Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapasitas PLTG Dunia Diproyeksikan Melonjak

Kompas.com, 31 Januari 2026, 20:41 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Kapasitas pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) diproyeksikan melonjak, berdasarkan laporan Global Energy Monitor (GEM). Pertumbuhan signifikan yang dipimpin oleh Amerika Serikat ini didorong oleh permintaan industri kecerdasan buatan (AI atau Artificial Intelligence).

Menurut data tersebut, Amerika Serikat melipatgandakan kapasitas pembangkit listrik bertenaga gas dalam rencana pengembangan sepanjang tahun 2025, hingga mencapai total 252 gigawatt (GW).

Baca juga: 

Jumlah ini mencakup hampir 25 persen dari total rencana pengembangan dunia, dengan lebih dari sepertiganya ditujukan untuk mengaliri listrik langsung ke pusat data dan memenuhi permintaan energi AI, dilansir dari Edie, Jumat (31/1/2026).

Jika setiap proyek yang telah diumumkan, yang masuk dalam tahap pra-konstruksi dan tahap konstruksi tetap berjalan, kapasitas gas Amerika Serikat akan tumbuh hampir 50 persen.

Texas menyumbang sepertiga dari seluruh pembangunan tersebut, lebih besar daripada gabungan tujuh negara bagian berikutnya.

Kendati demikian, pertumbuhan signifikan pembangkit listrik ini juga membawa konsekuensi lain yakni menyebabkan bertambahnya pula emisi karbon dioksida (CO2).

Proyek-proyek ini secara kolektif akan menyebabkan sekitar 12,1 miliar ton emisi karbon dioksida selama masa pakainya. Angka ini setara dengan dua kali lipat emisi tahunan saat ini dari semua sumber di Amerika Serikat.

Baca juga:

Kapasitas PLTG diprediksi melonjak

Rencana pembangunan juga terjadi di China, Vietnam, Brasil, dan Irak

Pertumbuhan PLTG di Amerika Serikat dinilai mengancam target net zero. Proyek PLTG juga dipertanyakan ketahanannya terhadap krisis iklim.SHUTTERSTOCK/HA-NU-MAN Pertumbuhan PLTG di Amerika Serikat dinilai mengancam target net zero. Proyek PLTG juga dipertanyakan ketahanannya terhadap krisis iklim.

Amerika Serikat tidak sendirian dalam tren ini. China, Vietnam, Brasil, dan Irak semuanya mengumumkan rencana pembangunan besar-besaran pembangkit listrik tenaga gas masa depan sepanjang tahun 2025.

Selain itu, Arab Saudi juga memimpin dunia dalam hal kapasitas pembangkit listrik tenaga gas yang saat ini tengah berada dalam tahap konstruksi.

Secara global, kapasitas pembangkit listrik bertenaga gas yang sedang dalam tahap pengembangan naik sebesar 31 persen pada tahun 2025, dengan total mencapai 1.047 GW.

Jika seluruh kapasitas yang direncanakan tersebut mulai beroperasi pada tahun 2026, tahun ini akan menjadi rekor baru bagi kapasitas tambahan terkini. Rekor sebelumnya tercipta pada tahun 2002.

Lebih lanjut, laporan ini juga mempertanyakan apakah infrastruktur pembangkit listrik tenaga gas yang di bangun di Amerika Serikat mampu bertahan menghadapi iklim yang semakin tidak menentu dan merusak.

Baca juga: Ekspansi Pembangkit Listrik Gas Dikhawatirkan Bikin Energi Terbarukan Jalan di Tempat

Badai Fern baru-baru ini mengakibatkan salju dan es yang melumpuhkan infrastruktur di lebih dari selusin negara bagian Amerika Serikat.

Badai ini dilaporkan telah menyebabkan kerugian ekonomi hingga 100 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 1.667,3 triliun) dan kerugian asuransi sebesar 15 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 251,6 triliun).

Bank of America memperingatkan bahwa peristiwa ini dapat menurunkan PDB (produk domestik bruto) kuartal pertama (Q1) Amerika Serikat hingga sebesar 1,5 persen.

Selama Badai, 15 GW pembangkit listrik berbahan bakar fosil mengalami kegagalan dan mati di seluruh Jaringan PJM, organisasi transmisi listrik regional terbesar di Amerika Serikat.

Jenny Martos, manajer proyek untuk Global Oil and Gas Plant Tracker mengungkapkan, Amerika Serikat sedang bertaruh dua kali lipat pada tenaga gas dengan mengorbankan transisi energi.

Sementara itu, ada risiko bahwa kapasitas tersebut dapat menghalangi komitmen target net zero.

Baca juga: AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau