. 

Untuk memahami kejadian ini secara lebih sistematis, tim ilmuwan internasional mengembangkan kerangka kerja ilmiah pertama untuk mengidentifikasi fenomena tersebut. 

Dalam penelitian itu, para ilmuwan memperkenalkan istilah baru bernama marine darkwave.

Marine darkwave, fenomena dasar laut gelap total

Membahayakan organisme laut yang masih memerlukan cahaya matahari

Ilmuwan melacak fenomena marine darkwave yang membuat dasar laut gelap total dan mengancam ekosistem laut dunia.Dok. Wikimedia Commons/Dimitris Siskopoulos Ilmuwan melacak fenomena marine darkwave yang membuat dasar laut gelap total dan mengancam ekosistem laut dunia.

Marine darkwave adalah periode singkat, tapi ekstrem ketika cahaya bawah laut berkurang drastis.

Peristiwa ini bisa berlangsung selama beberapa hari hingga lebih dari dua bulan. Dalam kondisi paling parah, hampir tidak ada cahaya matahari yang mencapai dasar laut.

Fenomena ini berbahaya karena banyak organisme laut bergantung pada cahaya. Hutan kelp, padang lamun, alga, dan terumbu karang membutuhkan sinar matahari untuk fotosintesis.

"Kami telah lama mengetahui bahwa tingkat cahaya sangat penting bagi organisme fotosintetik, seperti alga, rumput laut, dan karang, dan bahwa faktor-faktor yang mengurangi cahaya hingga ke dasar laut dapat memengaruhi mereka," kata co-author dan ahli biologi penelitian di Marine Science Institute, University of California Santa Barbara, Bob Miller. 

"Studi ini menciptakan kerangka kerja untuk membandingkan peristiwa semacam itu, yang kami sebut darkwaves," tambah dia, dilansir dari SciTechDaily

Ia menegaskan bahwa studi ini penting karena menciptakan kerangka kerja bersama untuk membandingkan kejadian kehilangan cahaya ekstrem di berbagai wilayah laut.

Baca juga:

Ilmuwan melacak fenomena marine darkwave yang membuat dasar laut gelap total dan mengancam ekosistem laut dunia.Unsplash Ilmuwan melacak fenomena marine darkwave yang membuat dasar laut gelap total dan mengancam ekosistem laut dunia.

Cahaya adalah penggerak utama produktivitas laut. Tanpa cahaya, proses fotosintesis terhenti. Jika fotosintesis terganggu, rantai makanan laut ikut terancam.

Menurut penulis utama penelitian dan peneliti pasca-doktoral di University of Waikato dan Earth Sciences New Zealand, François Thoral, selama ini ilmuwan belum memiliki metode konsisten untuk mengukur penurunan cahaya ekstrem di laut.

"Cahaya merupakan faktor utama yang mendorong produktivitas laut, tapi hingga saat ini kita belum memiliki metode yang konsisten untuk mengukur penurunan cahaya bawah air yang ekstrem," ucap Thoral. 

Dengan adanya kerangka marine darkwave, ilmuwan saat ini bisa membandingkan tingkat keparahan dan durasi peristiwa gelap bawah laut di berbagai wilayah pesisir dunia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau