Penelitian ini berfokus pada ruminansia kecil, seperti domba, yang mulai berkembang pesat di Indonesia dan memiliki ketahanan terhadap penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku).
Pemberikan pakan dari olahan bungkil nyamplung pada ruminansia kecil memiliki efek yang bagus pada kadar tertentu.
Di sisi lain, ada risiko turunnya performa jika pakan dari olahan bungkil nyamplung diberikan ternak yang monogastrik, seperti ayam.
Pakan dari olahan bungkil nyamplung memilik kandungan protein kasar sekitar 20 persen, yang membuatnya belum direkomendasikan untuk unggas. Pemberian pakan dari bungkil nyamplung untuk ternak-ternak monogastrik, termasuk unggas, membutuhkan pengolahan lebih lanjut.
Apalagi, pakan dari bungkil nyamplung memiliki kelemahan dari aspek palatabilitas atau derajat penerimaan ternak ruminansia dengan indra perasa cukup yang lengkap.
Oleh karena itu, pakan dari bungkil nyamplung perlu diolah dalam bentuk konsentrat terlebih dahulu untuk memenuhi aspek palatabilitas dari ternak ruminansia.
"Ini juga kita aplikasikan menggunakan berbagai macam enzim supaya bungkil nyamplung itu nanti bisa masuk ke industri perunggasan, yang di Indonesia sangat besar. Ruminansia kalah jauh dari unggas, sehingga kalau masuk ke sana, itu akan sangat membantu mereka untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan sumber protein impor," jelas Dimas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya