Tim peneliti menghitung jarak dari setiap titik pengambilan sampel ke batas-batas kawasan lindung dan mengidentifikasi sebuah pola. Sampah menumpuk terutama di area tepi atau perbatasan, yang menyoroti pengaruh langsung dari aktivitas manusia di sekitarnya.
Efek ini diperkuat oleh tekanan eksternal seperti pariwisata, urbanisasi di sekitarnya, serta pengangkutan sampah melalui sungai dan arus laut.
"Kerentanan wilayah tepian ini menunjukkan perlunya kebijakan zona penyangga teritorial, manajemen yang terintegrasi, dan penegakan aturan di luar batas resmi unit konservasi," tegas Castro.
Baca juga: Peneliti Sebut Perjanjian Plastik Global Mandek, tapi Masih Mungkin Dicapai
Studi ini juga membuat terobosan baru dengan melakukan silang data antara data kontaminasi dan indikator sosio-ekonomi global. Para peneliti menggunakan Global Gridded Relative Deprivation Index (GRDI) untuk mengestimasi tingkat pembangunan dalam skala per kilometer persegi.
Peneliti mengamati sebuah pola yang tidak linier. Di wilayah yang tak terlindungi, kontaminasi meningkat pada tahap awal pembangunan ekonomi namun mulai menurun ketika negara tersebut mencapai tingkat infrastruktur dan tata kelola lingkungan tertentu.
"Namun, di kawasan lindung pembangunan cenderung meningkatkan kontaminasi, sebuah tanda bahwa investasi dalam pengelolaan dan penegakan aturan belum sejalan dengan aktivitas ekonomi," kata Leonardo Lopes Costa, salah satu penulis studi tersebut.
Lebih lanjut, mengatasi kontaminasi limbah, terutama kontaminasi plastik, membutuhkan tindakan terintegrasi di seluruh rantai produksi. Mulai dari mengurangi produksi hingga menerapkan sistem pengumpulan dan penggunaan kembali yang efisien hingga menetapkan perjanjian multilateral yang mencegah pergerakan limbah lintas batas.
Tanpa perubahan struktural dalam tata kelola limbah global, krisis hanya akan memburuk.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya