Mengukur secara tepat berapa gas GRK yang dilepaskan lahan gambut cukup sulit. Dengan perubahan curah hujan di berbagai wilayah dan musim, permukaan air tanah berfluktuasi, yang menyebabkan variasi emisi GRK.
Untuk mengatasi hal ini, para peneliti mengembangkan metode baru dengan memetakan permukaan air tanah di lahan gambut dan memperkirakan emisi GRK yang terkait.
Studi yang diterbitkan di AGU Advances ini mempelajari lahan gambut yang meliputi sekitar 180.000 kilometer persegi di Asia Tenggara.
"Dengan menggunakan data satelit dari Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA), kami pertama-tama melacak variasi curah hujan di seluruh wilayah tersebut dan kemudian menggunakan informasi ini untuk memetakan permukaan air tanah," ucapnya.
Dengan menggabungkannya dengan pengamatan langsung terhadap kadar CO2 dan metana dari 11 lokasi pemantauan, para peneliti dapat membuat peta emisi bulanan.
Peta tersebut menunjukkan berapa banyak CO2 dan metana yang dilepaskan ke atmosfer dari lahan gambut, dengan menangkap perbedaan di berbagai lokasi dan musim.
Baca juga: Demi NZE 2060, RI Tak Boleh Korbankan Hutan dan Gambut untuk Transisi Energi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya