Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Kebakaran Hutan Tak Hilang Meski Api Padam, Erosi Tanah Terus Terjadi

Kompas.com, 21 Januari 2026, 19:09 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG, Nature

KOMPAS.com - Kebakaran hutan meninggalkan dampak jangka panjang. Ketika hujan turun di lanskap yang hangus, hal itu meningkatkan limpasan permukaan dan erosi tanah yang dapat berlangsung selama puluhan tahun, menurut penelitian di Nature Geoscience

"Kebakaran hutan berdampak pada permukaan tanah dan aktivitas geomorfologi pasca-kebakaran di seluruh dunia, meningkatkan aliran permukaan dan erosi tanah," tulis penelitian tersebut, dikutip dari laman Nature, Rabu (21/1/2026). 

Baca juga: 

Rata-rata kebakaran hutan melahap sekitar empat juta kilometer persegi lahan per tahun. Meskipun demikian, belum ada penilaian jangka panjang global tentang bagaimana kebakaran ini memengaruhi erosi tanah dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, para peneliti dari Pusat Penelitian Gabungan Komisi Eropa dan Universitas Basel, Swiss, mempelajari data selama 20 tahun untuk menyusun peta global pertama di dunia tentang erosi tanah pasca-kebakaran.

Erosi tanah, dampak jangka panjang kebakaran hutan

8,1 miliar ton tanah hilang tiap tahun akibat kebakaran hutan

Penelitian  mengungkap kebakaran hutan memicu erosi tanah jangka panjang. Bahkan, setelah 20 tahun, banyak wilayah belum pulih sepenuhnya.pixabay Penelitian mengungkap kebakaran hutan memicu erosi tanah jangka panjang. Bahkan, setelah 20 tahun, banyak wilayah belum pulih sepenuhnya.

Para peneliti menggunakan model bertajuk Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE), yang mereka adaptasi untuk kondisi pasca-kebakaran.

"Kami memperkirakan tren global erosi tanah pasca-kebakaran menggunakan basis data global tentang kejadian kebakaran hutan dan tingkat keparahan kebakaran, serta model Revised Universal Soil Loss Equation (RUSLE) bersama dengan pemulihan lanskap yang terbakar melalui data penginderaan jauh," tulis para peneliti.

Para peneliti kemudian menggabungkannya dengan data satelit kebakaran hutan global dari tahun 2001 hingga 2019 dan membandingkan area tersebut dengan kondisi lahan sebelum kebakaran, dilansir dari Phys.org.

Hasil penelitian menunjukkan, kebakaran hutan menyebabkan hilangnya 8,1 miliar ton tanah setiap tahun, yang menyumbang 19 persen dari seluruh erosi tanah di bumi.

"Secara global, Afrika adalah benua yang paling terdampak dalam hal erosi tanah pasca-kebakaran, mengingat luas area yang terbakar jauh lebih besar," tulis para peneliti.

Adapun Afrika menyumbang 62 persen dari kehilangan tanah ini, diikuti oleh Asia sebesar 12 persen, Amerika Selatan sebesar 11 persen, Oseania sebesar 10 persen, Amerika Utara sebesar empat persen, dan Eropa sebesar satu persen. 

Baca juga: 

Usai kebakaran, kerusakan tetap ada dalam waktu lama

Setelah 20 tahun, belum tentu bisa kembali ke kondisi sebelum kebakaran

Penelitian  mengungkap kebakaran hutan memicu erosi tanah jangka panjang. Bahkan, setelah 20 tahun, banyak wilayah belum pulih sepenuhnya.iStock/Pgiam Penelitian mengungkap kebakaran hutan memicu erosi tanah jangka panjang. Bahkan, setelah 20 tahun, banyak wilayah belum pulih sepenuhnya.

Salah satu temuan paling signifikan adalah, setelah kebakaran, kerusakan bertahan jauh lebih lama daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Hanya sekitar 31 persen dari erosi pasca-kebakaran disebabkan oleh kebakaran baru. Sisanya, 69 persen, disebabkan oleh erosi dari kebakaran yang dimulai beberapa tahun sebelumnya.

Bahkan, setelah 20 tahun, lebih dari 50 persen area yang terbakar di seluruh dunia belum kembali ke kondisi sebelum kebakaran.

Para peneliti memperkirakan bahwa masalah ini hanya akan semakin buruk karena perubahan iklim menyebabkan badai hujan yang lebih intens dan sering.

Mereka memperkirakan bahwa erosi tanah pasca-kebakaran dapat meningkat hingga 28 persen pada tahun 2070.

Baca juga:

Menunggu alam untuk pulih dengan sendirinya bukanlah pilihan, jadi para peneliti menyerukan perubahan dalam pengelolaan lahan setelah kebakaran.

"Hasil kami menggambarkan besarnya erosi tanah pasca-kebakaran secara global dan oleh karena itu mendukung tindakan pengelolaan pasca-kebakaran menuju mitigasi dan pemulihan area yang terkena dampak dan kebijakan menuju netralitas degradasi lahan," tulis peneliti.

Hal tersebut berarti lebih cepat bertindak akan lebih baik.

"Meningkatkan ketahanan hutan global sangat mendesak untuk menghentikan degradasi lahan dan meningkatkan adaptasi perubahan iklim," tulis para peneliti lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau