KOMPAS.com - Meskipun terletak di utara bumi, yang kerap dianggap jauh dari padatnya aktivitas manusia, Arktik sebenarnya semakin berisik.
Berdasarkan studi dari University of Bath, Inggris, kebisingan bawah laut terjadi seiring mencairnya es dan meningkatknya aktivitas yang memudahkan aksesibilitas ke Arktik, khususnya untuk lalu lintas kapal yang lebih besar.
Baca juga:
"Di Arktik, perubahan iklim yang semakin parah memungkinkan peningkatkan aktivitas manusia, (yang mana) menambah suara ke lautan," tulis studi tersebut, dikutip dari laman Nature, Selasa (27/1/2026).
Adapun studi ini dipublikasikan di npj Acoustics.
Peningkatan kebisingan bawah laut ini berdampak besar bagi satwa liar dan masyarakat setempat, dilansir dari Phys.org.
Kebisingan bawah laut akibat aktivitas manusia dapat mengganggu satwa liar Arktik yang bergantung pada suara untuk menavigasi, berkomunikasi, mencari makanan, dan menghindari predator.
Hal tersebut turut berdampak pada masyarakat setempat. Mereka bisa kesulitan berburu dan menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena satwa jadi lebih sulit ditemukan. Pola musiman satwa tersebut juga jadi sulit diprediksi.
Di Arktik, kebisingan bawah laut tidak hanya berasal dari kapal besar, tapi juga dari kendaraan salju, pesawat terbang, dan perahu kecil yang tidak muncul dalam sistem pelacakan satelit.
Baca juga:
Mencairnya es membuka jalur kapal dan pesawat ke Arktik. Suara bising bawah laut mengganggu satwa liar dan kehidupan masyarakat setempat."Seiring mencairnya es dan terbukanya perairan yang sebelumnya tidak dapat diakses, akan ada lebih banyak jalur pelayaran, lebih banyak pesawat terbang, lebih banyak kapal kecil yang digunakan untuk pariwisata dan eksplorasi sumber daya, lebih banyak aktivitas industri di dekat pantai, termasuk pertambangan dan pengeboran, dan tekanan geostrategis lainnya," jelas penulis utama studi dari Department of Physics dari University of Bath, Dr. Philippe Blondel.
Sebagai informasi, aturan internasional saat ini hanya memantau frekuensi rendah untuk menilai polusi suara bawah laut.
Sementara itu, kendaraan kecil dan pesawat menghasilkan suara frekuensi tinggi yang tidak masuk dalam hitungan regulasi, padahal hal itu juga bisa sangat mengganggu hewan laut yang sensitif.
Para peneliti mendesak organisasi dan otoritas internasional yang bertanggung jawab untuk menetapkan, memperbarui, dan menegakkan peraturan kebisingan bawah laut untuk merevisi ambang batas yang digunakan untuk menilai tingkat kebisingan di perairan Arktik.
"Arktik memasuki era baru karena perubahan iklim berakselerasi tiga kali lebih cepat daripada rata-rata global," papar Dr. Blondel.
Perubahan tersebut meningkatkan intensitas dan variasi suara bawah air, yang dapat menempuh jarak ratusan kilometer melalui perairan utara yang dingin.
Semua sumber suara buatan manusia di Arktik berkontribusi pada kebisingan yang memengaruhi ekosistem lokal, satwa liar, dan kegiatan subsisten masyarakat adat.
Mencairnya es membuka jalur kapal dan pesawat ke Arktik. Suara bising bawah laut mengganggu satwa liar dan kehidupan masyarakat setempat.Dr. Blondel menambahkan, keheningan total di laut Arktik bukanlah hal yang diperlukan dan bukan pula yang dianjurkan oleh timnya.
"Beberapa suara, seperti kapal penangkap ikan kecil yang digunakan penduduk setempat, dampaknya bisa diabaikan," ucap Dr. Blondel.
"Suara buatan manusia lainnya kecil dibandingkan dengan kebisingan latar belakang yang keras akibat es yang mencair atau retak, atau tidak memengaruhi pendengaran spesies hewan lokal," tambah dia.
Baca juga:
Artinya, suara-suara tersebut dapat diterima. Itulah mengapa manusia perlu memantau suara dalam berbagai frekuensi beserta dampak berbeda yang ditimbulkan suara-suara ini tergantung pada musim dan tutupan es.
Studi jangka panjang ini pun menunjukkan bahwa suara bawah air adalah cara yang sensitif dan andal untuk mendeteksi aktivitas manusia dan juga memberikan bukti yang dibutuhkan untuk menyesuaikan peraturan kebisingan dengan kondisi Arktik yang sebenarnya yang sesuai musim dan tutupan es.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya