Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerusakan Hutan Perparah Risiko Penularan Virus Nipah, Ini Penjelasan Ahli

Kompas.com, 28 Januari 2026, 17:57 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Virus Nipah tergolong neglected disease atau penyakit tropis terabaikan (NTD). Artinya, penyakit ini kurang memperoleh perhatian, yang berdampak pada belum ditemukannya vaksin dan obat spesifiknya. Inilah faktor penyebab jumlah kematian akibat virus Nipah menjadi tinggi.

"Ini perlu disadari ya bahwa kematian tinggi akibat Nipah ini bukan sekadar (karena) penyakit (dengan) virus mematikan atau ganas, tetapi (juga) karena neglected disease," ujar Epidemiolog sekaligus peneliti Global Health Security dari Griffith University, Dicky Budiman kepada Kompas.com, Rabu (28/1/2026).

Per Rabu (28/1/2026) sore, belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus Nipah di Indonesia, dilaporkan oleh Kompas.com, Rabu.

Baca juga:

Virus Nipah dan kerusakan hutan di Indonesia

Virus Nipah ditularkan lewat kelelawar sebagai inang reservoir

Virus Nipah, lanjut Dicky, muncul dari perpaduan interaksi kompleks antara kerusakan ekosistem, deforestasi, urbanisasi, perubahan pola makan manusia, serta gaya hidup tidak higienis dan sanitasi yang buruk.

Bahkan, kombinasi interaksi juga mencakup dua faktor lainnya. Pertama, buruknya biosekuriti dari ruang perjumpaan manusia dengan kelelawar, seperti pertanian, perkebunan, atau perternakan.

Selanjutnya, kedua, lemahnya sistem kesehatan. Kondisi itu tercermin dari lemahnya deteksi dini serta pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit.

Virus Nipah dinilai tidak muncul dari kejadian acak dan lebih dari sekadar permasalahan medis.

Penyakit ini juga sebetulnya termasuk sentinel disease atau kondisi penyakit yang dapat dicegah dan muncul sebagai sinyal peringatan untuk krisis One Health.

Adapun One Health merupakan pendekatan kolaboratif dan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung secara erat.

Alih fungsi hutan dan meningkatnya kontak manusia dengan kelelawar memperbesar risiko penularan virus Nipah dan munculnya penyakit baru.Shutterstock/Independent birds Alih fungsi hutan dan meningkatnya kontak manusia dengan kelelawar memperbesar risiko penularan virus Nipah dan munculnya penyakit baru.

Virus Nipah ditularkan oleh kelelawar, yang di dalam ekosistem berperan sebagai inang reservoir atau agen pembawa patogen. Kelelawar berisiko menyebarkan berbagai penyakit dengan potensi bahaya mirip virus Nipah.

Tidak hanya itu, kerusakan hutan di Indonesia berkontribusi terhadap penyebaran berbagai penyakit yang dibawa kelelawar.

Sebagai agen pembawa patogen, kelelawar berisiko menularkan berbagai virus lain yang selama ini sudah ada dan belum muncul dari hewan ini.

Hal itu memungkinkan adanya potensi menimbulkan penularan silang atau patogen disebarkan dari inang reservoir ke spesies lain (spillover). Dari proses tersebut, kata Dicky, berpeluang melahirkan penyakit baru.

Menurut Dicky, Indonesia merupakan hotspot dan zona merah bagi munculnya penyakit-penyakit baru.

"(Itu) karena Indonesia dengan alam liarnya, dengan hutannya, itu sebetulnya kaya dengan banyak virus di hewan-hewan, seperti kelelawar itu. Tapi, ketika itu dirusak, ya artinya akan ada kontak pada manusia yang bisa menimbulkan masalah kesehatan baru," tutur Dicky.

Baca juga:

Alih fungsi hutan

Alih fungsi hutan dan meningkatnya kontak manusia dengan kelelawar memperbesar risiko penularan virus Nipah dan munculnya penyakit baru.Unsplash/Gagandeep Singh Alih fungsi hutan dan meningkatnya kontak manusia dengan kelelawar memperbesar risiko penularan virus Nipah dan munculnya penyakit baru.

Alih fungsi hutan untuk pertanian atau peternakan juga meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit dari kelelawar ke manusia. Sebab, kondisi tersebut mendekatkan manusia dengan habitat kelelawar.

Terlebih kelelawar sudah ribuan tahun menghuni kawasan hutan yang dialihfungsikan itu. Misalnya, kelelawar pemakan buah yang memang menjadikan kawasan hutan tersebut sebagai tempat untuk mencari makan.

"(Ketika tutupan) hutan berubah menjadi peternakan misalnya, ya tapi kelelawarnya tetap ke situ ya dan kotorannya akhirnya mencemari, mengkontaminasi kandang, makanan dari hewan (ternak) atau makanan yang dikonsumsi manusia," ujar Dicky.

Peternakan yang dulunya kawasan hutan, berisiko tinggi menjadi tempat penularan berbagai penyakit dari kelelawar melalui kotorannya.

Berbagai penyakit dapat ditularkan kelelawar melalui kotorannya, dengan perantara hewan ternak, seperti babi atau mamalia lainnya, yang berinteraksi langsung dengan manusia.

Berbagai penyakit juga bisa ditularkan kelelawar ke manusia melalui kotorannya secara langsung, dengan mencemari makanan atau minuman manusia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau