Penulis
Untuk membangun kerangka kerja ini, tim peneliti menganalisis data jangka panjang dari berbagai lokasi.
Mereka menggunakan 16 tahun data dari Santa Barbara Coastal Long Term Ecological Research (LTER) di California, 10 tahun pengukuran dari wilayah pesisir Selandia Baru di Hauraki Gulf/T?kapa Moana dan Firth of Thames, serta 21 tahun estimasi cahaya dasar laut dari citra satelit di wilayah East Cape, Selandia Baru
Hasilnya menunjukkan bahwa marine darkwave memiliki variasi yang sangat luas. Beberapa peristiwa hanya berlangsung beberapa hari, tapi ada juga yang terjadi lebih dari dua bulan.
Dalam sejumlah kasus ekstrem, cahaya matahari yang mencapai dasar laut hampir sepenuhnya terblokir.
Analisis menunjukkan bahwa sejak tahun 2002, terjadi antara 25 hingga 80 peristiwa marine darkwave di wilayah East Cape. Banyak kejadian ini berkaitan dengan badai besar dan sistem cuaca ekstrem. Salah satunya terjadi saat Cyclone Gabrielle.
Baca juga:
Selama ini, penelitian laut lebih banyak menyoroti penurunan kejernihan air secara perlahan. Namun studi terbaru ini menunjukkan bahwa kejadian singkat juga bisa membawa dampak besar.
"Bahkan periode singkat penurunan intensitas cahaya dapat mengganggu fotosintesis di hutan rumput laut, padang lamun, dan terumbu karang," kata Thoral.
Kegelapan juga memengaruhi perilaku ikan, hiu, dan mamalia laut. Jika kondisi gelap berlangsung lama, dampak ekologisnya bisa sangat serius.
Dengan demikian, kerangka kerja marine darkwave menjadi alat baru dalam pemantauan kesehatan laut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya