KOMPAS.com - Pendekatan penanganan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis (stunting) di Indonesia masih berbasis fortifikasi darat. Misalnya, dengan memberikan daun kelor atau tumbuhan dengan kandungan mineral lainnya. Indonesia belum mengoptimalkan fortifikasi laut sebagai solusi mengatasi stunting.
Baca juga: Ironi Perikanan Indonesia: Produk Buruk, Penduduk Pesisir Stunting
"Mineral dari laut ini mempunyai kandungan yang lebih kompleks. Sangat kompleks dan sangat sangat makro, mikronya itu sudah tergabung jadi satu," ujar peneliti ahli utama PRBBOOT BRIN, Media Fitri Isma Nugraha dalam webinar, Rabu (31/12/2025).
Mineral esensial dari laut dapat mendukung pembentukan organ vital, sistem saraf, dan struktur tulang sejak dalam kandungan. Nutrisi mineral juga bisa berperan krusial dalam perkembangan otak dan kemampuan belajar anak. Bahkan, mineral mampu memperkuat daya tahan tubuh dan melindunginya dari berbagai penyakit.
Namun, saat melakukan penelitian, Fitri masih menjumpai masyarakat pesisir di Indonesia yang mengalami stunting dan terkena penyakit gondok akibat kekurangan mineral, terutama Yodium.
"Di suatu daerah penghasil garam laut, tetapi mereka sebagai produsen garam laut mengalami pertumbuhan yang terhambat ya. Mohon maaf, ada juga terjadi gondok, padahal kehidupan mereka itu sudah dekat dengan laut," tutur Fitri.
Di dalam penelitian tersebut, Fitri menemukan 65 mineral yang sebagian di antaranya termasuk esensial. Misalnya, Yodium (I) yang merupakan mineral paling krusia untuk perkembangan ota janin. Kekurangan yodium dapat menyebabkan gangguan perkembangan mental yang permanen.
Atau, zat besi (Fe) sebagai komponen utama hemoglobin yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan anemia, kelelahan, serta gangguan perkembangan kognitif.
Menurut Fitri, stunting seringkali terjadi akibat defisiensi mineral spesifik yang bekerja bersama-sama dalam tubuh. Mineral bekerja dengan saling mendukung dalam proses metabolisme, pertumbuhan, serta perkembangan anak.
Terdapat enam mineral utama yang menjadi fondasi biologis petumbuhan manusia. Yaitu, kalsium, zat besi, zinc, yodium, magnesium, serta selenium. Kekurangan salah satu saja dapat menganggu perkembangan fisik, kognitif, dan imunitas. Khususnya, pada periode kritis 1.000 har pertama kehidupan.
Air laut dapat mengandung lebih dari 70 jenis mineral dan trace element. Komposisinya lebih lengkap dibandingkan mineral bersumber dari darat. Mineral dari laut memiliki bioavailibilitas tinggi, yang mudah diserap tubuh jika diolah dengan tepat.
"Sumber sumber dari mineral darat, yaitu itu lebih cenderung bersifat tunggal. Misalnya, kelor hanya beberapa saja dan mungkin pisang hanya beberapa saja gitu, hanya hanya satu mineral komponen mineral saja," ucapnya.
Selain mengandung berbagai mineral dalam satu sumber, fortifikasi laut juga dapat mendukung pencegahan stunting dalam jangka panjang. Indonesia dapat meniru Jepang, Korea Selatan, dan Islandia yang telah memanfaatkan mineral dari laut dalam pangan.
"Sumber mineral laut untuk gizi seperti rumput laut, air laut yang terolah dan biota laut, garam laut terfortifikasi diperkaya dengan mineral makro esensial dan semua unsur ini bersumber natural base, intervensi dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional untuk pencegahan stunting," ujar Fitri.
Pemanfaatan mineral dari laut untuk penanganan stunting menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, risiko kontaminasi. Terdapat potensi cemaran logam berat jika mineral dari laut tidak diolah dengan benar. Maka, dibutuhkan teknologi pemurnian yang tepat.
Kedua, standarisasi dosis. Kata dia, perlu penelitian lebih lanjut untuk menentukan dosis optimal yang aman dan efektif. Ketiga, Indonesia perlu membuat kerangka regulasi yang jelas, dengan pengawasan mutu secara ketat.
"Prinsip pentingnya, pemanfaatan mineral laut harus berbasis sains dan melalui uji keamanan dengan klinis yang memadai, mineral laut bukan solusi instan, tapi solusi strategis untuk jangka panjang," tutur Fitri.
Sebelumnya, Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian PPN/Bappenas, Moh. Rahmat Mulianda mengatakan, konsumsi ikan per kapita di Indonesia masih rendah. Bahkan, kasus stunting masih ditemukan di kawasan pesisir meski hasil perikanan ikan berjuta-juta ton.
"Masih ada yang stunting di pinggir laut atau pantai, harusnya ikannya bisa dimakan tiap hari, tetapi ternyata enggak begitu juga. Banyak ikan-ikan yang diolah dengan tidak begitu higienis ya, memakai bahan pengawet, atau ikannya berkali-kali tidak di-treatment dengan baik, jadi mudah rusak dan tidak sesuai standar kualitasnya," ujar Rahmat dalam Peluncuran rencana Aksi Bersama Pengembangan Pangan Akuatik Indonesia, Rabu (10/9/2025).
Baca juga: Temuan BFA: Konsumsi Ikan Tinggi, Stunting Tak Turun, Salah Kaprah Gizi Sebabnya
Menurut Rahmat, permasalahan akuntabilitas dan aksesibilitas perlu menjadi konsensus semua pelaku usaha perikanan tangkap dari mulai hulu hingga hilir. Ke depan, produksi pangan akuatik perlu bisa beradaptasi dengan 'musim' paceklik atau tidak ada ikan maupun musim tangkap yang banyak ikan. Jadi, produksi ikan dalam kondisi apa pun harus terolah dengan baik
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya