Dr. Blondel menambahkan, keheningan total di laut Arktik bukanlah hal yang diperlukan dan bukan pula yang dianjurkan oleh timnya.
"Beberapa suara, seperti kapal penangkap ikan kecil yang digunakan penduduk setempat, dampaknya bisa diabaikan," ucap Dr. Blondel.
"Suara buatan manusia lainnya kecil dibandingkan dengan kebisingan latar belakang yang keras akibat es yang mencair atau retak, atau tidak memengaruhi pendengaran spesies hewan lokal," tambah dia.
Baca juga:
Artinya, suara-suara tersebut dapat diterima. Itulah mengapa manusia perlu memantau suara dalam berbagai frekuensi beserta dampak berbeda yang ditimbulkan suara-suara ini tergantung pada musim dan tutupan es.
Studi jangka panjang ini pun menunjukkan bahwa suara bawah air adalah cara yang sensitif dan andal untuk mendeteksi aktivitas manusia dan juga memberikan bukti yang dibutuhkan untuk menyesuaikan peraturan kebisingan dengan kondisi Arktik yang sebenarnya yang sesuai musim dan tutupan es.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya