KOMPAS.com - Tumbuhan mampu mencerminkan karakter iklim dan tanah suatu lokasi, khususnya di perkotaan dan di kawasan hijau, menurut studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature Cities.
"Kondisi iklim, terutama kondisi tanah, lebih serupa antara kota-kota di kawasan perkotaan daripada di hutan, (hal ini) menunjukkan kecenderungan homogenisasi perkotaan. Hutan kota berfungsi sebagai sumber keragaman lingkungan, pendinginan, dan penahanan kelembapan," tulis studi tersebut, dilansir dari Nature Cities, Jumat (16/1/2026).
Baca juga:
Tidak hanya itu, kondisi tanah di perkotaan yang padat bangunannya disebut lebih hangat, lebih kering, dan lebih cerah.
Tanah di lokasi tersebut juga lebih banyak gangguan, lebih banyak alkali, dan lebih asin dibanding tanah di ruang terbuka hijau, termasuk taman kota.
Studi menemukan, tumbuhan mampu mencerminkan iklim dan kondisi tanah perkotaan yang makin hangat, kering, dan homogen.Sekitar 70 persen populasi dunia diprediksi akan tinggal di perkotaan pada tahun 2050. Namun, kondisi lingkungan perkotaan masih kurang atau hanya didokumentasikan secara kasar.
Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Max Planck Institute for Biogeochemistry ini didasarkan pada pengamatan tumbuhan yang dikumpulkan melalui aplikasi, seperti Flora Incognita.
Dengan lebih dari 80 juta pengamatan, para peneliti menghasilkan gambaran rinci tentang iklim dan kondisi tanah skala halus untuk 326 kota di Eropa.
Hasilnya, kawasan perkotaan Eropa semakin hangat dan kering, dengan tanah lebih banyak terganggu secara mekanis, serta bertambah asin dan basa daripada tanah tanah di ruang hijau, seperti taman atau hutan.
Kawasan urban punya karakter yang mirip di seluruh Eropa, sedangkan hutan kota lebih beragam karena melestarikan keanekaragaman alami dari kondisi lingkungan aslinya.
"Tumbuhan tumbuh di tempat di mana persyaratan lokasinya terpenuhi. Jelatang menunjukkan tanah yang kaya nutrisi, bunga marigold rawa lebih menyukai tempat yang basah, dan spesies yang toleran terhadap garam seperti rumput alkali tumbuh subur di sepanjang jalan yang diberi garam," ujar penulis utama studi tersebut, Susanne Tautenhahn, dilansir dari Phys.org.
Baca juga:
Studi menemukan, tumbuhan mampu mencerminkan iklim dan kondisi tanah perkotaan yang makin hangat, kering, dan homogen.Dengan pendekatan tersebut, faktor-faktor, seperti suhu, kelembapan tanah, pH, salinitas, atau gangguan, bisa disimpulkan secara tidak langsung melalui keberadaan tanaman.
Pendekatan ini dinilai ampuh diterapkan di perkotaan, yang mana banyaknya jumlah pengamatan mampu menghasilkan data yangpresisi.
Pendekatan tersebut menggabungkan pengetahuan lama tentang tumbuhan sebagai sensor lingkungan hidup, dengan data sains warga berskala besar.
Pendekatan yang disebut Mobile Crowd Sensing of Environments (MCSE) itu lebih akurat daripada pengukuran klasik yang seringkali gagal menangkap heterogenitas spasial yang kuat.
Baca juga:
"Bahkan di antara beton dan aspal, tanaman mengungkapkan dengan sangat akurat seberapa hangat atau kering suatu lokasi, atau apakah tanahnya telah banyak terganggu," tutur Tautenhahn.
Studi interdisipliner ini menggabungkan keahlian peneliti dari bidang botani, ekologi, ilmu tanah, visi komputer, sains warga, dan penginderaan jauh.
Setiap perspektif berkontribusi untuk mengubah pengamatan tanaman yang dihasilkan warga menjadi gambaran kondisi lingkungan perkotaan yang detail dan belum pernah ada sebelumnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya