Penulis
Untuk jenis bencana lain, tren kematian justru menurun. Banjir menyebabkan 55.423 kematian pada 2015–2025, turun dari 66.043 jiwa pada dekade sebelumnya.
Kematian akibat badai juga turun tajam. Dari 184.237 jiwa, menjadi 36.652 jiwa pada periode terbaru.
Adapun sistem peringatan dini berperan besar dalam penurunan ini.
“Kami punya sistem yang bisa melindungi nyawa, tapi ancamannya tetap sangat tinggi,” kata kepala ilmuwan iklim Munich Re, Tobias Grimm.
Namun membaca pola tahunan tetap sulit. Satu bencana besar bisa membuat satu tahun tampak jauh lebih mematikan.
Baca juga:
Dalam laporan tahunan Munich Re, jumlah korban jiwa akibat banjir, badai, kebakaran hutan, dan gempa mencapai 17.200 kematian tahun lalu, lebih tinggi dibandingkan 11.000 kematian pada tahun 2024. Lonjakan ini dipicu gempa besar di Myanmar dan Afghanistan.
Meski begitu, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata 10 tahun dan 30 tahun terakhir. Data ini juga belum memasukkan kekeringan dan gelombang panas.
Menurut Grimm, belum ada tren kematian yang benar-benar jelas. Namun, peristiwa akibat cuaca ekstrem semakin sering dan semakin intens.
Romanello menyampaikan, infrastruktur yang lebih baik memang mampu menekan angka kematian, tapi kemampuan tersebut tetap memiliki batas.
Jika bencana datang beruntun tanpa waktu pemulihan, risiko korban jiwa akan kembali meningkat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya