Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu

Kompas.com, 27 Januari 2026, 20:53 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG, Nature

KOMPAS.com - Meskipun terletak di utara bumi, yang kerap dianggap jauh dari padatnya aktivitas manusia, Arktik sebenarnya semakin berisik. 

Berdasarkan studi dari University of Bath, Inggris, kebisingan bawah laut terjadi seiring mencairnya es dan meningkatknya aktivitas yang memudahkan aksesibilitas ke Arktik, khususnya untuk lalu lintas kapal yang lebih besar.

Baca juga:

"Di Arktik, perubahan iklim yang semakin parah memungkinkan peningkatkan aktivitas manusia, (yang mana) menambah suara ke lautan," tulis studi tersebut, dikutip dari laman Nature, Selasa (27/1/2026).

Adapun studi ini dipublikasikan di npj Acoustics.

Arktik semakin berisik akibat perubahan iklim

Berdampak pada satwa liar dan masyarakat setempat

Peningkatan kebisingan bawah laut ini berdampak besar bagi satwa liar dan masyarakat setempat, dilansir dari Phys.org. 

Kebisingan bawah laut akibat aktivitas manusia dapat mengganggu satwa liar Arktik yang bergantung pada suara untuk menavigasi, berkomunikasi, mencari makanan, dan menghindari predator.

Hal tersebut turut berdampak pada masyarakat setempat. Mereka bisa kesulitan berburu dan menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena satwa jadi lebih sulit ditemukan. Pola musiman satwa tersebut juga jadi sulit diprediksi.

Di Arktik, kebisingan bawah laut tidak hanya berasal dari kapal besar, tapi juga dari kendaraan salju, pesawat terbang, dan perahu kecil yang tidak muncul dalam sistem pelacakan satelit.

Baca juga:

Mencairnya es membuka jalur kapal dan pesawat ke Arktik. Suara bising bawah laut mengganggu satwa liar dan kehidupan masyarakat setempat.SHUTTERSTOCK/CherylRamalho Mencairnya es membuka jalur kapal dan pesawat ke Arktik. Suara bising bawah laut mengganggu satwa liar dan kehidupan masyarakat setempat.

"Seiring mencairnya es dan terbukanya perairan yang sebelumnya tidak dapat diakses, akan ada lebih banyak jalur pelayaran, lebih banyak pesawat terbang, lebih banyak kapal kecil yang digunakan untuk pariwisata dan eksplorasi sumber daya, lebih banyak aktivitas industri di dekat pantai, termasuk pertambangan dan pengeboran, dan tekanan geostrategis lainnya," jelas penulis utama studi dari Department of Physics dari University of Bath, Dr. Philippe Blondel.

Sebagai informasi, aturan internasional saat ini hanya memantau frekuensi rendah untuk menilai polusi suara bawah laut.

Sementara itu, kendaraan kecil dan pesawat menghasilkan suara frekuensi tinggi yang tidak masuk dalam hitungan regulasi, padahal hal itu juga bisa sangat mengganggu hewan laut yang sensitif.

Para peneliti mendesak organisasi dan otoritas internasional yang bertanggung jawab untuk menetapkan, memperbarui, dan menegakkan peraturan kebisingan bawah laut untuk merevisi ambang batas yang digunakan untuk menilai tingkat kebisingan di perairan Arktik.

"Arktik memasuki era baru karena perubahan iklim berakselerasi tiga kali lebih cepat daripada rata-rata global," papar Dr.  Blondel.

Perubahan tersebut meningkatkan intensitas dan variasi suara bawah air, yang dapat menempuh jarak ratusan kilometer melalui perairan utara yang dingin.

Semua sumber suara buatan manusia di Arktik berkontribusi pada kebisingan yang memengaruhi ekosistem lokal, satwa liar, dan kegiatan subsisten masyarakat adat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau