KOMPAS.com - Sebuah studi mengklasifikasikan 'kotor' atau 'sangat kotor' terhadap hampir separuh (46 persen) lingkungan perairan di dunia.
Kesimpulan tersebut berdasarkan studi yang dikumpulkan dari data 6.049 catatan kontaminasi sampah di lingkungan akuatik di seluruh benua selama satu dekade terakhir.
Studi yang dikoordinasikan oleh peneliti Ítalo Braga de Castro dan dipimpin oleh mahasiswa doktoral Victor Vasques Ribeiro dari Institut Ilmu Kelautan di Universitas Federal São Paulo (IMar-UNIFESP) di Brasil, menganalisis artikel yang diterbitkan antara tahun 2013 dan 2023.
Melansir Phys, Jumat (6/2/2026) para peneliti menghitung tingkat kebersihan sungai, muara, pantai, dan hutan bakau berdasarkan Indeks Pantai Bersih (CCI), metrik internasional yang mengukur kepadatan limbah padat di lingkungan pesisir.
Hasilnya dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials.
Baca juga: Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Peneliti awalnya mengira jenis sampah akan berbeda tiap negara. Namun ternyata jenis sampah sama saja di mana pun lokasinya.
Ringkasan global tim tersebut menunjukkan keseragaman yang mengejutkan dalam komposisi sampah, tanpa memandang perbedaan budaya, ekonomi, maupun geografis. Plastik dan puntung rokok menyumbang hampir 80 persen dari sampah yang ditemukan di seluruh dunia.
"Tempat yang benar-benar bebas dari sampah sangatlah langka," komentar peneliti tersebut.
Plastik menyumbang 68 persen dari barang-barang yang tercatat. Mereka mendominasi karena sifatnya yang bertahan lama di lingkungan, pecah menjadi mikro dan nanoplastik, serta terbawa oleh arus laut dalam jarak yang sangat jauh.
Puntung rokok menyumbang 11 persen dari sampah dan melepaskan lebih dari 150 zat beracun yang dapat membahayakan organisme akuatik.
Studi ini juga mengkonfirmasi bahwa kawasan lindung masih cukup terlindungi.
"Kami menganalisis 445 kawasan lindung di 52 negara. Kesimpulannya jelas: perlindungan mengurangi kontaminasi hingga tujuh kali lipat," kata Danilo Freitas Rangel, seorang mahasiswa magister di IMar-UNIFESP yang berpartisipasi dalam tim peneliti.
Sekitar setengah dari kawasan lindung yang diteliti diklasifikasikan sebagai 'bersih' atau 'sangat bersih.' Meskipun demikian, perlindungan bukanlah jaminan kekebalan dari peningkatan tekanan manusia.
Sekitar 31 persen kawasan lindung diklasifikasikan sebagai 'kotor' atau 'sangat kotor,' menunjukkan bahwa kawasan tersebut tidak secara efektif kebal terhadap kontaminasi oleh sampah di laut.
Salah satu hasil yang lebih mutakhir dari studi ini adalah 'efek tepi' (edge effect) yang terpantau di perbatasan unit-unit konservasi.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya