KOMPAS.com - Studi terbaru menunjukkan bahwa memperhatikan kicau burung saat berada di ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan menurunkan tingkat stres.
Bahkan, manfaat tersebut dapat dirasakan hanya dengan berjalan kaki sambil menyadari suara burung di sekitar, tanpa perlu kehadiran burung langka atau lingkungan yang sepenuhnya alami.
Studi ini dilaporkan The Guardian dan dilakukan oleh University of Tübingen di Jerman. Penelitian dipimpin oleh Christoph Randler yang ingin mengetahui apakah perasaan nyaman saat mendengar kicau burung juga tercermin dalam perubahan fisiologis yang dapat diukur.
Baca juga: Migrasi Burung Rusia dan China ke Jawa Timur Bisa Terancam Dampak Krisis Iklim
Dalam penelitian tersebut, para peneliti memasang pengeras suara di sebuah taman dan memutar kicau burung langka. Relawan kemudian diminta berjalan kaki selama 10 menit, dengan kondisi berbeda-beda.
Sebagian mendengar kicau burung tambahan dari pengeras suara, sebagian hanya mendengar kicau burung alami, sementara kelompok lainnya mengenakan headphone peredam bising dan tidak mendengar suara burung sama sekali. Separuh peserta juga diminta untuk secara sadar memperhatikan suara yang mereka dengar.
Sebelum dan sesudah berjalan, para peneliti mengukur tekanan darah, detak jantung, serta kadar kortisol—hormon yang menjadi penanda stres. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh kelompok mengalami penurunan tekanan darah, detak jantung, dan kadar kortisol, termasuk peserta yang tidak mendengar kicau burung sama sekali.
Penambahan kicau burung langka melalui pengeras suara tidak memberikan penurunan stres yang lebih besar dibandingkan kicau burung alami.
Namun, perhatian sadar terhadap suara burung terbukti berperan dalam membantu menurunkan tingkat stres, bersama dengan aktivitas berjalan kaki itu sendiri.
Temuan tersebut sejalan dengan studi lain berjudul The relationship between perception and landscape characteristics of recreational places with human mental well-being yang diterbitkan dalam jurnal Landscape and Urban Planning.
Studi ini menunjukkan bahwa kesejahteraan mental tidak semata-mata bergantung pada keanekaragaman burung yang sebenarnya atau tipe habitat tertentu, melainkan pada keanekaragaman burung yang dirasakan oleh pengunjung.
Persepsi terhadap kealamian suatu kawasan terbukti berdampak positif pada seluruh indikator kesejahteraan mental. Sebaliknya, infrastruktur dan elemen buatan manusia cenderung dipersepsikan negatif.
Baca juga: Burung Albatros dari Galapagos Muncul di California, Terbang 4.800 Km Jauh dari Habitatnya
Peserta yang memiliki persepsi lebih positif terhadap burung juga menunjukkan tingkat kesejahteraan mental yang lebih baik, kemungkinan karena meningkatnya rasa keterhubungan dengan alam.
Para peneliti menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan manfaat kesehatan mental di area rekreasi, persepsi tentang kealamian dan keanekaragaman burung perlu diperkuat.
Persepsi tersebut tidak selalu harus dibangun melalui pengalaman langsung di lapangan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh visual, seperti gambar atau representasi alam.
Meski demikian, peneliti mencatat sejumlah keterbatasan. Studi ini dilakukan di wilayah yang relatif kecil di Jerman barat daya, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi ke wilayah lain dengan kondisi ekologi dan budaya berbeda.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana faktor persepsi dan konteks lokal memengaruhi manfaat kesehatan mental dari interaksi manusia dengan alam.
Para peneliti menilai temuan ini memiliki implikasi penting bagi perencanaan ruang terbuka hijau, khususnya di kawasan perkotaan.
Area dengan dampak aktivitas manusia yang lebih rendah dan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi dinilai tidak hanya penting bagi konservasi alam, tetapi juga bagi kesehatan mental masyarakat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya