Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Mendengar Kicau Burung Bisa Turunkan Stres dan Tingkatkan Kesejahteraan Mental

Kompas.com, 5 Februari 2026, 17:36 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com - Studi terbaru menunjukkan bahwa memperhatikan kicau burung saat berada di ruang terbuka hijau dapat meningkatkan kesejahteraan mental dan menurunkan tingkat stres.

Bahkan, manfaat tersebut dapat dirasakan hanya dengan berjalan kaki sambil menyadari suara burung di sekitar, tanpa perlu kehadiran burung langka atau lingkungan yang sepenuhnya alami.

Studi ini dilaporkan The Guardian dan dilakukan oleh University of Tübingen di Jerman. Penelitian dipimpin oleh Christoph Randler yang ingin mengetahui apakah perasaan nyaman saat mendengar kicau burung juga tercermin dalam perubahan fisiologis yang dapat diukur.

Baca juga: Migrasi Burung Rusia dan China ke Jawa Timur Bisa Terancam Dampak Krisis Iklim

Dalam penelitian tersebut, para peneliti memasang pengeras suara di sebuah taman dan memutar kicau burung langka. Relawan kemudian diminta berjalan kaki selama 10 menit, dengan kondisi berbeda-beda.

Sebagian mendengar kicau burung tambahan dari pengeras suara, sebagian hanya mendengar kicau burung alami, sementara kelompok lainnya mengenakan headphone peredam bising dan tidak mendengar suara burung sama sekali. Separuh peserta juga diminta untuk secara sadar memperhatikan suara yang mereka dengar.

Sebelum dan sesudah berjalan, para peneliti mengukur tekanan darah, detak jantung, serta kadar kortisol—hormon yang menjadi penanda stres. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh kelompok mengalami penurunan tekanan darah, detak jantung, dan kadar kortisol, termasuk peserta yang tidak mendengar kicau burung sama sekali.

Penambahan kicau burung langka melalui pengeras suara tidak memberikan penurunan stres yang lebih besar dibandingkan kicau burung alami.

Namun, perhatian sadar terhadap suara burung terbukti berperan dalam membantu menurunkan tingkat stres, bersama dengan aktivitas berjalan kaki itu sendiri.

Temuan tersebut sejalan dengan studi lain berjudul The relationship between perception and landscape characteristics of recreational places with human mental well-being yang diterbitkan dalam jurnal Landscape and Urban Planning.

Studi ini menunjukkan bahwa kesejahteraan mental tidak semata-mata bergantung pada keanekaragaman burung yang sebenarnya atau tipe habitat tertentu, melainkan pada keanekaragaman burung yang dirasakan oleh pengunjung.

Persepsi terhadap kealamian suatu kawasan terbukti berdampak positif pada seluruh indikator kesejahteraan mental. Sebaliknya, infrastruktur dan elemen buatan manusia cenderung dipersepsikan negatif.

Baca juga: Burung Albatros dari Galapagos Muncul di California, Terbang 4.800 Km Jauh dari Habitatnya

Peserta yang memiliki persepsi lebih positif terhadap burung juga menunjukkan tingkat kesejahteraan mental yang lebih baik, kemungkinan karena meningkatnya rasa keterhubungan dengan alam.

Para peneliti menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan manfaat kesehatan mental di area rekreasi, persepsi tentang kealamian dan keanekaragaman burung perlu diperkuat.

Persepsi tersebut tidak selalu harus dibangun melalui pengalaman langsung di lapangan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh visual, seperti gambar atau representasi alam.

Meski demikian, peneliti mencatat sejumlah keterbatasan. Studi ini dilakukan di wilayah yang relatif kecil di Jerman barat daya, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi ke wilayah lain dengan kondisi ekologi dan budaya berbeda.

Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana faktor persepsi dan konteks lokal memengaruhi manfaat kesehatan mental dari interaksi manusia dengan alam.

Para peneliti menilai temuan ini memiliki implikasi penting bagi perencanaan ruang terbuka hijau, khususnya di kawasan perkotaan.

Area dengan dampak aktivitas manusia yang lebih rendah dan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi dinilai tidak hanya penting bagi konservasi alam, tetapi juga bagi kesehatan mental masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Pemerintah
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau