Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump

Kompas.com, 9 Januari 2026, 13:17 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AFP

KOMPAS.com - Kepala Bidang Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Simon Stiell mengkritik keputusan Amerika Serikat (AS) yang menarik diri dari 66 organisasi internasional. Presiden AS, Donald Trump juga menghentikan pendanaan untuk berbagai organisasi di bawah PBB dan non-PBB.

Stiell menilai, langkah itu sebagai kesalahan besar yang hanya akan merugikan AS.

Baca juga: 

"Keputusan Trump hanya akan merugikan perekonomian AS, lapangan kerja, dan standar hidup. Ini adalah kesalahan besar yang akan membuat Amerika Serikat menjadi kurang aman dan kurang sejahtera,” kata Stiell, dilansir dari AFP, Jumat (9/1/2026).

Dalam Momerandum Presiden yang terbit Rabu (7/1/2026), Trump memerintahkan penarikan diri dari 66 organisasi serta perjanjian global, yang separuhnya berafiliasi dengan PBB.

Pasalnya, organisasi itu dianggap bertentangan dengan kepentingan Amerika Serikat.

Salah satu kebijakan yang paling disorot adalah pengunduran diri sebagai anggota United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), landasan utama semua perjanjian iklim internasional.

Executive Secretary of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Simon Stiell,  bersama Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, Sabtu (26/7/2025). KOMPAS.com/ZINTAN PRIHATINI Executive Secretary of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Simon Stiell, bersama Ketua FPCI, Dino Patti Djalal, Sabtu (26/7/2025).

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pun menyesalkan keputusan AS untuk menarik diri dari berbagai badan internasional, tanpa menyebut satu organisasi tertentu.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki tanggung jawab untuk memberikan hasil bagi mereka yang bergantung pada kami, dan kami akan terus menjalankan mandat kami dengan tekad,” ucap Guterres.

Dia lantas mengingatkan negara-negara anggota tentang kewajiban hukum mereka mendanai PBB.

Baca juga:

Trump cabut AS dari organisasi internasional, PBB dan non-PBB

Dinilai mengisolasi negara sendiri

Langkah Donald Trump menarik Amerika Serikat dari organisasi internasional, termasuk UNFCCC, menuai kritik berbagai pihak, termasuk PBB. Unsplash/Sarah Brown Langkah Donald Trump menarik Amerika Serikat dari organisasi internasional, termasuk UNFCCC, menuai kritik berbagai pihak, termasuk PBB.

Di sisi lain, Jake Schmidt dari Natural Resources Defense Council mewanti-wanti keputusan Trump bakal mengisolasi negaranya sendiri panggung global.

“Sangat penting Amerika Serikat menjadi peserta dan secara aktif berupaya mengurangi perubahan iklim. Ini (Amerika) adalah ekonomi terbesar di dunia, sekaligus pengemisi historis terbesar,” sebut Schmidt.

Langkah tersebut bakal mencatatkan AS sebagai negara pertama dari 198 anggota yang keluar dari perjanjian iklim global.

Sebagai informasi, UNFCCC merupakan perjanjian yang diadopsi pada tahun 1992, sebuah bentukkerja sama antar-negara untuk memangkas emisi gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Setiap anggota juga berkomitmen beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

Konstitusi AS mengizinkan presiden untuk membuat perjanjian dengan syarat dua pertiga senator yang hadir menyetujuinya, tapi tidak secara jelas mengatur proses penarikan diri dari perjanjian.

Hal ini menjadi ambiguitas hukum yang berpotensi memicu gugatan di pengadilan.

Baca juga: IESR Sebut Impor Minyak Indonesia Tak Terdampak Konflik AS-Venezuela

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau