KOMPAS.com - Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati tanpa kepala di kawasan lindung Blok Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, Senin (2/2/2025). Petugas gabungan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan kepolisian masih menelusuri jaringan yang diduga terlibat dalam kasus itu.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan, Dwi Januanto mengatakan, hal ini merupakan bentuk komitmen negara dalam memastikan setiap kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi ditangani secara serius, menyeluruh, dan berkeadilan.
Baca juga:
"Kami tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi pelaku kejahatan satwa liar. Tim kami di lapangan saat ini sedang bekerja intensif untuk mengidentifikasi jaringan pemburu ini,” ungkap Dwi dalam keterangannya, Minggu (8/2/2026).
Seiring dengan proses penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Pelalawan dan Polda Riau, Gakkum Kehutanan fokus memburu aktor dan jaringan di balik peristiwa itu.
Hal itu termasuk kemungkinan keterkaitan dengan praktik perburuan satwa liar secara terorganisir.
Langkah ini dilakukan melalui pengumpulan dan pendalaman alat bukti, penelusuran informasi lapangan, serta koordinasi.
“Fokus kami bukan hanya pelaku di lapangan, tetapi hingga ke pemodal atau aktor intelektual di baliknya. Kejahatan terhadap satwa liar adalah kejahatan serius yang merusak ekosistem dan martabat bangsa," jelas dia.
Menurut Dwi, kematian gajah sumatera pertama kali dilaporkan PT RAPP ke Balai Besar Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau. Gajah itu tergeletak tak bernyawa di area konsensi perusahaan.
Berdasarkan keterangan awal di lapangan, Tim Penanggulangan Konflik Satwa Liar (TPKSL) Blok Ukui menemukan seekor gajah mati tanpa kepala dengan kondisi pembusukan lanjut.
Petugas kemudian melakukan nekropsi atau otopsi guna memastikan penyebab kematian secara medis dan ilmiah.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gajah berjenis kelamin jantan, diperkirakan berumur di atas 40 tahun, dan telah mati sekitar dua minggu sebelum ditemukan,” papar Dwi.
Baca juga:
Ilustrasi gajah liar. Gajah sumatera ditemukan mati tanpa kepala di Pelalawan, Riau. Kemenhut dan polisi memburu jaringan pemburu satwa liar yang diduga terlibat.Dari hasil bedah bangkai ditemukan cedera kepala berat sehingga secara medis diduga gajah mengalami trauma kepala akibat luka tembak. Temuan ini memperkuat dugaan adanya tindak kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi.
Kemenhut turut memeriksa keterangan PT RAPP, terkait kewajiban pemegang PBPH melindungi hutan maupun satwa liar di areal PBPH baik dalam bentuk koridor satwa maupun pengelolaan areal High Conservation Value (HCV).
Pemerintah menegaskan, setiap bentuk perburuan dan pembunuhan satwa liar yang dilindungi merupakan kejahatan serius, dan akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dukungan dan peran aktif seluruh pihak sangat diperlukan dalam menjaga kelestarian Gajah Sumatera sebagai bagian penting dari keberlanjutan ekosistem hutan Indonesia.
Baca juga:
Sebagai informasi, WWF Indonesia mencatat populasi gajah sumatera turun lebih dari 70 persen. Dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 55 gajah ditemukan mati yang sebagian besarnya karena konflik dengan manusia dan perburuan.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), gajah sumatera saat ini berstatus kritis (critically endangered). Populasinya kian berkurang akibat peruburuan, alih fungsi lahan, fragmentasi, hingga konflik antara gajah dengan manusia.
Di indonesia, setidaknya ada tiga tempat konservasi gajah antara lain Taman Nasional Way Kambas (Lampung), Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh–Sumatra Utara), dan Taman Nasional Tesso Nilo (Riau). Pemerintah juga membentuk Pusat Latihan Gajah (PLG) untuk rehabilitasi dan edukasi gajah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya