Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Burung Albatros dari Galapagos Muncul di California, Terbang 4.800 Km Jauh dari Habitatnya

Kompas.com, 3 Februari 2026, 10:43 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber AP

KOMPAS.com - Seekor burung albatros bergelombang untuk kedua kalinya tampak dari kapal penelitian di lepas pantai California tengah, Amerika Serikat (AS).

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana spesies yang berkembang biak di Kepulauan Galapagos, Ekuador, berani menjelajah sejauh itu ke utara.

Baca juga:

Berdasarkan temuan tersebut, burung albatros terbang di atas lautan sekitar 3.000 mil (sekitar 4.800 kilometer) dari rumahnya di Kepulauan Galapagos.

"Burung dewasa itu tampaknya tidak terburu-buru untuk kembali ke selatan. Aku bahkan tak percaya dengan apa yang kulihat. Aku masih syok," ujar ilmuwan kontrak di Farallon Institute dan sarjana pascadoktoral di University of California, San Diego, Scripps Institution of Oceanograph, Tammy Russel, dilansir dari AP, Senin (2/2/2026).

Burung albatros terbang jauh ke AS dari Galapagos, kok bisa?

Antara terjebak badai atau punya jiwa petualang

Seekor burung albatros bergelombang terlihat di California. Spesies terancam punah ini terbang ribuan kilometer dari Galapagos. Apa penyeDok. Wikimedia Commons/JJ Harrison Seekor burung albatros bergelombang terlihat di California. Spesies terancam punah ini terbang ribuan kilometer dari Galapagos. Apa penye

Russel mencatat bahwa burung berparuh kuning dengan mata kancing hitam yang sama tampaknya terlihat pada bulan Oktober 2025 lalu di lepas pantai California Utara.

Menurut dia, hampir tidak mungkin untuk menentukan mengapa burung rentang sayap delapan kaki (sekitar 2,4 meter) itu bisa sampai sejauh ini.

Russel menduga burung yang menghabiskan sebagian besar hidupnya terbang di atas lautan itu terbawa ke utara oleh badai.

Ada dugaan lain terkait beberapa burung memiliki jiwa petualang dan pergi lebih jauh daripada spesies yang lain.

“Kemungkinan besar ia tidak berkembang biak musim lalu karena burung dewasa bertelur di musim semi dan anak-anak burung meninggalkan sarang pada bulan Januari. Mungkin ia berkelana selama masa istirahatnya dan akan segera kembali ke Galapagos untuk bersatu kembali dengan pasangannya untuk musim berikutnya?" tutur Russel.

Ahli ornitologi kelautan itu menganggap penampakan burung albatros bergelombang sangat istimewa, mengingat berapa lama hewan itu bertahan atau apakah akan kembali lagi masih misteri.

Baca juga:

Albatros bisa terbang jauh untuk cari makan

Seekor burung albatros bergelombang terlihat di California. Spesies terancam punah ini terbang ribuan kilometer dari Galapagos. Apa penyeDok. Wikimedia Commons/E bailey Seekor burung albatros bergelombang terlihat di California. Spesies terancam punah ini terbang ribuan kilometer dari Galapagos. Apa penye

Pemimpin proyek eBird di Laboratorium Ornitologi Universitas Cornell, Marshall Iliff mengatakan, burung laut seperti albatros dapat menempuh jarak yang jauh untuk mencari makanan.

Bahkan, ada sejumlah individu yang kemungkinan secara rutin muncul jauh dari rumahnya.

"Bahkan (terbang) di belahan bumi yang salah atau dalam kasus luar biasa di samudera yang salah. Kekurangan makanan dapat mendorong burung untuk berkeliaran, tapi seekor burung juga bisa jadi kecelakaan yang tidak disengaja. Saat ini belum ada bukti bahwa ini bukan kecelakaan," jelas Iliff.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau