Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asap Kebakaran Hutan Lepaskan Polusi Lebih Besar dari Dugaan

Kompas.com, 1 Januari 2026, 16:53 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dikenal sebagai penyebab turunnya kualitas udara, tapi studi terbaru menunjukkan, dampaknya jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Para peneliti menemukan bahwa karhutla melepaskan gas pencemar udara dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding estimasi terdahulu. Emisi tersembunyi ini memperparah polusi udara, terutama di wilayah yang sudah dipenuhi emisi dari aktivitas manusia.

Baca juga:

"Perkiraan baru kami menunjukkan peningkatan emisi senyawa organik dari kebakaran hutan sebesar sekitar 21 persen," kata penulis utama studi tersebut, Lyuyin Huang, dilansir dari SciTechDaily, Kamis (1/1/2026).

"Inventarisasi ini memberikan landasan untuk model kualitas udara yang lebih rinci, penilaian risiko kesehatan, dan analisis kebijakan terkait iklim," tambah dia. 

Adapun penemuan ini disampaikan dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Science & Technology milik American Chemical Society.

Studi ini menyoroti bahwa karhutla dan pembakaran terkendali di alam liar menghasilkan lebih banyak senyawa kimia pencemar yang sebelumnya tidak banyak diperhitungkan.

Bahaya asap kebakaran hutan dan lahan

Emisi lebih tinggi dari perkiraan terdahulu

Studi terbaru ungkap asap kebakaran hutan dan lahan lepaskan polusi jauh lebih besar dari perkiraan.Foto: Dok. BPBD Aceh Selatan Studi terbaru ungkap asap kebakaran hutan dan lahan lepaskan polusi jauh lebih besar dari perkiraan.

Setiap tahun, karhutla membakar area vegetasi yang sangat luas. Proses ini melepaskan uap air, abu, serta senyawa kimia berbasis karbon ke atmosfer.

Sebagian dari senyawa ini berbentuk gas yang mudah menguap atau dikenal sebagai volatile organic compounds (VOCs).

Selain VOC, ada jenis senyawa lain yang perannya selama ini kurang diperhitungkan. Senyawa ini disebut intermediate-volatility organic compounds (IVOCs) dan semi-volatile organic compounds atau (SVOCs).

Senyawa tersebut hanya berubah menjadi gas pada suhu tertentu dan lebih mudah membentuk partikel halus di udara. Partikel halus ini sangat berbahaya jika terhirup. 

Sayangnya, IVOCs dan SVOCs sering diabaikan dalam penelitian emisi kebakaran hutan. Jumlahnya sangat banyak dan struktur kimianya beragam, yang mana membuat pengukurannya menjadi rumit.

Banyak studi sebelumnya hanya berfokus pada VOCs yang lebih mudah diamati.

Baca juga:

Studi terbaru ungkap asap kebakaran hutan dan lahan lepaskan polusi jauh lebih besar dari perkiraan.pixabay Studi terbaru ungkap asap kebakaran hutan dan lahan lepaskan polusi jauh lebih besar dari perkiraan.

Untuk mengatasi kekurangan data tersebut, tim peneliti yang dipimpin oleh Shuxiao Wang melakukan pendekatan baru.

Mereka menganalisis data global mengenai luas lahan yang terbakar di kawasan hutan, padang rumput, dan lahan gambut dari tahun 1997 hingga 2023.

Para peneliti juga mengumpulkan data tentang jenis vegetasi dan jumlah senyawa kimia yang dilepaskan saat vegetasi tersebut terbakar.

Ketika data lapangan tidak tersedia, mereka menggunakan hasil eksperimen laboratorium untuk memperkirakan senyawa yang dihasilkan.

Dengan menggabungkan berbagai sumber data ini, para peneliti menghitung total emisi tahunan kebakaran hutan di seluruh dunia.

Hasilnya menunjukkan bahwa kebakaran hutan melepaskan rata-rata 143 juta ton senyawa organik ke udara setiap tahunnya.

Angka ini sekitar 21 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Temuan ini menegaskan bahwa IVOCs dan SVOCs memiliki peran besar dalam pembentukan polusi udara akibat kebakaran hutan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau