Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah

Kompas.com, 7 Februari 2026, 21:27 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sebuah studi mengklasifikasikan 'kotor' atau 'sangat kotor' terhadap hampir separuh (46 persen) lingkungan perairan di dunia.

Kesimpulan tersebut berdasarkan studi yang dikumpulkan dari data 6.049 catatan kontaminasi sampah di lingkungan akuatik di seluruh benua selama satu dekade terakhir.

Studi yang dikoordinasikan oleh peneliti Ítalo Braga de Castro dan dipimpin oleh mahasiswa doktoral Victor Vasques Ribeiro dari Institut Ilmu Kelautan di Universitas Federal São Paulo (IMar-UNIFESP) di Brasil, menganalisis artikel yang diterbitkan antara tahun 2013 dan 2023.

Melansir Phys, Jumat (6/2/2026) para peneliti menghitung tingkat kebersihan sungai, muara, pantai, dan hutan bakau berdasarkan Indeks Pantai Bersih (CCI), metrik internasional yang mengukur kepadatan limbah padat di lingkungan pesisir.

Hasilnya dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials.

Baca juga: Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat

Sampah yang seragam

Peneliti awalnya mengira jenis sampah akan berbeda tiap negara. Namun ternyata jenis sampah sama saja di mana pun lokasinya.

Ringkasan global tim tersebut menunjukkan keseragaman yang mengejutkan dalam komposisi sampah, tanpa memandang perbedaan budaya, ekonomi, maupun geografis. Plastik dan puntung rokok menyumbang hampir 80 persen dari sampah yang ditemukan di seluruh dunia.

"Tempat yang benar-benar bebas dari sampah sangatlah langka," komentar peneliti tersebut.

Plastik menyumbang 68 persen dari barang-barang yang tercatat. Mereka mendominasi karena sifatnya yang bertahan lama di lingkungan, pecah menjadi mikro dan nanoplastik, serta terbawa oleh arus laut dalam jarak yang sangat jauh.

Puntung rokok menyumbang 11 persen dari sampah dan melepaskan lebih dari 150 zat beracun yang dapat membahayakan organisme akuatik.

Studi ini juga mengkonfirmasi bahwa kawasan lindung masih cukup terlindungi.

"Kami menganalisis 445 kawasan lindung di 52 negara. Kesimpulannya jelas: perlindungan mengurangi kontaminasi hingga tujuh kali lipat," kata Danilo Freitas Rangel, seorang mahasiswa magister di IMar-UNIFESP yang berpartisipasi dalam tim peneliti.

Sekitar setengah dari kawasan lindung yang diteliti diklasifikasikan sebagai 'bersih' atau 'sangat bersih.' Meskipun demikian, perlindungan bukanlah jaminan kekebalan dari peningkatan tekanan manusia.

Sekitar 31 persen kawasan lindung diklasifikasikan sebagai 'kotor' atau 'sangat kotor,' menunjukkan bahwa kawasan tersebut tidak secara efektif kebal terhadap kontaminasi oleh sampah di laut.

Salah satu hasil yang lebih mutakhir dari studi ini adalah 'efek tepi' (edge effect) yang terpantau di perbatasan unit-unit konservasi.

Tim peneliti menghitung jarak dari setiap titik pengambilan sampel ke batas-batas kawasan lindung dan mengidentifikasi sebuah pola. Sampah menumpuk terutama di area tepi atau perbatasan, yang menyoroti pengaruh langsung dari aktivitas manusia di sekitarnya.

Efek ini diperkuat oleh tekanan eksternal seperti pariwisata, urbanisasi di sekitarnya, serta pengangkutan sampah melalui sungai dan arus laut.

"Kerentanan wilayah tepian ini menunjukkan perlunya kebijakan zona penyangga teritorial, manajemen yang terintegrasi, dan penegakan aturan di luar batas resmi unit konservasi," tegas Castro.

Baca juga: Peneliti Sebut Perjanjian Plastik Global Mandek, tapi Masih Mungkin Dicapai

Tren sosial ekonomi dan dampak kebijakan

Studi ini juga membuat terobosan baru dengan melakukan silang data antara data kontaminasi dan indikator sosio-ekonomi global. Para peneliti menggunakan Global Gridded Relative Deprivation Index (GRDI) untuk mengestimasi tingkat pembangunan dalam skala per kilometer persegi.

Peneliti mengamati sebuah pola yang tidak linier. Di wilayah yang tak terlindungi, kontaminasi meningkat pada tahap awal pembangunan ekonomi namun mulai menurun ketika negara tersebut mencapai tingkat infrastruktur dan tata kelola lingkungan tertentu.

"Namun, di kawasan lindung pembangunan cenderung meningkatkan kontaminasi, sebuah tanda bahwa investasi dalam pengelolaan dan penegakan aturan belum sejalan dengan aktivitas ekonomi," kata Leonardo Lopes Costa, salah satu penulis studi tersebut.

Lebih lanjut, mengatasi kontaminasi limbah, terutama kontaminasi plastik, membutuhkan tindakan terintegrasi di seluruh rantai produksi. Mulai dari mengurangi produksi hingga menerapkan sistem pengumpulan dan penggunaan kembali yang efisien hingga menetapkan perjanjian multilateral yang mencegah pergerakan limbah lintas batas.

Tanpa perubahan struktural dalam tata kelola limbah global, krisis hanya akan memburuk.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau