KOMPAS.com - Pembangkit listrik termal berbasis batu bara di China mengalami penurunan pada tahun 2025 untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, menurut data Pemerintah China pada Senin (26/1/2026).
Hal ini terjadi karena pesatnya pertumbuhan energi terbarukan mampu memenuhi pertumbuhan permintaan listrik, meskipun penggunaan listrik secara keseluruhan mencapai rekor tertinggi.
Baca juga:
Data tersebut merupakan sinyal positif bagi dekarbonisasi sektor kelistrikan China, khususnya negara tersebut menetapkan target agar emisi karbon mencapai puncaknya menjelang tahun 2030.
Sebagai informasi, China berkomitmen, emisi karbon mereka akan berhenti naik paling lambat tahun 2030, lalu setelah itu akan mulai diturunkan secara drastis.
Namun demikian, meski penggunaan untuk listrik mulai berkurang, produksi batu bara masih sedikit meningkat hingga mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu.
Biro Statistik Nasional (NBS) mencatat, pembangkit listrik termal yang sebagian besar berasal dari batu bara dan sedikit gas alam, turun sebesar satu persen pada 2025 menjadi 6,29 triliun kilowatt-jam (kWh).
Data tersebut menunjukkan bahwa penurunan terjadi lebih tajam pada bulan Desember yakni turun sebesar 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pembangunan energi terbarukan yang mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir secara kumulatif telah memengaruhi bauran pembangkitan dan semakin mengurangi penggunaan batu bara, ditambah dengan pertumbuhan permintaan listrik yang lebih moderat sebesar lima persen pada tahun 2025,” kata kepala riset energi dan terbarukan APAC di S&P Global Energy, Peng Chengyao, dilansir dari Reuters, Senin (26/1/2026).
Baca juga:
Ilustrasi China, orang China di Kota Terlarang atau The Forbidden City. Pertumbuhan pesat energi terbarukan membuat listrik termal berbasis batu bara di China turun pada 2025, meski konsumsi listrik mencetak rekor baru.Permintaan listrik telah tumbuh sebesar 6,8 persen dari tahun ke tahun pada tahun 2024, menurut Dewan Listrik China.
Meski begitu, pertumbuhan pada tahun 2025 sudah cukup untuk membuat konsumsi listrik China menembus rekor tertinggi baru, sebagaimana diumumkan oleh Badan Energi Nasional (NEA) pada hari Sabtu, melampaui 10 triliun kWh untuk pertama kalinya.
Jumlah tersebut dikatakan lebih besar daripada gabungan konsumsi listrik Uni Eropa, Rusia, India, dan Jepang pada tahun 2024. Hal ini didorong oleh pertumbuhan konsumsi yang pesat di sektor layanan internet dan manufaktur kendaraan listrik (electric vehicles atau EV).
Statistik dari NEA sendiri memberikan gambaran penggunaan listrik yang lebih lengkap dibandingkan data NBS.
Baca juga:
Jika dibandingkan data NBS tidak memasukkan beberapa pembangkit energi terbarukan skala kecil seperti angin dan surya karena adanya batasan pendapatan tahunan minimum dalam surveinya.
Data NBS menunjukkan bahwa pembangkitan listrik mencapai 9,72 triliun kWh tahun lalu, naik 2,2 persen dibandingkan tahun 2024.
Data NBS juga menunjukkan bahwa listrik tenaga air tumbuh stabil, naik 4,1 persen pada bulan Desember dan 2,8 persen sepanjang tahun.
Sementara itu, output tenaga nuklir masing-masing naik 3,1 persen pada bulan Desember dan 7,7 persen pada tahun 2025.
Lebih lanjut, pembangkit listrik termal kemungkinan besar tidak akan naik lagi pada tahun 2026 karena pertumbuhan energi terbarukan terus melaju pesat, sedangkan pertumbuhan permintaan listrik tetap stabil di angka lima persen, menurut prediksi S&P.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya