KOMPAS.com - Lahan gambut di Indonesia, Malaysia, dan wilayah Asia Tenggara lainnya melepaskan lebih banyak emisi gas rumah kaca (GRK) daripada menyerapnya, menurut studi terbaru.
Bahkan, dalam keadaan alami yang tergenang air, hutan rawa gambut berkontribusi terhadap krisis iklim, dengan melepaskan lebih banyak emisi GRK, seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4), daripada sebaliknya.
Baca juga:
"Lahan gambut tropis telah diakui sebagai sumber emisi karbon yang signifikan, dan emisi ini telah diperkirakan untuk wilayah tersebut menggunakan laju dekomposisi gambut yang konstan untuk setiap penggunaan lahan," tulis para peneliti, dilansir dari AGU Advances, Jumat (31/1/2026).
Studi dari Universitas Hokkaido dengan metode baru di Sumatera, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya pada periode tahun 2011-2020 itu membantah perkiraan sebelumnya.
Hal ini diperparah intervensi manusia dan krisis iklim yang meningkatkan emisi GRK yang dilepaskan lahan gambut.
Berdasarkan data dari studi selama satu dekade, emisi GRK hampir berlipat ganda dengan hanya mengeringkan hutan rawa gambut.
Bahkan, jika mengubahnya menjadi lahan pertanian, bisa menghasilkan emisi GRK lebih dari enam kali lipat.
Emisi GRK dari lahan gambut di wilayah penelitian Asia Tenggara setara dengan sekitar 30 persen dari emisi tahunan Jepang, dikutip dari Phys.org.
Krisis iklim semakin memperparah permasalahan, dengan kekeringan yang dipicu El Niño meningkatkan emisi GRK lebih jauh lagi.
Dampaknya, produksi emisi GRK secara tahunan di seluruh lahan gambut di wilayah penelitian Asia Tenggara ini meningkat sekitar 16 persen.
Baca juga:
Lanskap di tengah hutan desa rawa gambut di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Senin (27/10/2025). Lahan gambut di Asia Tenggara melepas lebih banyak emisi gas rumah kaca, bahkan saat masih tergenang air.Ke depannya, model iklim memprediksi, curah hujan di wilayah penelitian Asia Tenggara ini akan meningkat pada pertengahan abad ke-21.
Kenaikan curah hujan dapat meningkatkan permukaan air tanah, yang di lahan gambut dapat memperlambat dekomposisi gambut dan mengurangi emisi GRK dalam kondisi tertentu.
Meski hanya mencakup sekitar tiga persen dari permukaan daratan bumi, PBB menyebut, lahan gambut menyimpan karbon lebih dari dua kali lipat dibandingkan gabungan seluruh hutan di dunia.
Maka dari itu, pengelolaan ekosistem gambut dan pola hujan yang berkembang akan menentukan dampaknya terhadap sistem iklim global masa depan.
Baca juga: Usai BRGM Dibubarkan, 26.000 Hektar Gambut Terbakar, Siapa Kini yang Bertanggung Jawab?
Lahan gambut telah terbentuk selama ribuan tahun ketika tanaman tumbuh di hutan rawa gambut tropis yang lebat, kemudian mati dan perlahan membusuk dalam kondisi tergenang air maupun rendah oksigen.
Imbasnya, banyak karbon tersimpan di dalam tanah daripada dilepaskan ke atmosfer.
Curah hujan yang tinggi membuat lanskap ini tergenang air hampir sepanjang tahun, memungkinkan lapisan vegetasi mati menumpuk dan secara bertahap terkompresi menjadi gambut padat yang kaya karbon.
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak lahan gambut di wilayah penelitian Asia Tenggara ini telah dikeringkan dan diubah menjadi lahan pertanian.
"Pengeringan lahan gambut ini menurunkan permukaan air tanah sehingga gambut yang kaya karbon terpapar udara. Hal ini mempercepat dekomposisi gambut dan melepaskan CO2 ke atmosfer tetapi mengurangi emisi metana. Lahan gambut tropis telah menarik perhatian sebagai sumber emisi CO2 yang signifikan, tapi masih banyak ketidakpastian,"ujar penulis utama, Profesor Takashi Hirano dari Fakultas Penelitian Pertanian di Universitas Hokkaido.
Lahan gambut di Asia Tenggara melepas lebih banyak emisi gas rumah kaca, bahkan saat masih tergenang air.Mengukur secara tepat berapa gas GRK yang dilepaskan lahan gambut cukup sulit. Dengan perubahan curah hujan di berbagai wilayah dan musim, permukaan air tanah berfluktuasi, yang menyebabkan variasi emisi GRK.
Untuk mengatasi hal ini, para peneliti mengembangkan metode baru dengan memetakan permukaan air tanah di lahan gambut dan memperkirakan emisi GRK yang terkait.
Studi yang diterbitkan di AGU Advances ini mempelajari lahan gambut yang meliputi sekitar 180.000 kilometer persegi di Asia Tenggara.
"Dengan menggunakan data satelit dari Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA), kami pertama-tama melacak variasi curah hujan di seluruh wilayah tersebut dan kemudian menggunakan informasi ini untuk memetakan permukaan air tanah," ucapnya.
Dengan menggabungkannya dengan pengamatan langsung terhadap kadar CO2 dan metana dari 11 lokasi pemantauan, para peneliti dapat membuat peta emisi bulanan.
Peta tersebut menunjukkan berapa banyak CO2 dan metana yang dilepaskan ke atmosfer dari lahan gambut, dengan menangkap perbedaan di berbagai lokasi dan musim.
Baca juga: Demi NZE 2060, RI Tak Boleh Korbankan Hutan dan Gambut untuk Transisi Energi
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya